Siapakah Teman Sejati??

teman sejati

Adalah Si Fulan yang mempunyai tiga orang karib yang mewarnai kehidupan sehari-harinya, sebut saja mereka A, B dan C. Si A adalah sahabat yang sangat dermawan sekali. Kebutuhan sehari-hari Si Fulan mulai dari uang belanja keluarga, uang sekolah, cicilan rumah dan cicilan kendaraan disantuni oleh Si A. Si A yang dermawan seringkali menghadiahkan liburan keluarga yang cukup berkesan bagi Si Fulan, bahkan sekali waktu pernah Si Fulan dan keluarganya menikmati liburan ke negeri seberang berkat kedermawanan Si A. Sehingga sangatlah wajar apabila Si Fulan tidak ragu-ragu untuk menyediakan waktu, tenaga dan pikirannya untuk membalas kebaikan Si A. Waktu-waktu terbaik, tenaga-tenaga yang prima serta pikiran yang fresh siap diberikan Si Fulan untuk membalas budi baik Si A. Tak jarang pula dia meluangkan waktu-waktu ekstranya untuk membantu Si A tanpa diminta. Waktu 24 jam sehari terasa kurang bagi Si Fulan untuk melayani Si A. Seandainya ada sesuatu yang bisa membuat tenaga menjadi berlipat ganda dan pikiran menjadi lebih segar, mungkin Si Fulan akan mencarinya, demi pengabdiannya kepada Si A. Bahkan kadang-kadang karena keinginannya yang sangat besar untuk membalas kebaikan si A, entah sadar entah tidak Si Fulan rela menerjang rambu-rambu larangan demi membalas kebaikan Si A. Si A pun juga merasa bahagia dan sangat berkesan dengan pengorbanan Si Fulan terhadapnya, sehingga ia pun seringkali memberikan lebih dibandingkan dengan apa yang diberikan oleh Si Fulan. Sungguh satu persahabatan yang sangat dekat.

Pertemanan Si Fulan dengan Si B juga sangatlah dekat. Si B selalu siap mendampingi Si Fulan ketika kondisinya sedang terpuruk, memberi semangat dan motivasi bagi Si Fulan untuk mewujudkan impiannya. Si Fulan juga begitu sabar mendengarkan semua keluh kesah dan kesusahan yang dihadapi oleh Si B. Mereka sering menghabiskan waktunya bersama-sama baik di kala susah maupun bahagia. Si Fulan mencurahkan seluruh perhatiannya untuk membahagiakan Si B, begitu pula sebaliknya. Persahabatan keduanya sepertinya mustahil untuk dipisahkan.

Berbeda dengan A dan B yang selalu bisa memberikan balasan lebih daripada yang diberikan oleh Si Fulan, Si C bisa dibilang sangat jarang membalas apa yang telah diberikan oleh Si Fulan. Bagi Si Fulan, Si C ini cenderung menjadi beban bagi kehidupannya. Mengenal dan dekat dengan Si C tidak akan membuat si Fulan seterkenal dan sepopuler dibandingkan pertemanannya dengan Si A dan B. Sehingga tidak mengherankan apabila Si Fulan enggan dan cenderung malas berteman lebih dekat dengan Si C. Ketika Si C membutuhkan bantuan, Si Fulan berusaha menghindar dengan berbagai alasan. Ketika Si C membutuhkan waktu Si Fulan, Si Fulan merasa ada hal lain yang lebih penting untuk dilakukan. Sehingga tak jarang Si C hanya mendapatkan sisa-sisa waktu Si Fulan. Akan tetapi bagi Si C apa yang sudah diberikan oleh Si Fulan sangatlah berarti untuknya. Uang-uang kecil Si Fulan yang diberikan kepada Si C sungguh sangat membantu Si C. Si C sering kali datang pada saat Si Fulan sedang terhimpit masalah, seandainya sedang ada kelonggaran pun Si Fulan hanya memberikan sekedarnya.

