Membaca Pengetahuan

Bismillahirrahmanirrahim.

1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan.” (Al-Alaq, 96:1)

Bacalah! ‘Baca’ menjadi awal kalimat dari wahyu pertama Allah kepada Nabi Muhammad shallallahu álaihi wa sallam. Allah mengajak Rasul dan umatnya untuk ‘membaca’. Namun apa yang harus dibaca? Quraish Shihab, dalam bukunya ‘Wawasan al-Qur’an’, menelaah kata ‘Iqra dari akar kata artinya menghimpun. Dengan kata lain ‘Bacalah’ di sini tidak harus berhubungan dengan sesuatu yang tekstual. ‘Menghimpun’ dapat dijabarkan lebih lanjut sebagai suatu kegiatan mengumpulkan, menelaah, meneliti, dan mengetahui. Shihab melanjutkan, frasa selanjutnya ‘Bismi Rabbik’ – dengan nama Tuhanmu Yang menciptakan, menegaskan Rasulullah dan umatnya untuk selalu ‘membaca’ berbagai macam pengetahuan (kejadian alam, sejarah, diri sendiri, dll.) dalam keadaan mengingat Allah.

Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu.

2. “Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!” (Al-Baqarah 2:31)

Murtada Mutahhari dalam buku ‘Theory of Knowledge’ berargumen bahwa ada sebuah distorsi terhadap ‘pengetahuan’ dalam cerita nabi Adam dalam Taurat. Taurat menceritakan bahwa Nabi Adam dan Siti Hawa terusir dari Firdaus karena menggigit buah Khuldi, dan, Taurat berkata, Khuldi tidak lain adalah ‘buah pengetahuan’. Hal ini mengatakan bahwa ilmu pengetahuan dan ajaran Allah adalah sebuah hal yang bertolak belakang.

Al-Qur’an malah mengatakan sebaliknya. Jika kita menelaah ayat di atas, jelas sekali bahwa Allah telah mengajarkan pengetahuan kepada nabi Adam, jauh sebelum Adam digoda Iblis untuk menggigit Khuldi di Firdaus. Bahkan sebelum nabi Adam ditetapkan untuk tinggal di Firdaus, Allah telah mengajarkannya nama-nama benda-benda. Jika informasi adalah salah satu sumber ilmu pengetahuan, maka Allah telah memberinya sebuah akses mendapatkan pengetahuan.

Mutahhari menegaskan, dari cerita ini kita dapat belajar dua hal penting. Pertama, Adam memiliki pengetahuan. Pengetahuan memberinya perspektif dalam memandang sesuatu. Perspektif itu akan memberinya ideologi yang akan memberi alasan dalam melakukan tindakan. Namun ada variabel yang mengacaukan input pengetahuan menuju output tindakan, Iblis membujuk Adam untuk memakan buah agar mendapat kekekalan. Iblis berkata lagi, itulah alasan Allah melarang Adam. Keinginan Adam telah melanggar ketakwaan dan keteguhan hatinya. Dan dalam hal ini tindakan Adam tidak sesuai dengan pengetahuan yang telah diberikan oleh Allah tentang buah Khuldi. Mungkin buah Khuldi atau proses menggigit khuldi dapat diibaratkan sebagai hawa nafsu yang terlepas dari manusia yang mampu mengacaukan akal dan keteguhan hati manusia.

Kedua, bahwa kita harus memilih ‘antara sains atau iman’ itu tidaklah benar. Bahkan Allah sendiri yang mengajarkan nama-nama, memberi pengetahuan kepada Adam. Bahkan, Al-Qur’an sendiri mengundang manusia untuk mempelajari apa yang ada di langit dan di bumi:

Katakanlah: “Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfa`at tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman”. (Yunus, 10:101)

Bacalah alam semesta  yang didalamnya terkandung tanda-tanda kebesaran Allah dengan menyebut nama Tuhanmu.

3. “dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam Keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” (An-Nahl, 16 : 78)

Untuk diskusi ini, ada dua asumsi yang harus diambil terlebih dahulu: pertama, bahwa pengetahuan itu memungkinkan untuk didapat; kedua, manusia terlahir dengan ‘fitrah’, dan ‘dengan tidak mengetahui apa-apa’ itu tidak bertentangan dengan konsep ‘fitrah’.  Jika ingin mengetahui lebih lanjut mengenai perihal ini silahkan membaca bab 1 dan 2 dari buku ‘Theory of Knowledge’ oleh M. Mutahhari.

Mari kita asumsikan bahwa pengetahuan itu memungkinkan. Namun pertanyaannya bagaimana membacanya dan apa alatnya?

Seperti dalam firman Allah, manusia terlahir dengan ‘keadaan tidak mengetahui sesuatupun’. Kemudian Allah memberi kita pendengaran dan penglihatan sebagai alat untuk menangkap pengetahuan. Indra sebagai alat untuk mengetahui. Kemudian hal-hal yang kita tangkap oleh indra akan membangun pengetahuan, tentu harus diproses oleh sebuah alat berikutnya untuk menganalisis dan menyintesis yaitu akal atau intelektual atau rasional.

Tapi apakah indra itu menyampaikan hal yang sebenarnya? Apakah ‘merah, biru, jingga’ yang kita tangkap oleh mata adalah benar merah, biru, jingga? Jika bintang yang kita pandang di langit malam saja ternyata (menurut para ilmuwan) telah mati jutaan tahun lalu, jadi apa kita hanya lihat telah tiada hanya tersisa jejaknya. Apakah indra berbohong? Kalau iya, akal dan intelektual juga diragukan. Ternyata Allah memberi jawabannya, kedua alat tersebut tidaklah cukup, ada alat ketiga bernama ‘hati’yang digunakan untuk bersyukur.

Syukur di sini, menurut Mutahhari, adalah memanfaatkan berkah sesuai dengan tujuan Allah menciptakannya. Bersyukur bukan sekedar mengucapkan syukur. “Bentuk syukur pendengaran adalah mempelajari semesta, bentuk syukur pendengaran adalah mendengarkan kebenaran, dan bentuk syukur hati adalah untuk berpikir, merenung, menganalisis, dan mengabstraksi.”

Bacalah alam semesta  yang didalamnya terkandung tanda-tanda kebesaran Allah dengan mempergunakan penglihatan dan pendengaran yang membentuk akal (intelektual), dan hati yang bersyukur untuk menyempurnakan pengetahuan, dengan menyebut nama Tuhanmu.

Maha benar Allah dengan segala firman-Nya.

 

[Ivan Kurniawan Nasution]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s