Bulan Mulia Itu Pun Akhirnya Berlalu …

Sudah genap satu bulan kita menjalani ibadah di Bulan Ramadhan. Dan akhirnya bulan ini pun berlalu meninggalkan kita. Hari-harinya telah berlalu dan malam-malamnya pun telah pergi. Ramadhan telah selesai dan pergi untuk kembali lagi di tahun depan. Saatnya kita berpisah dengan bulan yang mulia, bulan yang penuh barokah, bulan yang penuh rahmat dan ampunan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Demi Allah, sungguh Allah Maha Penyayang. Bila kita mau secara jujur benar-benar merenungkan, akan nyatalah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala begitu sayang kepada orang-orang yang gemar melakukan ketaatan khususnya di Bulan Ramadhan. Cobalah kita perhatikan dengan seksama, betapa banyak amalan yang di dalamnya terdapat pengampunan dosa. Maka sungguh sangat merugilah jika seseorang meninggalkan amalan-amalan tersebut, yang berarti dia telah luput dari ampunan Allah yang begitu luas.

Cobalah kita perhatikan, pada amalan puasa yang telah kita jalani selama sebulan penuh, di dalamnya terdapat ampunan dosa. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Artinya : “barangsiapa yang berpuasa di Bulan Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala dari Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” [HR. Bukhari No. 38 dan Muslim No. 760]

Begitu pun halnya pada amalan sholat tarawih, di dalamnya juga terdapat pengampunan dosa. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Artinya : “barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan (sholat tarawih) karena iman dan mengharapkan pahala dari Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” [HR. Bukhari No. 37 dan Muslim No. 759]

Barangsiapa yang menghidupkan malam lailatul qadr dengan amalan sholat, juga akan mendapatkan pengampunan dosa, berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Artinya : “barangsiapa melaksanakan sholat pada malam lailatul qadr karena iman dan mengharapkan pahala dari Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” [HR. Bukhari No. 1907]

Selain puasa, sholat tarawih, dan sholat di malam lailatul qadr, juga terdapat amalan untuk mendapatkan ampunan Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu melalui istighfar. Memohon ampun seperti ini adalah bentuk doa. Dan doa orang yang berpuasa adalah doa yang mustajab (terkabulkan), terlebih pada saat berbuka puasa. [Latho-if Al Ma’rif, hal. 378]

Begitu pula pengeluaran zakat fithri di penghujung Ramadhan, juga merupakan sebab datangnya ampunan Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena zakat fithri akan menutupi kesalahan berupa kata-kata kotor dan sia-sia.

Ini semua menjadi bukti bahwa begitu berlimpahnya amalan di sepanjang Bulan Ramadhan yang di dalamnya terdapat pengampunan dosa, bahkan hingga di penghujung Ramadhan. Maka sangatlah wajar bila kita semestinya bersedih dengan berlalunya bulan mulia tersebut. Baru saja kita melepas rindu dengan datangnya Ramadhan, namun seperti sekejap, bulan ini telah meninggalkan kita.

Setelah kita mengetahui beberapa amalan di Bulan Ramadhan yang dapat menghapuskan dosa-dosa, maka seseorang di Hari Raya Idul Fithri, ketika dia kembali berbuka (tidak berpuasa lagi), seharusnya dalam keadaan sebagaimana bayi yang baru dilahirkan. Hal ini dengan syarat, seseorang haruslah bertaubat dari dosa besar yang seseorang pernah terjerumus di dalamnya, bertaubat dengan penuh penyesalan.

