Belajar tepat waktu di negeri orang = belajar menghargai orang lain dan diri sendiri

download

Berangkat studi ke luar negeri, apalagi ke negeri yang menjanjikan segala hal yang serba “lebih” dari negeri sendiri tentu sangat menggembirakan. Terlebih ketika negara tujuan itu adalah Belanda, tentu yang dibayangkan adalah kesempatan mendapat pengalaman belajar dengan sistem pendidikan dan teknologi yang lebih maju, dan euphoria menjelajah daratan Eropa yang megah yang tidak semua orang di negeri kita punya kesempatan untuk itu.   Beberapa orang juga mungkin datang dengan euphoria tambahan sesuai dengan minatnya masing-masing, seperti kesempatan nonton kompetisi liga eropa, atau ingin napak tilas menelusuri jejak sejarah antara Belanda dengan Indonesia di masa lalu.

Terlepas dari semua euphoria itu, pada sebagian orang, atau yaa setidaknya pada diri saya sendiri, ada banyak hal lain yang bermunculan dalam benak saya tentang negeri ini (Belanda) yang bernada kekhawatiran, kecemasan, ketakutan, atau apapun lah itu namanya. Khawatir karena akan tinggal jauh terpisah dari keluarga dekat, sedih karena mungkin tidak akan bisa merasakan masakan kesukaan khas daerah sendiri dalam waktu yang cukup lama, takut akan kendala komunikasi dengan bahasa yang bahkan tidak digunakan sebagai bahasa ketiga kita sekalipun dalam keseharian kita di tanah air, dan juga cemas kalau-kalau ternyata kita datang dengan kemampuan yang tidak cukup kompetitif untuk studi di negeri yang lebih maju ini.

Buat saya pribadi, salah satu kecemasan lain yang muncul adalah tentang bagaimana saya harus menyesuaikan dengan budaya orang-orang setempat, di antaranya adalah tentang menepati waktu. Sebelum berangkat ke sini, saya sudah mendengar banyak testimoni tentang bagaimana ketatnya orang Belanda dalam hal menepati waktu dan betapa datang terlambat ke suatu acara atau janji itu adalah suatu hal yang memalukan.

Saya paham sih sebenarnya tidak peduli dari mana pun kita berasal, konsep menepati waktu adalah suatu “common sense” yang artinya tidak perlu diajari pun kita sudah tahu kalau acara mulai jam 13.00 artinya kita harus datang sesaat sebelum jam 13.00 atau setidaknya tepat jam 13.00. Dan pastinya kita semua sudah tahu atau setidaknya pernah mendengar istilah “time is money” . Apapun itu artinya hehehe…

Masalahnya adalah, sepertinya sebagian besar dari kita orang Indonesia, eh atau setidaknya saya sendiri deh (takut yang lain ga terima hehe), sejak kecil tumbuh dengan budaya  toleransi yang sangat tinggi terhadap waktu. Saya sudah puluhan tahun memegang konsep kalau undangan jam 13.00 artinya sebaiknya saya datang jam 14.00 saja kalau tidak pengen menunggu lama untuk orang lain datang. Dan bahkan ketika saya datang 14.50 pun, mungkin masih senyuman maklum yang saya dapatkan, hehehe menyenangkan yah? Bahkan ada beberapa teman yang dengan cukup bangga menyatakan bahwa “terlambat” adalah sudah bagian dari karakter mereka, jadi kalau mereka datang telat, dilarang protes. Hmmm….

Nah begitu lama terpapar dengan konsep seperti itu, sedikit banyak saya cukup meragukan kalau saya akan dengan mudah bisa menyesuaikan diri dengan tuntutan budaya tepat waktu di negeri ini. Ketika sudah berada di Belanda saya semakin bisa melihat dan merasakan betapa budaya menepati atau menghargai waktu ini ada di dalam keseharian orang-orang di sini, membuat saya kagum meskipun kadang-kadang karena satu dan lain hal juga sering membuat saya mengerutkan dahi…

Orang Belanda sangat taat dengan buku  agenda-nya, tidak peduli apapun tipe pekerjaannya,  dan semua orang terbiasa untuk aspraak maken (membuat janji) kemudian mencatatnya di agenda mereka setiap kali ada janji bertemu dengan orang lain, baik itu janji temu untuk hal formal maupun informal. Karena budaya ini, biasanya mulai bulan Oktober toko-toko alat tulis sudah siap dengan berbagai pilihan koleksi buku agenda terbaru yang kalau kita beli setelah tanggal 1 Januari, harganya akan turun cukup signifikan karena pada bulan April biasanya akan muncul lagi koleksi-koleksi agenda baru yang bisa dipakai untuk 18 bulan kedepan.

Ya, untuk penduduk di Negara yang sudah akrab dengan high-tech, mereka tetap lebih suka menuliskan jadwal harian di buku agenda beneran meskipun mereka juga sudah mencatatnya di ponsel pintar-nya.  Kenapa??  Entahlah saya juga belum pernah tanya hehe.

Instruktur olahraga di gym dekat rumah pernah menolak untuk membantu saya latihan karena saya telat datang 5 menit, ya 5 menit..!! Alasan dia adalah karena saya tidak muncul (pada waktunya), dia sudah terlanjur menerima tawaran untuk membantu orang lain, dan meminta saya membuat janji baru.  Staf HRD di departemen, ketika saya pertama kali datang ke mejanya menyambut saya dengan wajah masam dan bertanya “memangnya kita punya janji?” dan begitu saya tunjukkan email tentang appointment yang dibuat dan ternyata justru dia yang keliru menulis jam pertemuan di buku agendanya, wajahnya berubah ramah, meminta maaf, dan kemudian melayani saya dengan baik. Hehehe saya yakin hal-hal begini dialami bukan oleh saya saja kan ya?

