Mari Kita Persiapkan Ramadhan dengan Ilmu

Teman-teman, tidak terasa sebentar lagi kita akan memasuki bulan Ramadhan. Agar persiapan menghadapi bulan Ramadhan kita tahun ini lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya, mari kita membekali diri kita dengan ilmu yang cukup tentang puasa (ash-shiyam). Oleh karena itu, pada edisi blog PPMR minggu ini, kami sampaikan beberapa hukum terkait puasa yang penting untuk kita ketahui. Pembahasan ini kami terjemahkan dari kitab fiqh Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil ‘Aziiz, karya salah seorang ulama dari Mesir, Syaikh Abdul Adzim Al-Badawi hafidzahullah. Semoga bermanfaat.

Hukum Puasa

Puasa Ramadhan merupakan salah satu rukun dan kewajiban di dalam Islam. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya),“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa”, sampai dengan ayat,”Bulan Ramadhan, bulan  yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)”. (QS. Al Baqarah: 183-185)

Ibnu  Umar radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Islam dibangun di atas lima perkara, persaksian bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, berhaji dan puasa Ramadhan”. (Muttafaq ‘alaihi. HR. Bukhari 1/106/46, Muslim 1/40/11, Abu Daud 2/53/387, Nasa’i 4/121)

Umat Islam telah bersepakat tentang wajibnya puasa Ramadhan dan merupakan salah satu rukun Islam yang dapat diketahui dengan pasti merupakan bagian dari agama. Barangsiapa yang mengingkari kewajiban puasa Ramadhan maka dia kafir, dan berarti keluar dari Islam.

Keutamaan Puasa

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu pasti diampuni”. (Muttafaq ‘alaihi. HR. Bukhari 4/115/1901, Nasa’i 4/157, Ibnu Majah 1/562/1641, Muslim 1/523/760)

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,’Setiap amal anak adam adalah untuknya kecuali puasa. Puasa tersebut adalah untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya. Puasa adalah perisai. Apabila salah seorang dari kalian berpuasa maka janganlah berkata kotor, jangan pula berteriak-teriak dan berperilaku seperti orang-orang bodoh. Jika ada seseorang yang mencaci dan mengajak berkelahi maka katakanlah,’Saya sedang berpuasa’, sebanyak dua kali. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tanganNya, sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah pada hari kiamat daripada bau misk/kasturi. Dan bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan, ketika berbuka mereka bergembira dengan bukanya dan ketika bertemu Allah mereka bergembira karena puasanya’”. (Muttafaq ‘alaihi. HR. Bukhari 4/118/1904, Muslim 2/807/-163-1151, Nasa’i 4/163)

Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Sesungguhnya di surga ada sebuah pintu yang disebut Ar-Royyaan. Pada hari kiamat orang-orang yang berpuasa akan masuk surga melalui pintu tersebut dan tidak ada seorang pun yang masuk melalui pintu tersebut kecuali mereka. Dikatakan kepada mereka,’Di mana orang-orang yang berpuasa?’ Maka orang-orang yang berpuasa pun berdiri dan tidak ada seorang pun yang masuk melalui pintu tersebut kecuali mereka. Jika mereka sudah masuk, pintu tersebut ditutup dan tidak ada seorang pun yang masuk melalui pintu tersebut”. (Muttafaq ‘alaihi. HR. Bukhari 4/111/1896, Muslim 2/808/1152, Tirmidzi 2/132/762, Ibnu Majah 1/525/1640, Nasa’i. Lafazh hadits ini terdapat dalam riwayat Bukhari.)

 Rukun-Rukun Puasa

  1. Niat

Karena adanya firman Allah Ta’ala (yang artinya),”Mereka tidaklah diperintah kecuali untuk menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam keadaan lurus”. (QS. Al Bayyinah:5)

Dan juga karena sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,”Sesungguhnya setiap amal itu tergantung pada niatnya. Dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yamg dia niatkan”. (Muttafaq ‘alaihi. HR. Bukhari 1/9/1, Muslim 3/1515/1907, Abu Daud 6/284/2186, Tirmidzi 3/100/1698, Ibnu Majah 2/1413/3227, Nasa’i 1/59)

Niat harus dilakukan setiap malam sebelum terbit fajar karena adanya hadits dari Hafshoh radhiyallahu ‘anha yang mengatakan,”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,’Barangsiapa yang tidak niat berpuasa sebelum fajar terbit maka puasanya tidak sah’ ”. (Shahih. Terdapat dalam Shahih Al-Jami’ Ash-Shoghir 6538. HR. Abu Daud 7/122/2437, Tirmidzi 2/116/726, Nasa’i 4/196 dengan semisalnya)

  1. Menahan diri dari hal-hal yang membatalkan dari terbitnya fajar sampai tenggelamnya matahari.

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya),”Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar”. (QS. Al Baqarah:187)

Adab-Adab Puasa

Dianjurkan bagi orang yang berpuasa untuk memperhatikan adab-adab berikut ini.

