Buka bersama di “home away from home”.

Assalamualaikum wr wb..

Untuk mengisi blog PPMR, saya ingin sedikit berbagi tentang pengalaman berbuka puasa di Belanda tahun ini.. Walaupun tahun lalu saya juga menjalankan ibadah puasa satu bulan penuh di Belanda, tetapi rasanya ada yang berbeda dari ibadah puasa tahun ini.

Melihat balik ke ceramah pak Deden (19/07/13), bener banget kalau ada banyak hikmah berpuasa di Belanda jauh dari keluarga. Tidak adanya keluarga sedarah membuat kita berbuka dengan keluarga kedua, yaitu teman-teman. Buka puasa pun lebih ramai karena pesertanya bergantian. Acara buka bersama juga memberikan kita kesempatan untuk bertemu teman-teman yang sudah lama atau jarang kita temui. Walaupun banyak dari kita yang belajar di institusi yang sama, bukan berarti kita sering melihat satu sama lain.

Menyiapkan buka bersama juga membuat kita jadi ‘terpaksa’ belajar masak. Selain karena harga makanan beli-jadi di luar relatif mahal, kita juga harus berusaha kreatif menyiapkan makanan. Apalagi kalo pengalaman masaknya untuk 30 porsi hehehe jadi uda terbiasa kalau nanti banyak acara di kampung halaman.

Selain masak, acara buka bersama di Belanda, yang notabene di rumah orang dan bukan di restoran seperti kalau kita buka bersama di luar di Indonesia, kita jadi bisa nyicipin makanan-makanan berbuka yang belum pernah kita rasakan sebelumnya. Beda latar belakang suku dan makanan khas memberikan kita kesempatan mencoba makanan yang tidak lazim ada di daerah asal kita. Contohnya, ada teman saya yang baru pertama kali dalam hidupnya mencoba kolak biji salak.

Dia: Ini apa namanya?

Saya: Kolak biji salak..

Dia: Kok bisa lembut?

Saya:… kan… dibuat dari tepung…

Dia: *tepok jidat* oooohhhh kirain dari biji salak semua….

Hehehe, saya kira dia mau nanya resepnya; kenapa bisa bikin kolak biji salak selembut itu. Mungkin yang selama ini dia makan atau buat selalu alot (keras/kenyal), ternyata karena dia pikir kolak biji salak isinya biji salak beneran. Maklum, makanan berbuka di rumahnya selalu antara es kelapa muda atau cendol, tidak ada yang lain. Coba kalau dia menjalankan puasa tahun ini di Indonesia, mungkin sampai jadi nenek-nenek dia masih akan berpikir kalo kolak biji salak dibuat dari biji salak sebenernya hehehe, ampun…

Inilah beberapa hikmah berbuka puasa jauh dari keluarga. Memperluas makna ‘keluarga’ itu sendiri dan menambah pengetahuan akan kuliner baru, baik rasa dan cara membuat. Mungkin ada yang bilang, “gak perlu buka puasa bareng, dengan wisata kuliner kan juga bisa mencoba makanan baru”, tapi… kalo pas bukber gini kan kita akan memakan masakan yang ada, alhasil, jadi ‘terpaksa’ tahu makanan baru deh… Semoga pengalaman dan ilmu yang didapatkan bulan puasa kemarin bisa dibawa ke bulan-bulan selanjutnya.

Rotterdam, Agustus 2013

Nadia

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s