Bolehkah Menjamak Shalat Maghrib dan Isya di Musim Panas?

Kawans,

Ada tulisan yang menarik dari kawan PPMR kita yang dimuat dalam situs http://muslim.or.id/. Ini merupakan masalah yang menarik bagi kita yang tinggal di belahan bumi yang notabene memiliki waktu yang “tidak teratur” atau tepatnya dimana siang dan malam tidak terbagi dalam 12 jam. Berikut artikel tersebut:

Sekarang ini di negara-negara Eropa mulai memasuki musim panas. Pada saat musim panas, siang hari menjadi lebih panjang, dan malam hari menjadi lebih pendek. Konsekuensinya, waktu masuk shalat maghrib, isya dan subuh menjadi berdekatan. Pada saat tulisan ini disusun, waktu shalat maghrib di kota Rotterdam, Belanda kurang lebih pukul 21.18 CET (Central European Time); waktu shalat isya’ sekitar pukul 23.44 CET; dan waktu shalat subuh sekitar pukul 03.20 CET. Dan setiap harinya, waktu maghrib dan isya akan semakin malam dan waktu subuh akan semakin lebih pagi. Pada puncak musim panas, waktu maghrib baru tiba pukul 22.00 CET (atau bahkan lebih) dan waktu isya sekitar pukul 24.00 CET. Sedangkan waktu subuh menjadi lebih pagi sekitar pukul 03.00 CET.

Akibat dari perubahan waktu tersebut, kaum muslimin di negeri-negeri Eropa terkadang merasa berat untuk menunggu sampai waktu shalat isya tiba. Apalagi jika sudah seharian bekerja, maka rasa kantuk dan lelah menjadi tidak tertahankan, apalagi harus bangun lebih pagi untuk melaksanakan shalat subuh. Oleh karena itu, sebagian masjid menggabungkan pelaksanaan (men-jama’) shalat maghrib dan shalat isya’ di waktu maghrib. Bolehkah men-jamak shalat dalam kondisi seperti ini?

Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaiminrahimahullah

Permasalahan seperti ini pernah ditanyakan kepada Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah.

السؤال: لدينا في المانيا يتأخر وقت صلاة العشاء الى منتصف الليل أي في الساعة الثانية عشرة ليلاَ وبما أن دخول وقت صلاة الفجر الساعة الثالثة صباحاَ فهل يجوز جمع العشاء مع المغرب لهذا السبب اذا علمنا ان الناس يشق عليهم انتظار دخول وقت العشاء لارتباطهم بأعمالهم التي يجب أن يستيقظوا الها مبكرين.

Pertanyaan:

Kami tinggal di Jerman. Saat ini waktu shalat isya jatuh pada pertengahan malam, yaitu sekitar pukul 12 malam. Sedangkan waktu shalat subuh masuk pada pukul tiga pagi. Bolehkah menggabungkan (men-jamak) shalat maghrib dan isya’ karena sebab seperti ini? Karena kita tahu bahwa kaum muslimin di sana merasa berat untuk menunggu datangnya waktu isya’. Karena mereka memiliki tanggungan pekerjaan yang mengharuskan mereka bangun pagi-pagi.

Jawaban Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah:

لا حرج ان يجمع العشاء الى المغرب في مثل هذه الحال وذلك لمشقة انتظار وقت العشاء وقد ثبت في صحيح مسلم عن عبدالله بن عباس رضي الله عنهما ان النبي صلى الله عليه وعلى اله وسلم جمع بين الظهر والعصر وبين المغرب والعشاء في المدينه من غير خوف ولا مطر فسألوا ابن عباس: لماذا جمع؟ قال اراد ألا يحرج امته اي ألا يلحقلهاالحرج في ترك الجمع . واذا كان هؤلاء القوم يلحقهم الحرج فلا باس ان يجمعوا العشاء الى المغرب جمع تقديم , والظاهر لي حسب ما بلغني أن تأخر مغيب الشفق إلى منتصف الليل أو ما بعده ليس في كل السنة بل في بعض الفصول فقط.

