BAGAIMANA CARA MEMAHAMI AJARAN ISLAM DENGAN BENAR?

Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat dan seluruh kaum muslimin yang senantiasa berpegang teguh pada sunnah Beliau sampai hari kiamat.

Umat Islam kini terpecah belah, berkelompok-kelompok, satu sama lain saling membanggakan golongannya. Ketika satu per satu golongan ditanya, “Apa pegangan atau rujukan kalian?” Pasti mereka menjawab, “Rujukan kami Al-Qur’an dan hadits Nabi.”

Para pengikut Ahmadiyah, yang meyakini bahwa ada nabi setelah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ditanya apa yang menjadi rujukan mereka, dengan serta merta mereka akan menjawab, “Rujukan kami Al-Qur’an dan hadits Nabi”. Orang-orang khawarij yang suka mengkafirkan saudaranya sesama muslim dan melakukan teror dan pengeboman di sana-sini, kalau ditanya apa pegangan mereka, tanpa ragu-ragu mereka akan menjawab, “Rujukan kami Al-Qur’an dan Hadits Nabi”. Kaum syiah, yang gemar mencela dan mengkafirkan para sahabat Nabi yang mulia, setiap ditanya apa pedoman mereka, dengan fasihnya lisan mereka akan berucap bahwa pedoman kami Al-Qur’an dan hadits Nabi. Tetapi kenapa para ulama sepakat mengatakan mereka telah menyimpang dan tersesat jauh?

Mungkin akan timbul di benak kita, kenapa mereka bisa menyimpang dari ajaran Islam ini? Padahal rujukan mereka sama yakni Al-Qur’an dan Hadits Nabi

Bukankah ada sebuah hadits dari Rasulullah, Beliau bersabda, “Aku tinggalkan padamu dua perkara yang kalian tidak akan tersesat apabila (berpegang teguh) kepada keduanya, yaitu Kitabullah dan Sunnahku. Tidak akan bercerai-berai sehingga keduanya menghantarku ke telaga (surga). (Dishahihkan Al-Albani dalam kitab Shahihul Jami’)

Lalu dimana salahnya? Sudah berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan Hadits (sunnah) tapi masih dikatakan tersesat dan menyimpang oleh para ulama. Ini yang akan coba kita bahas pada artikel kali ini, bagaimana kita bisa memahami Islam dengan benar, agar kita tidak menyimpang dari jalan yang lurus.

Terpecahnya Umat Islam

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan kepada kita tentang terpecahnya umat Islam ini. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kamu dari ahli kitab telah berpecah belah menjadi tujuh puluh dua golongan. Dan sesungguhnya agama ini (Islam) akan berpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Tujuh puluh dua golongan tempatnya di dalam neraka dan satu golongan di dalam Surga, yaitu al-jama’ah.” (HR. Ahmad dan yang lain. Hadits hasan)

Ketika Rasulullah ditanya oleh para sahabatnya tentang siapakah “al-jama’ah” tersebut, beliau menjelaskan, Yang aku dan para sahabatku meniti di atasnya.” (HR. Tirmidzi, dan di-hasan-kan oleh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ 5219)

Berdasarkan dalil di atas, jelaslah mengapa banyak kelompok yang menyimpang, padahal rujukan dan pedoman mereka sama, yakni Al-Qur’an dan hadits. Jawabnya karena mereka tidak mengamalkan Al-Qur’an dan hadits sesuai dengan pemahaman para sahabat, mereka memahami Al-Qur’an dan hadits dengan pemahaman akal mereka sendiri, sehingga tidak menutup kemungkinan akan terjadi penyimpangan dalam cara mereka memahami serta mengamalkan Islam.

Mengapa kita harus beragama dan beribadah sesuai dengan pemahaman (manhaj) para sahabat ?

Karena para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang-orang yang paling tinggi ilmunya. Merekalah yang paling paham perkataan dan perilaku Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Merekalah manusia yang paling paham tentang Al-Qur’an, karena mereka telah mendampingi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala wahyu diturunkan, sehingga para sahabat benar-benar mengetahui apa yang diinginkan oleh Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga telah berwasiat kepada kita (yakni umatnya) untuk berpegang teguh dengan pemahaman para sahabat:

“Aku wasiatkan padamu agar engkau bertakwa kepada Allah, patuh dan ta’at, sekalipun yang memerintahmu seorang budak Habsyi. Sebab barangsiapa hidup (lama) di antara kamu tentu akan menyaksikan perselisihan yang banyak. Karena itu, berpegang teguhlah pada sunnahku dan sunnah khulafa’ur rasyidin yang (mereka itu) mendapat petunjuk.” (HR. Nasa’i dan At-Tirmi-dzi. Hadits hasan shahih)

Lalu siapa “khulafa’ur rasyidin” itu? Para ulama menjelaskan bahwa mereka itu adalah para sahabat yang mulia Abu Bakar, Umar, Ustman, dan Ali. Dalam hadits lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,“Sebaik-baik umat ini adalah generasiku (para sahabat), kemudian orang-orang yang mengikuti mereka (para tabi’in), kemudian orang yang mengikuti mereka (para tabi’tabi’in).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sahabat ‘Abdullah Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu juga telah meriwayatkan,

“Sesungguhnya Allah memperhatikan hati para hamba-Nya. Allah mendapati hati Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hati yang paling baik, sehingga Allah memilihnya untuk diri-Nya dan mengutusnya sebagai pembawa risalah-Nya. Kemudian Allah melihat hati para hamba-Nya setelah hati Muhammad. Allah mendapati hati para sahabat beliau adalah hati yang paling baik. Oleh karena itu, Allah menjadikan mereka sebagai para pendukung Nabi-Nya yang berperang demi membela agama-Nya. Apa yang dipandang baik oleh kaum muslimin (para sahabat), pasti baik di sisi Allah. Apa yang dipandang buruk oleh mereka, pasti buruk di sisi Allah.” (HR. Ahmad dalam al-Musnad, I/379, no. 3600. Hadits shahih)

Cukuplah dalil-dalil di atas sebagai bukti bahwa jika kita ingin selamat maka kita harus berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan hadits sesuai dengan pemahaman para sahabat. Dan masih banyak ayat maupun hadits lain yang menerangkan keutamaan serta lurusnya pemahaman para sahabat yang mulia.

Lalu bagaimana cara kita memahami al-qur’an dan hadits sesuai dengan pemahaman para sahabat?

Cara kita memahami Al-qur’an dan hadits sesuai dengan pemahaman para sahabat adalah kita tidak boleh mendahului mereka dalam beribadah, dalam menafsirkan suatu ayat ataupun hadits. Kita tidak beribadah yang tidak pernah dicontohkan oleh Nabi dan juga para sahabatnya, meskipun kebanyakan manusia menganggapnya baik. Para sahabat adalah sebaik-baik umat, tidak ada suatu amal ibadah dan suatu kebaikan yang mereka lewatkan, kecuali mereka akan berlomba-lomba mengamalkannya.

Sehingga para ulama membuat suatu kaidah dalam beragama yang berbunyi Laukaana khairan lasabaquunaa Ilaihi yang artinya, “Jika suatu perbuatan itu baik, niscaya mereka (yakni para sahabat) akan mendahului kita untuk mengamalkannya”. Waallohu a’lam bishawab.

Sutomo

Sumber:

  1. Cara Memahami Islam Yang Benar – nidauljannah.wordpress.com
  2. Keutamaan Para Sahabat Nabi – muslim.or.id
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s