  1. Makan sahur.

Anas radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Makan sahurlah kalian karena sesungguhnya dalam sahur terdapat berkah”. (Muttafaq ‘alaih. HR. Bukhari 4/139/1923, Muslim 2/770/1095, Tirmidzi 2/106/703, Nasa’i 4/141, Ibnu Majah 1/540/1692)

Kita sudah dianggap makan sahur walaupun hanya dengan seteguk air, mengingat hadits dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu yang mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Makan sahurlah kalian walaupun hanya dengan seteguk air”. (Shahih. Terdapat dalam Shahih Al-Jami’ Ash-Shoghir 2945 dan Shahih Ibnu Hibban 223/884)

Dianjurkan pula untuk mengakhirkan makan sahur. Dari Anas radhiyallahu ‘anhu dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu berkata,”Kami makan sahur bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian melaksanakan  shalat”. Aku (Anas) berkata,”Berapa lama antara iqomat dan makan sahur?”. Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu berkata,”Jaraknya seperti membaca Al Qur’an 50 ayat”. (Muttafaq ‘alaih. HR. Bukhari 4/138/1921, Muslim 2/770/1095, Tirmidzi 2/106/703, Nasa’i 4/143, Ibnu Majah 1/540/1694)

Jika adzan terdengar sedangkan makanan dan minuman masih berada di tangan, maka boleh untuk meneruskan makan dan minum (yang ada di tangan tersebut) karena hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Jika salah seorang di antara kalian mendengar adzan sedangkan wadah minuman masih ada di tangan kalian, maka janganlah meletakkannya sampai dia menyelesaikan minumnya”. (Shahih. Terdapat dalam Shahih Al-Jami’ Ash-Shoghir 607. HR. Abu Daud 6/475/2333, Hakim dalam Al Mustadrok 1/426)

  1. Menahan diri dari kata-kata sia-sia dan kotor/menjijikkan dan sejenisnya yang bertentangan dengan puasa.

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Apabila salah seorang dari kalian berpuasa maka janganlah berkata kotor, jangan pula berteriak-teriak dan berperilaku seperti orang-orang bodoh. Jika ada seseorang yang mencaci dan mengajak berkelahi maka katakanlah,’Ana Shooimun’ (artinya ‘Saya sedang berpuasa’) ”. (Bagian dari hadits,”Setiap amal anak Adam … “ dan telah disebutkan pada halaman sebelumnya.)

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu juga berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan yang haram maka Allah tidak butuh dia meninggalkan makanan dan minuman”. (Shahih. Terdapat dalam Mukhtashor Shahih Bukhari 921. HR. Bukhari 4/116/1903, Abu Daud 6/488/2345, Tirmidzi 2/105/702)

  1. Dermawan dan mempelajari Al Qur’an.

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling dermawan dalam kebaikan. Di bulan Ramadhan beliau paling dermawan ketika bertemu dengan malaikat Jibril. Malaikat Jibril ‘alaihis salam menemuinya setiap malam sampai bulan Ramadhan berakhir. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyodorkan bacaan Al Qur’an kepadanya. Jika malaikat Jibril ‘alaihis salam  menemuinya, Rasulullah adalah orang yang paling dermawan dalam kebaikan dibandingkan dengan angin yang bertiup”. (Muttafaq ‘alaih. HR. Bukhari 1/30/6, Muslim 4/1803/2308)

  1. Menyegerakan berbuka puasa.

Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Manusia senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka puasa”. (Muttafaq ‘alaih. HR. Bukhari 4/198/1957, Muslim 2/771/1098, Tirmidzi 2/103/295)

  1. Berbuka puasa secara sederhana dengan hal-hal yang disebutkan dalam hadits berikut.

Anas radhiyallahu ‘anhu berkata,”Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam berbuka dengan kurma basah sebelum shalat. Jika tidak ada kurma basah maka beliau berbuka dengan kurma kering. Jika tidak ada kurma kering maka beliau minum  beberapa teguk air”. (Hasan Shahih. Terdapat dalam Shahih 20650. HR. Abu Daud 6/481/2339, Tirmidzi 2/102/292)

  1. Berdoa pada saat berbuka sesuai dengan hadits berikut.

Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berbuka beliau berdo’a,

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

”Rasa haus telah hilang, kerongkongan telah basah, pahala telah ditetapkan, Insyaa Allah”. (Hasan. Terdapat dalam Shahih Sunan Abu Daud 2066. HR. Abu Daud 6/482/2340)

Demikian pembahasan singkat terkait beberapa hukum seputar puasa. Semoga bermanfaat untuk bekal Ramadhan kita tahun ini.

 

Rotterdam, 28 Juni 2013

M. Saifudin Hakim

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s