Tidak masalah men-jamak shalat isya’ di waktu maghrib dalam kondisi semacam ini. Hal ini karena adanya kesulitan (masyaqqah) ketika menunggu waktu shalat isya’. Terdapat sebuah hadits di Shahih Muslim, dari sahabat ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah men-jamak antara shalat dzuhur dan ashar; shalat maghrib dan isya di kota Madinah, bukan karena ketakutan (khouf) dan bukan pula karena hujan. Para sahabat pun bertanya kepada Ibnu ‘Abbas,”Mengapa beliau menjamak?” Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, ”Beliau ingin supaya tidak memberatkan umatnya.” Maksudnya, beliau tidak ingin menyusahkan umatnya dikarenakan tidak menjamak.

Oleh karena itu, jika masyarakat mengalami kesulitan, maka tidak mengapa men-jamak antara shalat maghrib dan isya’ dalam bentuk jamak taqdim (dikerjakan pada waktu maghrib, pen.). Dan yang tampak bagi saya, sesuai dengan apa yang sampai kepadaku, bahwa berakhirnya syafaq (cahaya kemerahan di ufuk; ini adalah tanda masuknya waktu shalat isya, pen.) sampai pertengahan malam atau setelahnya, tidaklah terjadi di sepanjang tahun, melainkan hanya terjadi di beberapa musim saja. [1]

Semoga penjelasan singkat ini bermanfaat untuk kaum muslimin.

***

Selesai diterjemahkan menjelang maghrib, Sint-Jobskade Rotterdam NL, 18 Rajab 1436

Yang senantiasa membutuhkan rahmat dan ampunan Rabb-nya,

Penerjemah: M. Saifudin Hakim

Catatan kaki:

[1] Diterjemahkan dari:http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=102837

Disalin tanpa suntingan dari sumber

Life as (Real) Man

Manusia sebagai memiliki karakter yang unik sebagai makhluk yang lemah namun memiliki potensi yang sangat besar. Karena itu, manusia dijadikan sebagai khalifah dalam arti yang sangat luas sekaligus sebagai hamba. Untuk itu, penting bagi manusia untuk mengenal jauh eksistensi mereka di dunia. Sebagian besar manusia hanya mengenal diri mereka secara deskriptif. Padahal jauh di dalam, terdapat makna eksistensi manusia.

Allah sebagai pencipta memberikan kebebasan yang sebesar-besarnya kepada manusia, dan manusia dapat memilih sendiri jalan hidupnya (dan tentu saja beserta konsekuensinya). Allah juga memperkuat dengan jalan memberikan ujian-ujian bagi manusia.

Secara alamiah, manusia juga memiliki angan dan cita yang sangat besar sehingga melampaui batasannya. Dalam prosesnya, banyak gangguan-gangguan yang selalu menghinggapinya dan manusia tidak dapat mengelaknya. Inilah visi/misi/tujuan hidup yang akan mempengaruhi mansia dalam menentukan pilihan sikap hidup. Pertanyaan yang eksis dalam hal ini adalah untuk apa kita hidup dan bekerja? apa definisi sukses sejati? Wallahu ‘alam

Disadur dari pengajian rutin oleh Bpk. Siswanto Sambiroto tanggal 16 Mei 2016 di kediaman Sdr. Kevin
sumber

Ayo Jum’atan

Assalamualaikum Wr. Wb.

 

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ‌ اللَّـهِ وَذَرُ‌وا الْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ‌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli.  Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”  (QS Al-Jumu’ah 62:09)

 

 

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانتَشِرُ‌وا فِي الْأَرْ‌ضِ وَابْتَغُوا مِن فَضْلِ اللَّـهِ وَاذْكُرُ‌وا اللَّـهَ كَثِيرً‌ا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

 “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS Al-Jumu’ah 62:10)

 

JumatanBlogFileKecil

 

وَإِذَا رَ‌أَوْا تِجَارَ‌ةً أَوْ لَهْوًا انفَضُّوا إِلَيْهَا وَتَرَ‌كُوكَ قَائِمًا ۚ قُلْ مَا عِندَ اللَّـهِ خَيْرٌ‌ مِّنَ اللَّـهْوِ وَمِنَ التِّجَارَ‌ةِ ۚ وَاللَّـهُ خَيْرُ‌ الرَّ‌ازِقِينَ

“Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka segera untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu (Muhammad) yang sedang berdiri (berkhotbah).  Katakanlah: ‘Apa yang di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perniagaan’, dan Allah adalah sebaik-baik pemberi rezeki.”  (QS Al-Jumu’ah 62:11)

 

 

Wassalamualaikum Wr. Wb.

MW