Kisah Khadijah R.A. (Ummul-Mu’minin)

Assalamualaikum wr.wb.

Sepenggal tulisan saya ini adalah tulisan mengenai eksplorasi saya sebagai seorang wanita, istri dan ibu, yang mencari, menggali informasi dan pengetahuan mengenai siapa sebetulnya role model yang perlu saya contoh? Apa saja hak, kewajiban seorang wanita dan sikap apa yang sebaiknya kita utamakan? Tentu saja hal tersebut tertulis dalam ayat-ayat Al-Quran, salah satunya di surat An-Nisa. Tetapi, selain itu, dalam sejarah umat Islam, ada empat wanita yang merupakan wanita termulia sepanjang zaman. Berikut referensinya:

Yang sempurna dari kaum lelaki sangatlah banyak, tetapi yang sempurna dari kaum wanita hanyalah Maryam binti Imran, Asiyah binti Muzahim, Khadijah binti Khuwailid dan Fatimah binti Muhammad. Sedangkan keutamaan Aisyah atas seluruh wanita adalah seperti keutamaan tsarid (roti yang diremukkan dan direndam dalam kuah) atas segala makanan yang ada.” (HR Bukhari).

Cukuplah wanita-wanita ini sebagai panutan kalian. Yaitu Maryam binti Imran, Khadijah binti khuwailid, Fatimah binti Muhammad dan Asiyah binti muzahim, istri fir’aun.” (HR Ahmad dan Tirmidzi).

Belajar mengenai mengapa beliau-beliau tersebut dikategorikan sebagai wanita termulia menurut saya dalah hal yang sangat penting, karena tentu ada sesuatu yang “spesial” dan bisa kita contoh dan teladani. Tulisan ini saya fokuskan kepada Khadijah r.a., istri pertama Rasulullah Saw. dan mengulas singkat khususnya mengenai keutamaannya. Cerita mengenai Aisyah r.a. pernah saya ulas sedikit di sini. Semoga setelah ini, ada terusan tulisan untuk membahas cerita inspiratif lainnya dari wanita-wanita termulia sepanjang zaman.

Mengenal Khadijah binti Khuwailid

Khadijah r.a. lahir pada tahun 68 sebelum Hijrah. Hidup dan tumbuh serta berkembang dalam suasana keluarga yang terhormat dan terpandang, berakhlak mulia, terpuji, berkemauan tinggi, serta mempunyai akal yang suci, sehingga pada zaman jahiliyah diberi gelar “Ath-Thahirah”. Khadijah binti Khuwailid adalah sosok wanita yang mandiri, juga merupakan saudagar Mekah yang sukses.

Evernote Camera Roll 20131020 113104
Khadijah r.a. adalah wanita pertama di dunia yang memeluk agama islam, istri pertama yang turut menanggung berbagai penderitaan dan kesukaran Rasulullah Saw. Karena itulah malaikat Jibril a.s. menyampaikan salam ilahi kepadanya melalui Rasulullah saw. Dialah istri Rasulullah satu-satunya yang oleh beliau diberitahu akan menjadi penghuni surga dengan segala kesejahteraan dan kebahagiaan di dalamnya. Dia pula istri beliau satu-satunya yang wafat di Makkah dan disana juga jenazahnya dimakamkan.

Dan setiap apa yang dilakukannya mendapatkan balasan terbaik dari Rabbnya. Bersabda Rasulullah saw: “Wahai Khadijah, ini malaikat Jibril telah datang dan menyuruhku untuk menyampaikan salam dari Allah kepada-mu dan memberikan kabar gembira kepadamu dengan rumah yang terbuat dari kayu, tidak ada keributan dan rasa capai di dalamnya.” (HR Bukhari dan Muslim).

Pernikahan bahagia

Bagaimana sebenarnya cerita mengenai pernikahan Rasulullah saw dengan Khadijah r.a.?

