Menjadi Skillful di Perantauan

Menempuh pendidikan di negeri orang bisa dibilang memberikan pengalaman tersendiri. Bukan hanya dihadapkan dengan lingkungan, orang-orang dan sistem yang baru, kita juga dituntut untuk memulai semua dari nol; menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar, mencari komunitas-komunitas. Lucunya, kadang keadaan seperti ini membuat perbedaan-perbedaan yang sebelumnya ada waktu kita tinggal di Indonesia, menjadi tidak terlalu kentara. Ya, orang-orang Indonesia yang menempuh studi di Belanda ini (khususnya di Rotterdam) kan tidak berasal dari satu daerah saja. Bisa jadi, satu orang datang dari ujung barat dan yang lainnya berasal dari ujung paling timur Indonesia. Belum lagi, status sosial yang biasanya dielu-elukan ketika berada di kampung halaman, kini menjadi tidak terlalu berarti. Ya, ketika sampai di negeri orang, kita semua mempunyai satu persamaan: sama-sama merantau. Dalam kondisi ‘perantauan’ ini, kita dituntut untuk bisa menemukan cara-cara untuk bisa beradaptasi dengan baik di lingkungan yang baru, tak peduli apapun latar belakangnya. Nah, menurut saya, justru kondisi seperti ini lah yang paling optimal bagi seseorang untuk dapat mengembangkan diri!

Bagi para mahasiswa (khususnya bagi kami-kami yang uang saku nya tidak unlimited seperti sebagian orang yang lain), pengaturan keuangan adalah hal nomor satu yang harus diperhatikan. Bagaimana tidak, perbandingan living cost di Belanda dan di Indonesia yang begitu jauh perbedaannya, setidaknya harus membuat kita berpikir dua kali ketika akan membelanjakan uang saku. Mulai dari sewa kamar, uang makan, uang transport, dan berbagai kebutuhan lainnya harus diatur sedemikian rupa agar kantong tidak jebol. Setiap akan membeli sesuatu, biasanya sih dibanding-bandingkan dulu antara satu toko dan toko lainnya, mencari mana yang paling murah, atau yang sedang diskon. Biasanya, hal ini juga berujung pada pemikiran cara-cara kreatif untuk berbelanja kebutuhan, contohnya dengan memanfaatkan berbagai kartu bonus, memperhatikan jadwal pasar, dan membeli bahan makanan sesuai dengan musimnya (supaya lebih murah) 😀 Nah, hal-hal seperti ini lah yang membantu kita (atau setidaknya saya), untuk berlatih membuat perencanaan keuangan dengan lebih baik! Selain itu, kita juga jadi terbiasa untuk hidup lebih hemat dan tidak terlalu konsumtif.

Kemudian, salah satu ‘masalah’ utama yang dihadapi para mahasiswa Indonesia ketika tinggal di Belanda adalah: kangen masakan Indonesia. Kalau yang satu ini sih, menurut saya memang tidak bisa dihindari. Mana lah tahan, kalau setiap hari kita harus makan broodje met kaas, atau yoghurt met vruchten.Bagi orang Indonesia, makan yang afdol itu kalau sudah makan nasi. Nah, masalahnya di Rotterdam ini kita tidak bisa sewaktu-waktu memanggil tukang baso atau tukang sate yang lewat di depan rumah. Tidak ada juga warung nasi padang yang bertebaran di mana-mana, siap menyambut kita 24 jam. Mau ga mau, kalau kangen masakan Indonesia, ya haruslah memasak sendiri. Apalagi untuk kita-kita yang muslim, bisa masak sendiri agaknya menjadi suatu kewajiban. Makanan-makanan yang disajikan dijual di luar sebagian besar tidak bisa dipastikan halal haramnya, daging-daging yang statusnya masih dipertanyakan, membuat kita harus mulai belajar untuk mengolah masakan sendiri. Mungkin awalnya hanya coba-coba resep yang simpel, lalu berlanjut ke eksperimen-eksperimen bumbu dan bahan masakan lainnya, sampai akhirnya bisa memasak berbagai jenis masakan! Salah seorang teman saya pernah cerita, katanya waktu sampai di Belanda, dia tidak bisa memasak sama sekali. Tapi setelah beberapa tahun tinggal di Belanda, karena ‘terpaksa keadaan’ dia malah jadi expert dalam memasak! Mulai dari masakan padang sampai masakan cina sekalipun, dia tahu cara membuatnya. Katanya sih, awalnya cukup sulit karena ga ada pengalaman sama sekali, tapi lama-lama karena terbiasa, jadilah sampai sekarang dia hobi memasak. Ternyata dengan merantau ke negeri orang, kita bisa menumbuhkan keahlian-keahlian baru, salah satunya keahlian masak 🙂

Nah, kalau dengan dua cara di atas kita bisa lebih berhemat, sekarang pertanyaannya adalah: bagaimana kita bisa mendapatkan uang saku ekstra? Yap, tentu saja jawabannya adalah kerja sambilan! Mungkin, bagi para mahasiswa yang sudah terbiasa hidup di sini, kerja sambilan bukanlah hal yang asing lagi. Selain menambah pengalaman, kerja sambilan juga berpotensi untuk meningkatkan taraf kesejahteraan! (baca: nambah uang jajan). Sebenarnya, banyak yang bisa kita lakukan untuk kerja sambilan ini. Contohnya, hal yang paling sering dilakukan oleh para student adalah kerja di restauran, pilihannya bisa jadi waiter atau bagian kassa. Nah, kalau ga bisa bahasa Belanda, gimana caranya? Ada juga pilihan-pilihan lain, misalnya jadi bagian cuci-cuci di dapur, atau jadi pengoper koran. Untuk mereka yang jadwalnya padat tapi masih ingin punya kerja sambilan, bisa saja apply untuk kerja di pasar malam-pasar malam indonesia yang diadakan di berbagai kota di Belanda. Selain itu, saya punya saran lain untuk kerja sambilan; untuk para mahasiswa yang terampil bermusik, tidak ada salahnya untuk mencoba mencari penghasilan tambahan dengan menjadi guru privat! Preferably mengajar anak-anak Indonesia yang orang tuanya menetap di sini, supaya komunikasi lebih mudah (tidak harus menggunakan bahasa Belanda). Pilihan lain adalah menjadi guru privat pelajaran. Contohnya, siswa-siswa di Sekolah Indonesia Wassenaar kadang butuh guru privat untuk mengajar pelajaran-pelajaran SMP/SMA. Kalau kita masih ingat pelajaran-pelajaran SMP/SMA, tidak ada salahnya kalau kita mencari informasi, siapa tau ada siswa yang butuh dibimbing 🙂

Masih banyak skill-skill lainnya yang bisa kita dapat ketika ‘merantau’ ini. Baik disadari ataupun tidak, fase kehidupan saat kita ‘merantau’ ini menjadi satu fase potensial yang dapat membantu kita untuk melatih berbagai kemampuan dan mengembangkan diri. Jadi, marilah kita manfaatkan sebaik-baiknya kesempatan saat kita menempuh pendidikan di Belanda ini. Tentu saja, pendidikan tetap menjadi prioritas utama, namun seiring dengan berjalannya waktu, menurut saya bersamaan dengan itu kita bisa mendapatkan berbagai additional skills yang insya Allah bisa berguna nantinya kalau kita kembali ke tanah air 🙂

Ditulis oleh:

Rasyida Noor

First year Bachelor IEM RUG

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s