Mari persiapkan Ramadhan kita, agar tidak tertipu

اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِى رَجَبَ وَ شَعْبَانَ وَ بَلِغْنَا رَمَضَانَ

(Alloohumma baariklanaa fii Rojaba wa Sya’ban, waballighnaa Romadhon)

Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, serta berkahilah kami dalam bulan Ramadhan

Ramadhan… Ya, ramadhan akan segera tiba. Lintasan waktu kembali membawa kita menuju gerbang ramadhan. Sejenak terlintas dalam diri kita, apa makna ramadhan yang telah kita lalui selama ini. Mungkin beberapa dari kita sudah 20 kali melewatinya, ada yang 25, ada yang 28 dan bahkan ada yang lebih 40 kali melaluinya. Adakah efek signifikan terhadap perubahan pada diri kita? Atau hanya berlalu seperti bulan2 biasa.

Begitu lihainya syaitan atau karena kuatnya nafsu kita, sehingga sering kita terlena dengan apa apa yang tampaknya baik tetapi dampaknya justru melemahkan esensi iman kita sendiri. Beberapa hal yang sering membuat kita terlena adalah :

1. Ramadhan membuat kita bersedih dan perginya membuat kita tertawa

Bagian dari persiapan nafsiyah adalah menyambut datangnya bulan ramadhan dengan hati gembira bahwa ramadhan telah datang sebagai bulan untuk taqarub kepada Allah Taála. Sehingga pada bulan ini kita akan berlomba-lomba untuk meningkatkan kualitas ibadah dan meraih derajat tertinggi di sisi Allah Taála. Salah satu cara untuk mempersiapkan jiwa dan spiritual untuk menyambut ramadhan adalah dengan jalan melatih dan memperbanyak ibadah di bulan-bulan sebelumnya. Bagi sebagian dari kita, atau sebagian besar mungkin, datangnya bulan suci ini membuatnya bersedih. Bersedih harus menahan makan minumnya, bersedih harus melawan panasnya matahari, bersedih karena harus sholat malam dan lain sebagainya. Segala aktivitas ini dirasa membebani dan bahkan sangat memberatkan. Tidak percaya? Buktinya ketika bulan ramadhan ini berakhir, semuanya bersuka cita. Satu syawal adalah hari dimana kita tidak pernah merasakan lapar sepanjang hari, gembira meninggalkan ramadhan yang menyiksa.

2. Produktivitas menjadi turun

Tak dapat dipungkiri bahwa aktifitas ramadhan banyak memerlukan kekuatan fisik, misalnya untuk puasa, qiyamullail, membaca al-Quran dan berbagai macam ibadah lainnya. Dengan kondisi fisik yang prima kita dapat melakukan ibadah tersebut tanpa terlewatkan sedikit pun. Lain lagi dengan kenyataan yang terjadi. Orang puasa dianggap lemah untuk bekerja. Sehingga banyak dari kita memaklumi atau minta dimaklumi apabila kita merasa lemah ketika puasa. Hampir semua sekolah atau kantor masuk lebih siang dan pulang lebih awal dengan alasan menghormati ramadhan. Tapi tahukah pandangan umat lain tentang hal ini? Ramadhan membuat kehidupan berjalan lambat! Bisa jadi itu benar karena kita ingin dimaklumi kalau itu semua karena kita berpuasa. Apakah Rasulullah mencontohkan hal yang demikian? Kurasa tidak.

3. Menghamburkan banyak uang untuk melepas ramadhan

Persiapan keuangan menyambut ramadhan adalah sesuatu yang penting. Banyak orang mempersiapkan untuk menyediakan menu buka puasa yang macam macam, membeli pakaian baru di hari lebaran atau menyiapkan bekal untuk pulang kampung dan sebagainya. Ironi….. ketika Allah mengajarkan kita untuk sederhana, menghayati penderitaan fakir miskin, kita malah menyambutnya dengan “foya foya”. Pengeluaran yang secara syar’i tidak diperlukan.  Sebenarnya kita diharapkan menyiapkan dan mengatur keuangan untuk berinfak, sedekah dan membayar zakat. Imam Tirmidzi meriwayatkan sebuah hadits, “Rasulullah pernah ditanya, ‘Sedekah apakah yang paling utama? Beliau menjawab,“Seutama-utamanya sedekah adalah sedekah di bulan ramadhan”.

4. Menghabiskan malam dengan tontonan televisi

Ramadhan bukannya menyurutkan minat kita untuk menonton TV, justru malah meningkatknnya. Peluang ini ditangkap oleh produser film, rumah2 produksi untuk membuat acara semenarik mungkin. Tak terputus selama 24 jam. Bayangkan 24 Jam! Kurasa tidak ada komen untuk hal ini.

5. Sepinya masjid di akhir ramadhan

Kalau kita pelajari hadits hadits mengenai ramadhan, 10 hari terakhir adalah yang paling utama. Tetapi kalau kita lihat kenyataannya, justru saat itulah paling sepi-sepinya masjid dari jamaahnya. Tidak tahu kita pada pergi kemana, yang jelas mall-mall menjadi penuh sesak saat itu. Puncak sepinya adalah pada 1 syawal. Hampir dipastikan masjid yang sudah sepi dari jamaah sholat, semakin bertambah lengang.

Rangkaian ramadhan ditutup dengan gegap gempitanya kita akan perginya bulan yang suci ini. Tak ada raut kesedihan akan kehilangan ramadhan, yang ada hanyalah euforia datangnya hari raya dan diiringi sepinnya masjid.

Semoga kita termasuk orang yang selalu diingatkan oleh Allah, dibimbing menuju ke arah kebaikan dan terhindar dari tipu daya dunia yang sekilas tampak menyenangkan.

Semarang, 18 Juni 2013

Zulfa Juniarto (PhD candidate, Erasmus MC; Dosen FK-UNDIP, Semarang)

(Nb. Tulisan ini memakai gaya bahasa dosen terhadap mahasiswanya. Maklum sedang menulis diktat kuliah)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s