Ketika itu Khadijah r.a. berusia 40 tahun, dan Nabi Muhammad berusia 25 tahun. Khadijah r.a. sempat merasa bimbang dan ragu atas perasaanya kepada Rasulullah saw., dikarenakan kekhawatiran kalau beliau tidak menyambut rasa cintanya tersebut. Namun, melalui sahabatnya yang bernama Nafisah, beliau mendapat jawaban dari keresahannya. Beberapa minggu setelahnya, Paman Muhammad saw., Abu Thalib dan Hamzah, datang memenuhi undangan Khadijah r.a. dan ketika itu pula setelah berbincang,

Abu Thalib berkata: “Muhammad adalah seorang pemuda yang tak ada tolak bandingnya di kalangan kaum Quraisy. Ia melebihi semua pemuda dalam hal kehormatan, kemuliaan, keutamaan dan kecerdasan. Meskipun ia bukan orang kaya, namun kekayaan itu dapat lenyap, karena setiap pinjaman (titipan) akan diminta kembali. Ia mempunyai keinginan terhadap Khadijah r.a., begitu pula sebaliknya”. Paman Khadijah r.a. yang dalam pertemuan itu bertindak sebagai wali menyahut dan membenarkan apa yang dikatakan oleh paman Muhammad saw tersebut, dan Ia berkata “Kunikahkan Khadijah dengan Muhammad atas dasar maskawin bernilai dua puluh bakrah.

Usai ijab kabul pernikahan diselenggarakan walimah dengan menyembelih beberapa ekor unta dan kambing, dihadiri oleh sahabat handai tolan kedua pengantin. Lima belas tahun setelah pernikahan tersebut, rumah tangga Muhammad saw. dan Khadijah r.a. sangat harmonis, tidak pernah terjadi soal-soal yang mengganggu pikiran dan perasaan kedua belah pihak. Nikmat kebahagiaan yang dikaruniakan oleh Allah SWT tersebut dimahkotai kelahiran dua orang putra dan empat orang putri, yaitu Al-Qasim, Abdullah, Zainab, Ruqqayah, Ummu Kaltsum dan Fathimah Az-Zahra. Suratan takdir yang telah dikehendaki Allah tidak terelakkan, betapa pedih karena dua orang putranya wafat dalam usia kanak-kanak.

Khadijah Bersama Nabi Muhammad Saw di malam Lailatul Qadar

Di tengah kehidupan rumah tangga yang bahagia itu terjadi peristiwa mahapenting bagi seluruh umat manusia, yaitu ketika Muhammad saw menerima wahyu illahi di malam Lailatul-qadr.

Ketika Nabi Muhammad sering berkhalwat (menyepi atau menjauhkan diri dari segala kesibukan) di gua Hira, beliau sering bermimpi dan ketika malam Lailatul-qadr, yaitu ketika turun wahyu ilahi yang pertama dibawakan kepada beliau oleh malaikat Jibril a.s. beliau sangat ketakutan. Dengan wajah pucat pasi, beliah pulang ke rumah dan menceritakan kepada Khadijah r.a. apa yang baru disaksikannya di gua Hira dan terus terang beliau menyatakan ketakutannya. Khadijah kemudian merangkul suaminya dan mendekapnya seraya berkata lembut menghibur:

Ya Abul-Qasim (panggilan untuk Rasulullah Saw), Allah melindungi kita, tenangkan dan mantapkan hati Anda! Demi Allah yang nyawaku berada di tanganNya, aku berharap Anda akan menjadi Nabi bagi umat ini! Allah sama sekali tidak akan menistakan Anda…Anda seorang yang menjaga baik hubungan silaturahmi, selalu berbicara benar, sanggup menhadapi kesukaran dan menolong orang-orang yang berada di atas kebenaran.”

suara lembut seorang istri yang penuh rasa keibuan ternyata meredakan ketakutan Muhammad saw dan lambat laun ketenangan beliau pulih kembali dan akhirnya tertidur pulas.

