Social Network: evolusi bentuk komunikasi??

Zaman sekarang ini, komunikasi dan telekomunikasi serasa tanpa hambatan jarak, ruang, dan waktu lagi…(adanya hambatan sinyal dan pulsa!! :D). Berbagai alat komunikasi (“pintar” dan tidak pintar,) dengan berbagai nama buah-buahan (apple, blackberry) dilengkapi dengan aneka ragam aplikasi dan sistem bernama makanan (sandwich, ice cream, honey) tersedia di pasaran. Konsumen dipersilahkan memilih sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan (sebagian konsumen mungkin hanya memikirkan keinginan).

Satu fitur alat komunikasi yang rasanya wajib dimiliki (kecuali oleh angkatan tempo doeloe) adalah kemampuan untuk surfing (ga bisa swimming gapapa), browsing internet. Fungsi utama alat komunikasi seakan bergeser. Atau justru cara berkomunikasi itu sendiri yang telah berubah?

Jika suatu survey diadakan, pemakaian alat komunikasi yang dominan sekarang ini, hampir bisa dipastikan adalah yang berhubungan dengan internet, bukan lagi hanya sebatas panggilan suara atau pesan singkat (SMS). Pengalaman pribadi penulis, pulsa untuk internet lebih dari dua kali pulsa untuk telepon dan pesan singkat..he2.

Pemakaian internet tersebut kebanyakan adalah untuk connect ke berbagai jaringan social (social network). Friendster, Facebook, Multiply, Hi5, Twitter, dan puluhan lainnya yang berfungsi serupa. Penulis sendiri hanya aktif di salah satu-nya, namun banyak kenalan yang aktif di beberapanya, bahkan ada yang punya akun lebih dari satu di satu social network. Sungguh hebat kemampuan manajemen waktu mereka, bisa mengelola banyak akun.

Social network seakan menjadi suatu kebutuhan (atau hanya sekedar gaya hidup?). Yang jelas, social network mampu menimbulkan kecanduan yang efeknya mungkin melebihi nikotin atau narkoba (lebay kah saya?). Bangun tidur, hal pertama yang dijenguk adalah social network, melihat apakah ada notification baru, kicauan merdu, atau jempol indah di layar hape. Bahkan kala terbangun tengah malam pun, rutinitas pengecekan social network ini pun dijalankan dengan tulus ikhlas, (mungkin) melebihi ketulus/ikhlasan untuk shalat malam. Astagfirullahaladzim.

Beberapa orang yang menyadari bahaya efek candu dari social network ini, kemudian berusaha menjauhkan diri dari sang social network. Mulai dari tidak membuat postingan baru (biar tidak menunggu-nunggu reaksi untuk postingan tersebut), deactivated akun sementara, mengurangi jumlah akun yang dipakai, atau justru sama sekali off dari social network tersebut.

Beberapa kawan malah sejak awal memproklamirkan diri “anti social network”. Ada yang alasannya hanya sekedar tidak suka atau tidak mau terkena efek candu yang berbahaya tadi. Tapi satu alasan yang pernah diberikan salah satu kawan itu, cukup “menyentak” saya. Ketika itu dia minta saya bercerita dan mengiriminya (via email) beberapa photo jalan-jalan dan kehidupan saya di Eropa. Saya jawab: “Udah ada semua di FB, makanya bikin akun FB doong (sebagian teman malah “memprotes” poto-poto itu, bikin mupeng kata mereka..ha2)”. Teman saya itu menjawab: “Saya pengen kamu ceritanya secara pribadi sebagai temen”.  Dugh.

Mungkin teman saya itu berlebihan, tapi saya rasa dia ada benarnya. Dengan alasan kepraktisan, bagi sebagian orang semua informasi dan kepada semua orang (teman, saudara, guru/dosen, rekan kerja) disampaikan lewat social network. Undangan pernikahan pun disebarkan lewat social network. Praktis dan hemat biaya memang, tapi rasanya “personal taste/touch”-nya juga memang tidak sebanding dengan undangan yang dicetak kemudian disebar dan diantar ke alamat-alamat undangan. Apalagi kalo yang ngantar si empunya hajatan langsung. Bahkan bagi sebagian kalangan yang lain, informasi/undangan via social network ini dipandang tidak/kurang menghormati orang yang diinformasikan/diundang.

Namun entah karena pergerakan zaman, sebagian besar masyarakat sudah dapat menerima social network sebagai media komunikasi. Bagian masyarakat yang seperti itu mungkin adalah orang-orang yang (nyaris) tidak peduli basa-basi seperti penulis. Asalkan kita tetap dapat menghormati bagian masyarakat lain yang berpandangan beda, tentu tidak masalah. Itu adalah dampak positif dari perkembangan zaman, terutama teknologi komunikasi dan informasi. Toh kalau tidak salah ingat, cikal bakal internet sebenarnya juga merupakan alat komunikasi antara tentara AS.

Benar tidaknya telah terjadi revolusi komunikasi yang salah satunya dengan kehadiran social network sebagai sarana komunikasi, dibutuhkan survey dan penelaahan oleh yang ahli di bidang tersebut. Namun sebagai user dari social network tersebut, sepanjang kita dapat menilai dampak positif dan negatif-nya, Insya Allah tidak akan menimbulkan masalah.

 

Rahmijusti Khairul

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s