Suatu ketika Si Fulan terlilit masalah yang teramat berat yang membuatnya terseret ke meja peradilan. Demi mendengar musibah yang dialami Si Fulan, tanpa berpikir panjang Si A pun berangkat untuk membela kawan karibnya itu. Si A sudah mempersiapkan berbagai argumen untuk meringankan beban sahabatnya yang begitu setia tersebut. Begitu dia sampai di pintu ruang sidang, Si A melihat Si Fulan sedang menghadapi persidangan yang luar biasa berat, dia pun bergegas untuk segera memasuki ruang sidang dan membantu Si Fulan. Melihat kedatangan Si A, Si Fulan terlihat begitu gembira. Akan tetapi betapa terkejutnya mereka berdua ketika penjaga pintu ruang sidang dengan cepat dan sigap melarang Si A untuk masuk ke ruang sidang. Si A memaksa sekuat tenaga untuk memasuki ruang sidang akan tetapi usahanya sia-sia. Tak kalah sedih dengan Si A, Si Fulan terlihat sangat terpukul karena harapan untuk mendapatkan keringanan dengan bantuan Si A kandas sudah, terbayang jelas hukuman yang akan didapatkannya seandainya tidak ada yang membantu meringankan tuntutan pengadilan.

Secercah harapan pun muncul ketika kawan karibnya Si B terlihat melintas di depan pintu ruang sidang. Begitu mendengar kabar musibah yang menimpa Si Fulan, Si B pun juga bergegas berniat membantu Si Fulan. Melihat kondisi Si Fulan yang sedang terhimpit masalah, Si B pun segera memasuki ruang sidang untuk membela dan meringankan hukuman Si Fulan. Si Fulan pun merasa dengan apa yang telah dilakukannya terhadap Si B, Si B dapat membantu mengeluarkannya dari masalah yang dihadapinya. Tanpa berpikir panjang Si B pun melangkah memasuki ruang sidang, namun dengan suara lantang penjaga pintu ruang sidang melarang Si B untuk memasuki ruang sidang. Seperti halnya yang dialami oleh Si A, Si B pun akhirnya gagal membantu Si Fulan. Tak ayal kegagalan kedua teman karibnya tersebut membuat Si Fulan kehilangan harapan. Terbayang di depan Fulan betapa berat hukuman yang akan dihadapinya.

Tiba-tiba Si C muncul di depan pintu persidangan dengan tubuh dan pakaiannya yang lusuh, namun dengan penuh harapan dia berusaha memasuki ruang sidang untuk membantu meringankan kesulitan Si Fulan. Si Fulan seolah tidak menghiraukan kedatangan Si C, dia berpikir bagaimana mungkin Si C bisa membantunya sedangkan kedua sahabat karibnya tidak mampu membantunya. Si C meyakinkan penjaga pintu sidang bahwa dia adalah teman Fulan dan dia ingin membantu meringankan kesulitan Fulan. Betapa terkejutnya Si Fulan ketika penjaga pintu sidang mengijinkan Si C untuk memasuki ruang sidang dan bersaksi untuk membela Si Fulan. Berkat pembelaan Si C, hukuman yang diterima oleh Fulan dapat dikurangi. Fulan pun menyesali perbuatannya yang sudah menyia-nyiakan dan acuh terhadap Si C, teman sejatinya. Cerita di atas hanyalah ilustrasi semata. Siapakah Si A, B dan C?

Surat Al Anfal ayat 28: “Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanya sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.”

Surat Al Imran ayat 14: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).”

Dari Anas radhiyallaahu ‘anhu, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Mayat itu diikuti oleh tiga hal : keluarganya, hartanya, dan amalnya. Maka kembalilah yang dua dan tinggallah satu, kembalilah keluarga dan hartanya, dan tinggallah amal perbuatannya” (HR. Bukhari [8/362] dan Muslim [2960])

Semoga Allah ‘Azza wa Jalla senantiasa memberi kekuatan kepada kita semua untuk menetapi diin-Nya yang lurus lagi mulia ini. Ya Allah, hisablah kami dengan hisab yang mudah. Allahumma Aamiin.

 

Heri Istanto

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s