Lalu ketika Muhammad saw terbangun dan berbicara kepada Khadijah r.a. “Khadijah, habislah sudah waktu untuk tidur dan beristirahat. Malikat Jibril menyuruhku memberi peringatan kepada mansia dan mengajak mereka supaya bersembah sujud serta beribadah hanya kepada Allah. Siapa gerangan yang dapat kuajak dan siapa pula yang akan menerima ajakanku?”

Seketika itu pula Khadijah r.a. tanpa ragu-ragu menyatakan, dialah manusia pertama yang beriman kepada beliau. Betapa tenang dan tenteram pikiran beliau menyaksikan sambutan istrinya yang dengan semangat menyatakan keimanan kepada Allah dan mengakui serta membenarkan kenabian beliau.

Setelah itu, dalam melaksanakan perintah Ilahi yang bera dan penuh resiko itu, Khadijah r.a. tidak hanya mendukungnya, tetapi memperkuat, mendorong suaminya supaya terus maju dan tabah menghadapi berbagai macam gangguan, ejekan dan penghinaan. Selain itu, duka derita, haus dan lapar beliau etap menyertai suaminya, bahkan terus mendorong beliau agar tabah dan sabar menghadapi cobaan, demi kebenaran Allah. Beliau rela meninggalkan rumah kesayangan yang dihuninya sejak kanak-kanak, rela meninggalkan kaum kerabatnya sendiri, rela meninggalkan perniagaan yang mendatangkan banyak keuntungan dan rela mengorbankan harta kekayaannya.

Padahal ketika itu beliau sudah bukan wanita muda lagi, melainkan sudah berusia enam puluh tahun lebih. Beban usia lanjut, penderitaan dan penindasan kaum musyrikin Quraisy dihadapinya dengan gigih. Bersama Rasulullah dan kaum kerabatnya beliau tinggal di dalam syi”ib Abu Thalib selama kurang lebih tiga tahun karena adanya pemboikotan total dari kaum Quraisy dan pengusiran terhadap mereka. Kesukaran hidup dan penderitaan selama berada di dalam syi”ib sangat berpengaruh terhadap kondisi kesehatannya, terlebih lagi dalam hal makan minum sehari-hari beliau lebih mengutamakan makan suaminya daripada dirinya sendiri, sehingga akhirnya beliau wafat (pada tahun ke-3 sebelum Hijriah).

Rasulullah Saw bersabda:

Allah tidak memberi kepadaku pengganti istri yang lebih baik dari dia (Khadijah r.a.). Ia beriman kepadaku di kala semua orang mengingkari kenabianku. Ia membenarkan kenabianku di kala semua orang mendustakan diriku. Ia menyantuni diriku dengan hartanya di kala semua orang tidak mau menolongku. Melalui dia Allah menganugerahi anak kepadaku, tidak dari istri yang lain.” (Diketengahkan oleh Ibnu ‘Abdul-Birr di dalam Al-Isti’ab).

Karena Khadijah r.a. adalah sebaik-baik isteri yang dan mempunyai suri teladan yang baik bagi insan yang mau mengikutinya, lalu beliau juga telah menyediakan rumah yang nyaman dan tenteram untuk Nabi Muhammad SAW sebelum beliau diutus sebagai seorang Rasul, Khadijah juga diberi gelar ummul Mu’minin (ibu orang-orang mukmin).

Tulisah ini mungkan sangat singkat, atau terlalu singkat untuk sebenarnya menceritakan secara detail bagaimana keutamaan seorang Ummul Mukminin, karena itu apabila ada yang ingin ditambahkan atau dibetulkan, saya sangat terbuka dan mudah-mudahan dengan ini, kita selalu sama-sama belajar dan berusaha mengaplikasikannya dalam kehidupan kita.

Wassalamualaikum wr.wb.

Annisa Joviani Astari

 

Referensi:

“Rumah Tangga Nabi Muhammad Saw.” yang ditulis oleh H.M.H Al-Hamid Al-Hussaini (2009), Penerbit Pustaka Hidayah

Evernote Camera Roll 20131020 113154
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s