Menggapai ke-khusyu’-an

Seringkali karena kebodohan kita, kita menyempitkan makna ibadah hanya sebatas pada amalan-amalan lahiriyah seperti sholat, zakat, bersedekah, atau naik haji. Sedikit sekali pengetahuan kita tentang adanya ibadah-ibadah hati yang juga dicintai oleh Allah Ta’ala. Seseorang pun bisa jatuh ke dalam perbuatan syirik karena dia tidak waspada dan lalai dalam mengawasi gerak-gerik hatinya, ke manakah hati itu condong. Oleh karena itu, dalam kesempatan kali ini kita akan membahas salah satu bentuk ibadah hati, yaitu khusyu’ kepada Allah.

Pujian Allah kepada Orang-Orang yang Khusyu’

            Allah Ta’ala berfirman yang artinya,”Sesungguhnya mereka itu senantiasa berlomba-lomba dalam mengerjakan kebaikan serta berdoa kepada kami dengan penuh raghbah dan sahbah. Sedangkan mereka selalu khusyu’ hanya kepada kami(QS. Al-Anbiya’ : 90). Di dalam ayat ini, Allah memuji hamba-hambaNya yang pilihan dari kalangan para Nabi dan Rasul yang Allah sebutkan dalam surat Al-Anbiya’. Karena mereka senantiasa berdoa kepada-Nya dengan diliputi perasaan raghbah, rahbah, dan khusyu’. Raghbah adalah bentuk khusus dari raja’ (berharap), yaitu mengharap memperoleh pahala di sisi-Nya. Sedangkan rahbah adalah bentuk khusus dari khouf  (rasa takut), yaitu rasa takut terhadap hukuman dan siksa dari Allah. Adapun yang dimaksud dengan khusyu’ adalah rasa tunduk dan merendahkan diri di hadapan keagungan Allah, sehingga dengannya seseorang pasrah kepada taqdir-Nya dan kepada syari’at-Nya.

            Pujian Allah kepada para Nabi dan Rasul yang khusyu’ kepada-Nya menunjukkan bahwa Allah mencintai perbuatan khusyu’ tersebut. Sedangkan setiap perbuatan yang Allah cintai termasuk dalam  ibadah yang hanya boleh ditujukan kepada Allah. Hal ini sebagaimana definisi ibadah yang disampaikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah yaitu,”Ibadah adalah sebuah istilah yang mencakup seluruh ucapan dan perbuatan yang dicintai Allah, baik yang bersifat lahir maupun batin. Contohnya khauf (rasa takut), khasy-yah (bentuk khusus dari khauf), tawakal, shalat, zakat, puasa, dan syariah Islam yang lain”. Oleh karena itu, apabila khusyu’ ini ditujukan kepada selain Allah, maka termasuk ke dalam kesyirikan.

Khusyu’-nya Hati, Pandangan, dan Suara

            Khusyu’ berkaitan dengan hati, pandangan, dan suara. Orang yang khusyu’ di hadapan Allah berarti merendahkan suaranya, menundukkan pandangannya, dan hatinya tunduk kepada syari’at Allah. Allah Ta’ala berfirman yang artinya,Apakah belum datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk hati mereka khusyu’ (tunduk)  mengingat Allah, dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka)” (QS. Al-Hadid : 16).

            Allah Ta’ala berfirman yang artinya,”Dalam keadaan mereka (orang-orang kafir) menundukkan pandangannya (serta) diliputi kehinaan. Itulah hari yang dahulunya diancamkan kepada mereka” (QS. Al-Ma’aarij : 44). Allah Ta’ala juga berfirman yang artinya,”Pada hari itu (hari kiamat) manusia mengikuti (menuju kepada suara) penyeru dengan tidak berbelok-belok. Dan merendahlah (khusyu’) semua suara kepada Dzat Yang Maha Pemurah. Maka kamu tidak mendengar kecuali bisikan saja” (QS. Thaha : 108).

Khusyu’-nya Kaum Musyrikin

            Marilah kita menyempatkan diri sejenak melihat keadaan orang-orang musyrik di sisi sesembahan mereka. Misalnya keadaan para penyembah kubur wali, raja, atau orang shalih lainnya yang sering kita jumpai menjadi satu kompleks dengan masjid. Kita akan mendapatkan mereka berada dalam ke-khusyu’-an, yang tidak mereka tunjukkan ketika berada di masjid Allah yang tidak ada kuburnya. Ketika berada di sisi kubur sesembahannya, mereka benar-benar merasa berharap (raghbah), takut dan cemas (rahbah), serta khusyu’, sampai-sampai tubuhnya tenang, diam tidak bergerak. Bernafas pun harus tenang tidak menimbulkan suara.  Inilah bentuk nyata ketundukan dan pengagungan hati mereka kepada sesembahannya yang batil itu. Semuanya itu tidaklah pantas ditujukan kepada siapa pun kecuali hanya kepada Allah semata.

            Padahal, yang mendapatkan pujian dan termasuk salah satu ciri orang yang beriman kepada Allah adalah seseorang yang khusyu’ ketika menghadap Allah Ta’ala dalam shalatnya. Allah Ta’ala berfirman yang artinya,”Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman. (Yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya(QS. Al-Mu’minuun : 1-2). Khusyu’ inilah yang merupakan ruh dan tujuan dari shalat. Adapun shalat yang tidak diserta rasa khusyu’ dan tidak menghadirkan hatinya, meskipun tetap mendapatkan pahala, namun pahalanya akan berkurang sesuai dengan kurangnya rasa khusyu’ dalam shalatnya. Semoga Allah menjadikan kita termasuk di antara hamba-hambaNya yang khusyu’.

Penulis: M. Saifudin Hakim

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Tentang aafuady

hanya ahmad fuady yang ingin berkisah tentang apa yang berkecamuk dalam dirinya. suka menolong orang sehingga ia disebut dokter, suka menulis sehingga ada yang menyebutnya penulis, suka mengajar dan ada yang memanggilnya dosen, suka meneliti maka dianggaplah ia peneliti, juga suka pada istri dan anaknya maka ia dipanggil Buya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s