Bonek dan Borgol Rasul

Mungkin sudah warisan genetik –kalau tak mau dibilang kutukan. Bondo nekat alias Bonek memang sudah cetakannya begitu. Nekat senekat-nekatnya. Sanksi degradasi nyatanya tak berpengaruh banyak. Yang sudah jadi perilaku sulit diubah dalam sekejap mata. Itu pula yang bikin beberapa orang jadi sewot setelah melihat tingkah mereka. Naik kereta di atap, ngamuk kalau tak diizinkan masuk stadion, bahkan merusak apa saja yang bisa dirusak.

 

Ah, mungkin kita sebaiknya bersyukur saja. Bersyukur bahwa rakyat negeri ini sudah sedemikian hebat sehingga kebutuhan mereka masuk dalam puncak piramid yang dibikin Abraham Maslow: self-actualization, aktualisasi diri. Kebutuhan kita pada yang satu itu sudah meletup-letup, mendesak-desak –yang kalau diibaratkan ketel air yang masak, bunyinya sudah melengking beroktaf-oktaf. Kita kepingin dilihat, diakui banyak orang, dan dianggap, bahkan oleh yang tak ada dan gaib sekalipun. Kebutuhan anggapan orang sudah menyebar dari rakyat paling miskin ke rakyat yang paling kaya. Yang kaya kepingin dianggap dan disuar-suarkan sebagai orang kaya dan punya harta melimpah sehingga apapun yang mereka inginkan harus dipenuhi. Bahkan, boleh jadi rela jadi sinterklas yang bagi-bagi uang saat perayaan maulid, idul fitri, idul adha atau natal, sekadar untuk bisa diciumi tangannya dan dikalungkan rasa terima kasih sambil menunggu ada yang bilang, “Wah, si anu kaya bueeennnner!” Yang miskin tak mau ketinggalan. Di mana ada orang kaya yang butuh pengakuan, mereka juga butuh pengakuan miskin biar jatahnya juga masuk lewat pintu depan rumah mereka. Yang kasihan memang yang sedang-sedang saja. Mengaku kaya tak bisa, mengaku miskin pun rasanya hina. Maka, mereka akan mengaku-aku yang lain –yang sederhana saja. Mengaku punya mobil baru, punya rumah baru, punya pekerjaan baru, atau punya istri baru.

 

Kalau mau ditarik pelajaran panjang, kita juga juga seharusnya berterima kasih pada bonek. Mereka yang mengajari kita betapa kecintaan mereka membuat mereka rela dimaki-maki orang lain, dibenci, bahkan ditahan atas nama hukum. Mana ada kecintaan yang sehebat itu? Yang membuat hati mereka ridho menjadi hina demi kesebelasan yang mereka cintai. Bandingkan dengan kecintaan kita yang sering mati listrik di tengah-tengah kebimbangan. Putus asa waktu ditimpa kesusahan dan mundur waktu dihadapkan pada rintangan. Kita jauh lebih picisan dari bonek. Kita mengaku-aku cinta, tapi tak berani berkorban, apalagi mengambil posisi terhina. Logika kita berputar-putar sambil berharap semoga image kita tak rusak gara-gara salah sebut. Kalau rusak, buru-buru gelar konferensi pers dan undang wartawan untuk bilang, “Maksud saya bukan begitu, tapi begini.”

 

Saya diprotes, “Bonek itu kadar cintanya kelewatan.” Salah siapa?

 

Kita seharusnya malu pada bonek. Mengaku cinta pada Rasul, tapi memborgol Rasul di mimbar masjid. Rasul baru diizinkan lepas borgol saat maulid. Ceritanya membahana, barzanji-nya mempesona. Nama Rasul memang kita sebut-sebut setiap hari, bahkan mungkin lebih banyak daripada menyebut nama kita sendiri. Tapi, setelah usai disebut, Rasul kita parkir lagi di area sajadah kita. Tidak kita bawa-bawa ke kamar, ke sekolah, ke tempat kerja. Rasul kita borgol saat kita belajar, mencari nafkah, diskusi politik, bicara pendidikan, bahkan urusan rumah tangga. Kalau saja Rasul kita lepaskan dan kita ajak masuk dalam jiwa kita ke manapun kita pergi; ke stadion, ke kampus, ke istana, ke dewan rakyat, ke pengadilan, ke mahkamah agung, ke sungai, ke laut, ke gunung, ke pantai, ke langit, ke bumi, ke kamar mandi, bahkan ke ranjang, bantal, dan guling, ceritanya pasti akan berbeda.

 

Tak ada manusia yang lebih amanah dari Rasul sehingga seharusnya berdagangnya kita mengikuti cara berdagang Rasul. Tak ada manusia yang lebih kokoh kepemimpinannya sehingga seharusnya kepemimpinan kita mengikuti kepemimpinan Rasul. Tak ada manusia yang punya visi pendidikan dan pengkaderan yang lebih canggih dari Rasul sehingga seharusnya visi kita setajam visi Rasul. Tak juga ada manusia yang lebih santun dan berkasihsayang dalam rumah tangga dari Rasul sehingga sudah sepatutnya rumah tangga kita sesantun dan seberkasihsayang rumah tangga Rasul. Bahkan, kalau perlu ajak Rasul menonton bola, bermain bola, berkendara di jalan, memarkir kendaraan di parkiran, berinternetan, dan ber-facebook-an.

 

Jangan biarkan Rasul terborgol di mimbar, apalagi di ujung keris dan hasil pertanian. Itu, kalau memang kita benar-benar cinta kepada Rasul. Atau kita memilih tetap memarkir diri untuk kalah pada bonek…?

 

Ahmad Fuady

Tentang aafuady

hanya ahmad fuady yang ingin berkisah tentang apa yang berkecamuk dalam dirinya. suka menolong orang sehingga ia disebut dokter, suka menulis sehingga ada yang menyebutnya penulis, suka mengajar dan ada yang memanggilnya dosen, suka meneliti maka dianggaplah ia peneliti, juga suka pada istri dan anaknya maka ia dipanggil Buya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s