Tetap Taat Saat Melancong

 

Selagi belajar di Eropa, jalan-jalan ke negeri tetangga adalah pilihan yang mengasyikkan. Mumpung dekat dan murah. Tiket murah pun diburu, peta kota disiapkan, jalur dan moda transportasi ditelusuri, bahkan tempat makan pun dicari jauh-jauh hari. Tapi, mungkin banyak yang kerap lupa bagaimana menyiapkan diri agar tetap nyaman beribadah selama melancong. Persiapannya seringkali seadanya, dengan ilmu yang ala kadarnya juga. Padahal, ibadah kepada Allah tetap harus dijalankan di manapun berada, kapanpun dan bagaimanapun kondisinya. Tinggal bagaimana menyesuaikan diri sesuai syartiat yang diajarkan.

Pergilah melancong ke manapun. Tidak ada larangan. Persiapkanlah pula segala perlengkapan yang dibutuhkan selama perjalanan. Tapi, cobalah ingat juga untuk mempersiapkan beberapa benda dan hal praktis berikut ini sebelum perjalanan.

1. Kompas

Shalat lima waktu tetap harus dijalankan meskipun boleh di-jama’ dengan syarat dan ketentuan yang berlaku. Dalam menunaikan shalat fardhu, menghadap kiblat adalah keharusan yang tidak bisa ditawar. Maka, kompas yang reliable tidak boleh luput dari dalam tas atau koper. Jangan sampai, sudah jauh-jauh pergi ke Italia dan Spanyol, arah kiblat pun lupa dan hanya diterka-terka. Arahnya ke mana? Yang jelas ke arah Masjidil Haram. Contek peta sebentar dan perhatikan di mana arah kiblat dari posisi kita. Jauh sebelum pergi pun seharusnya kita sudah tahu di mana arah kiblat dari tempat kita jalan-jalan. Di Eropa, umumnya kiblat menunjuk ke arah tenggara (South-East).

2. Sajadah dan pakaian shalat

Kita tak pernah tahu di mana kita berada pada saat waktu shalat tiba. Barangkali sedang di pantai, di taman, di museum, atau tempat bermain semacam Disneyland. Shalat fardhu tetap harus berdiri dan tidak diperkenankan duduk, kecuali benar-benar darurat atau kondisi tidak memungkinkan. Jika sedang di dalam museum, keluarlah sebentar dan cari taman untuk menggelar sajadah. Tidak usah takut akan diperhatikan banyak orang. Jadi pusat perhatian saat shalat itu sudah biasa, tinggal kita sendiri –pede atau tidak. Jalan aja terus. Jika khawatir akan diganggu, shalatlah bergiliran. Jika teman seperjalanan tidak ada yang shalat selain kita sendiri, misalnya teman yang lain adalah non-muslim, minta mereka menjaga atau mengawasi kita agar tidak ada yang mengganggu. Percayalah, it works. Bahkan, kawan-kawan sekampus di Eropa pun bisa dengan mudah mengerti kalau kewajiban kita shalat lima waktu harus tetap dijalankan meskipun tengah di perjalanan. Nah, kalau sendirian? Pilihlah tempat yang agak sepi yang sekiranya tidak diganggu. Taman adalah pilihan yang baik. Meski ramai, taman relatif aman digunakan sebagai tempat shalat dibandingkan shalat di pojokan gedung.

3. Peralatan masak dan makan sederhana

Perkara makan itu ada dua: mencari yang murah dan mencari yang halal. Seringkali kita melulu berupaya mencari di mana makanan yang murah, tapi lupa mencari di mana makanan yang halal. Sudah bukan hal baru lagi bahwa di Eropa, sulit mencari makanan halal, kecuali Kebab Turki. Membawa peralatan masak dan makan sederhana sejatinya memenuhi dua tujuan tersebut. Bawalah sekadar rice cooker kecil di dalam koper sehingga bisa dengan tenteram memakan masakan sendiri –atau bahkan bisa menyiapkan bekal sejak di hotel. Beras, telor, pasta, indomie, atau makanan mudah saji lainnya bisa menjadi pilihan makanan yang dibawa. Koper berat? Ah, masa’ mau masuk surga ngeluh koper berat? Bersikap wara’ (menjaga diri dari hal-hal haram) akan meringankan langkah kita menuju surga –walaupun koper berat dibawa jalan-jalan.

4. Al Qur’an kecil

Kalau kamera dan tablet saja dibawa ke mana-mana buat foto-foto, masa’ sih Al Qur’an kecil saja sampai lupa dibawa. Foto itu dimensinya dunia. Kiamat, fotonya nggak bisa dilihat lagi. Yang terlihat nanti justru amal ibadah kita –diputar rekamannya selama kita hidup, bahkan tangan dan kaki ikut bicara. Selagi dibawa, bacalah Al Qur’an di sela-sela perjalanan atau di hotel. Barangkali, amalan sederhana membaca Al Qur’an sebelum keluar hotel mampu pula menjaga diri kita dari perbuatan yang tidak semestinya.

5. Reminder jadwal shalat

Di zaman canggih seperti ini, sudah banyak aplikasi jadwal waktu shalat yang bisa berubah otomatis atau manual sesuai lokasi. Tidak perlu lagi membuka-buka kalender segede gaban. Tinggal klik –atau poke, waktu shalat sudah diatur sedemikian rupa. Jangan lupa pasang alarm-nya sehingga waktu shalat tidak terlewatkan. Jika ada pengunjung lain yang tengak-tengok mendengar adzan gaya Mekkah atau Madinah dari handphone kita cuek aja –sambil cengar-cengir. Bilang saja, “The God calls me, Madamme…

Tentu ada beberapa modifikasi cara beribadah selama perjalanan. Beberapa pendapat ulama fiqih pun berbeda-beda pada setiap tata cara ibadah. Mulai dari ibadah di kendaraan (pesawat, kereta, atau bus), tata cara menggabungkan shalat (jama’) dan meringkas (qashr), sampai tata cara membersihkan najis setelah buang air kecil atau besar (istinja) dan bersuci, baik berwudhu atau tayammum. Ini menarik karena pasti berbeda dengan plesiran di Indonesia atau negeri dengan mayoritas muslim. Masjid jarang, toilet pun tidak ramah untuk ber-istinja dan bersuci.

Karena keterbatasan ruang, silakan simak kelanjutan tulisan ini di blog pribadi saya: aafuady.wordpress.com.

Veel plezier dan nyamankanlah diri dalam beribadah di perjalanan!

 

 

Rotterdam, Juli 2013

Ahmad Fuady

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s