Sebagai manusia yang dikaruniai akal untuk mampu berpikir, selepas Ramadhan seharusnya kita khawatir akan amalan-amalan kita, sebagaimana para salafunas sholih (pendahulu-pendahulu kita yang sholih) pun khawatir amalan-amalannya tidak diterima. Para ulama salaf terdahulu begitu semangat untuk menyempurnakan amalan-amalan mereka, kemudian mereka berharap-harap agar amalan-amalan tersebut diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan sangat khawatir jika tertolak. Mereka lah yang disebutkan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آَتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ

Artinya : “dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut.” [Al Qur’an Surat Al Mu’minun : 60]

Bukankah kita pun mendengar firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

Artinya : “sesungguhnya Allah hanya menerima (amalan) dari orang-orang yang bertaqwa.” [Al Qur’an Surat Al Maidah : 27]

Disaat para salaf begitu khawatir kalau-kalau amalannya tidak diterima, namun kondisi berbeda kita dapati pada diri-diri kita yang amalannya begitu sedikit dan sangat jauh dari amalan-amalan para salaf. Lalu mengapa kita begitu “pede” dan yakin dengan diterimanya amalan kita. Sungguh, teramatlah jauh kita dengan mereka.

Kita dapat saksikan betapa kendurnya semangat-semangat kita selepas Ramadhan. Nyata terjadi pada sebagian orang yang menunaikan puasa; mereka begitu semangat menunaikan puasa Ramadhan, namun begitu lalai setelahnya. Lalu seperti inikah Idul Fithri dikatakan sebagai hari kemenangan, sedangkan hak-hak Allah tidak dipedulikan setelahnya?

Jika demikian adanya, dimanakah hari kemenangan yang selalu dibesar-besarkan ketika Idul Fithri? Dimanakah hari yang dikatakan telah suci lahir dan batin sedangkan hak-hak Allah Ta’ala kembali diinjak-injak oleh kita setelahnya?

Lalu apa gunanya melakukan tradisi minta maaf kepada sesama begitu digembar-gemborkan di hari Idul Fithri, sedangkan permintaan maaf dan ampun kepada Rabb atas dosa yang dilakukan disepelekan kembali?

Ibnu Mas’ud mengatakan bahwa sebenar-benarnya taqwa adalah mentaati Allah tanpa bermaksiat kepada-Nya, mengingat Allah tanpa lalai dari-Nya, dan bersyukur atas nikmat-nikmat Allah, tanpa kufur dari-Nya. [Latho-if Al Ma’arif, hal 381].

Dan saat ini, Ramadhan telah berlalu. Apakah kita yakin tahun depan kita masih akan bertemu dengan Ramadhan lagi? Allahu a’lam, hanya Allah yang mengetahui. Kita tidak tahu kapankah kita “mudik” yang sesungguhnya, yaitu dengan wafatnya kita. Sudahkah kita sesibuk membeli ini dan itu sebagaimana yang kita persiapkan tatkala Idul Fithri menjelang? Apa yang mau kita bawa jika kita dipanggil Allah Ta’ala untuk “mudik”?

Di hari raya Idul Fithri ini, hanyalah ampunan dan pembenasan dari dahsyatnya siksa neraka yang kita harap-harapkan dari Allah ‘Azza wa Jalla yang Maha Pengampun. Kita pun berharap semoga Allah Ta’ala menerima amalan kita semua di Bulan Ramadhan, walaupun kita merasa bahwa amalan-amalan tersebut begitu sedikit dan terdapat banyak kekurangan di dalamnya. Dan semoga Allah menjadikan kita insan yang istiqomah dalam menjalankan  ibadah selepas Ramadhan.

Kami dari Bima, Nusa Tenggara Barat mengucapkan :

تقبل الله منا ومنكم الطاعات

وأعاننا الله وإياكم على دوام الصالحات
ووفقنا وإياكم إلى أحسن الخاتمات

“Semoga Allah menerima dari kami dan kalian (segala amalan shalih), dan membantu kami dan kalian untuk kontinu terhadap amalan shalih, serta memberi taufiq kepada kami dan kalian kepada segala husnul khatimah.”

 

Selamat Hari Raya Idul Fithri 1 Syawwal 1434 H

[Abu Nabil Imam Baskoro, disarikan dari berbagai sumber]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s