Ketika mengerjakan tugas kelompok di satu mata kuliah, satu pelajar Belanda agak mengomel karena beberapa pelajar lain (non-Belanda) datang sekitar 10 menit lebih lambat. Dia bilang “saya sudah sepuluh menit menunggu disini untuk hal yang tidak terlalu bermanfaat”, dan menurut dia kalau memang kita ingin mulai diskusi pukul 10.10, harus sepakati sejak awal sehingga 10 menit waktunya bisa untuk hal lain yang lebih bermanfaat, sekalipun itu hanya untuk tidur 10 menit lebih lama. Pengalaman lain, dalam kegiatan pembimbingan di kampus saya, jadwal pertemuan antara saya dengan supervisor selalu diusahakan mencari waktu yang dirasakan nyaman bagi kedua belah pihak, saya diberi keleluasaan untuk meminta jadwal pertemuan diubah apabila saya keberatan, sepanjang dengan alasan yang jelas tentunya.

Ada satu ketika supervisor saya pernah tidak sengaja melewatkan janji temu dengan saya, dan beliau juga lupa mengirim email untuk membatalkan janji karena kebetulan di waktu yang sama mendadak ada rapat penting dengan pimpinan departemen yang harus dia hadiri.  Ketika saya mengkonfirmasi bahwa saya tadi menunggu di depan ruangannya selama 45 menit karena tidak ada kabar dari dia, saya mendapatkan balasan email penyesalan dia dan permintaan maaf yang buat saya terasa “berlebihan”. Entah mungkin mental saya yang masih sangat Indonesia, tapi yang jelas saya sebagai pelajar tidak mengharapkan permintaan maaf  yang sebegitunya dari seorang professor. Buat saya, cukup wajar lah kalau pelajar harus menunggu pembimbingnya dan saya tidak keberatan menunggu karena pertemuan tersebut toh untuk kepentingan saya sendiri. Tapi reaksi yang beliau berikan semakin mengajarkan saya tentang bagaimana kita harus menghargai waktu orang lain tidak perduli apakah dia pada posisi superior ataupun inferior dari kita.

Betapa saya merasa  tertampar karena teringat saat di Indonesia, saya seorang dosen pemula yang sering menyuruh mahasiswa saya menunggu tanpa kepastian karena menurut saya waktu itu, mereka lah yang butuh jadi mereka yang harus menyesuaikan waktunya dengan saya, hehehe sombong sekali ya saya? Mungkin cukup sering di saat last minute saya tiba-tiba menunda jadwal kuliah karena ada keperluan lain tanpa memikirkan bahwa banyak mahasiswa yang telah saya kacaukan agenda-agendanya. Saya tidak pernah terpikir bahwa mungkin saja mereka ada janji dengan orang tuanya, saudara, teman-teman, ataupun jadwal istirahat mereka yang jadi ikut terganggu hanya karena perubahan jadwal saya. Yap, dengan begitu saya jelas-jelas menzalimi mereka.

Beberapa pengalaman di atas adalah hanya sedikit dari sangat banyak pengalaman yang mengajarkan saya bahwa menghargai waktu adalah berarti kita juga menghargai orang lain, yang dengan sendirinya orang lain juga akan menghargai kita.  Saya yakin bahwa selama studi di sini, teman-teman lain juga banyak mendapatkan pengalaman serupa yang membuat kita menjadi lebih baik dalam hal waktu.  Tapi, entah ini menurut saya aja atau memang sepertinya masih banyak dari kita punya standar ganda tentang ini, maksudnya ketika punya janji dengan orang Belanda atau orang non-Indonesia lainnya, banyak dari kita yang cukup bisa menepati dengan baik tapi tidak ketika membuat janji dengan orang Indonesia.

Contoh nyata adalah pertemuan bulanan kita sendiri yang terbilang tidak pernah bisa dimulai sesuai dengan waktu dalam undangan meskipun sudah ada permintaan “harap datang tepat waktu”. Semua orang berpikir sama “halah, paling juga molor minimal sejam, telat-telat ajalah datang” hehehe iya kaaan? Pasti iya, karena saya juga begitu…

Dan saya yakin sebenarnya ada beberapa orang yang jadi malas hadir karena mereka tidak bisa memperkirakan kapan sebenarnya acara pertemuan di hari itu akan dimulai dan diakhiri sehingga mereka bisa hadir dan jadwal mereka sesudahnya tidak ikut terganggu. Jadi mungkin kalau kita belajar memulai pertemuan sesuai dengan undangan tanpa peduli jumlah yang sudah hadir, mungkin yang hadir akan lebih banyak. Mungkin loh yaa…

Apakah lantas dengan menulis ini saya sudah menjadi sangat oke dalam hal menghargai janji dan waktu orang lain? Jujur, belum sepenuhnya dan pastinya masih tetap berusaha, dan terus terang aja yaa saat menulis ini dalam perjalanan di kereta, saya membuat teman saya menunggu sekitar hampir sejam di Amsterdam Centraal karena saya salah memperkirakan jadwal kereta, maafkaaaan…!!

Semoga kita semua menjadi lebih baik setiap waktunya, mohon maaf kalau ada kata yang kurang berkenan…

 

Adi Nugroho
[PhD-candidate at Erasmus MC]

Iklan

3 comments

  1. betul sekali. Kita harus menghargai waktu. Itu kunci kesuksesan. Penting pula disini bahwa yang disebut diri sendiri itu tidak terbatas pada pribadi orang per orang, tetapi juga diri sebagai bangsa. Janganlah kita lebih menghargai orang (bangsa) lain dan kurang terhadap bangsa sendiri……

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s