Istinja Saat Keliling Eropa (Tetap Taat Saat Melancong – Bagian II)

Banyak pertanyaan yang muncul saat bepergian keliling Eropa tentang bagaimana membersihkan diri dari najis, bersuci, bahkan shalat. Memang, kondisi Eropa tidak semudah di Indonesia dalam hal-hal demikian. Tetapi, bukan berarti kesulitan itu membuat kita dengan mudah menjadikannya alasan untuk meninggalkan kewajiban. Justru kesulitan-kesulitan tersebut seharusnya menjadi pemicu untuk belajar lebih dalam dan mempersiapkan diri lebih baik sebelum melakukan perjalanan.

Air, Batu, dan Tissue

Sebenarnya tidak jauh berbeda dengan di Indonesia, permasalahan ber-istinja berkutat tentang apa yang boleh dipakai untuk membersihkan najis. Bagi laki-laki, toilet berdiri sudah menjadi hal yang umum dijumpai di manapun. Tapi, jangan pernah menyepelekan permasalahan buang air kecil ini. Dalam satu riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah dan beberapa sahabat melewati dua kuburan, lalu berhenti. Beliau berkata kepada para sahabatnya, “Dua orang ini sedang disiksa karena hal yang mereka anggap sepele.” Yang satu, tidak menjaga diri dari air seninya saat buang kecil. Sedangkan yang satu lagi, terbiasa menggunjing ke mana-mana.

Menjaga diri dari air seni saat buang air kecil dapat berarti  dua hal. Pertama, bagaimana agar tidak terkena percikan air seni. Ini yang banyak menjadi persoalan,terutama laki-laki yang sering menggunakan toilet berdiri. Potensi terkena percikan air seni sangat besar. Solusinya, carilah toilet duduk (hampir tidak ada toilet jongkok di Eropa) sedapat mungkin dan buang air kecillah dengan posisi duduk. Pastikan alas duduknya pun bersih karena tidak jarang didapati ada percikan air seni dari pengguna toilet sebelumnya. Jikapun tidak ada toilet duduk dan harus memakai toilet berdiri, pastikan dengan benar bahwa air seni tidak memercik.

Kedua, bagaimana ber-istinja dengan benar. Istinja berarti membersihkan diri dari najis yang keluar dari dua lubang, yaitu qubul (saluran kencing) dan dubur. Pada mulanya, Rasulullah mencontohkan cara istinja dengan air dan batu. Air sudah jelas dapat dan sering digunakan sebagai alat istinja. Batu pun dapat digunakan, baik saat ada air maupun tidak ada air. Dengan menggunakan sisi yang berbeda setiap kali membasuh kotoran yang melekat. Boleh pula mencampurkan dua alat tersebut, yaitu diawali dengan batu dan diakhiri dengan membasuh dengan air.

Berbeda dengan toilet di Indonesia yang banyak dilengkapi dengan pemancar air, nyaris tidak ada pemancar air di toilet Eropa. Bisakah diganti dengan tissue? Para ulama bersepakat bahwa benda padat yang suci dapat digunakan sebagai alat istinja, termasuk tissue atau kertas. Syaratnya, memang benda-benda tersebut ditujukan untuk ber-istinja. Beberapa kalangan ulama berpendapat bahwa tissue atau kertas yang terdapat tulisan padanya, tidak diperkenankan dipakai untuk ber-istinja. Ini yang disebut sebagai hajar syar’i (benda yang secara syariat dapat digunakan sebagai alat istinja seperti batu), menurut ulama mazhab Syafi’i. Haruskah dengan tissue atau kertas basah? Tidak perlu. Tissue atau kertas kering pun dapat digunakan.

Bersiap Sebelum Buang Air

Jadi, penting untuk mempersiapkan diri sebelum buang air di manapun. Jangan terburu-buru menggunakan toilet. Tipsnya mudah seperti berikut ini.

–       Pastikan dulu apakah toilet tersebut aman –dalam arti, aman dari percikan najis, baik di toilet berdiri saat buang air kecil maupun toilet duduk saat buang air besar. Tidak jarang didapati toilet non-permanen, apalagi di area wisata, pasar, atau pertunjukan.

–       Pastikan tidak ada bekas najis di alas duduk toilet. Jika ada najis, bersihkan dulu dengan tissue atau air (jika ada).

–       Pastikan sudah menyiapkan alat ber-istinja. Jika memang tidak ada air, pastikan tissue di toilet duduk tersedia. Bagi yang (terpaksa) menggunakan toilet berdiri, bawalah tissue sebelum buang air kecil sehingga sempat membersihkan najis sebelum menutup resleting.

–       Disunnahkan membersihkan najis dalam hitungan ganjil, dimulai dari tiga kali basuhan, hingga benar-benar bersih.

–       Dalam kaitan buang air kecil, ulama mazhab Syafi’i berpendapat bahwa membasuh najis cukup di area lubang keluar saluran kencing (dan tempat lain yang terkena percikan). Sedangkan ulama mazhab Ahmad mensyaratkan untuk membasuh seluruh bagian kemaluan, tidak terbatas pada area lubang keluar saluran kencing.

–       Jangan pernah keluar dari toilet tanpa ber-istinja.

Tentu masih banyak permasalahan fiqh selama perjalanan keliling Eropa yang mungkin selama ini dianggap “sepele”. Pertanyaan lain yang harus dijawab dengan baik pula adalah bagaimana cara berwudhu atau bertayammum dengan baik saat di perjalanan. Apakah boleh shalat di bus, di taman atau di pojok museum Louvre sambil duduk, atau ‘terpaksa’ shalat di toilet? Sedikit demi sedikit harus dipelajari kembali lebih dalam sebagai bagian dari persiapan jalan-jalan, selain persiapan ongkos, tiket, dan makanan.

Selamat melancong dengan taat!

 

Ahmad Fuady

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s