Keutamaan Mempelajari Bahasa Arab

Teman-teman semua, mempelajari bahasa Inggris tentu sudah tidak asing lagi di dunia pendidikan kita secara umum. Kita pun bersemangat mempelajarinya karena memang bahasa Inggris adalah bahasa pengantar global yang harus dikuasai untuk bisa bersekolah di luar negeri, termasuk di Belanda. Namun, di antara kita mungkin ada yang melupakan bahwa terdapat bahasa yang lebih mulia dan lebih penting untuk dipelajari karena menyangkut agama kita, yaitu bahasa Arab.

Kita telah mengetahui bahwa bahasa Arab merupakan bahasa Al Qur’an dan hadits. Dengan bahasa ini pula, para ulama menulis berjilid-jilid kitab mereka untuk membantu memudahkan kita memahami agama Islam ini. Sehingga tidak perlu diragukan lagi, sudah selayaknya bagi setiap kita untuk mencintai bahasa Arab serta berusaha untuk menguasainya.

Allah Ta’ala berfirman yang artinya,”Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Qur’an dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya”  (QS. Yusuf [12] : 2). Salah seorang ulama ahli tafsir, Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah mengatakan ketika menjelaskan ayat ini, ”Sesungguhnya Allah menurunkan Al Qur’an dengan bahasa Arab, bahasa yang paling mulia dan paling jelas. Yang dapat menjelaskan bagi setiap orang yang membutuhkan penjelasan yang bermanfaat. Dan penjelasan ini adalah agar “kamu memahaminya”, yaitu agar mereka memahami batasan-batasan, pokok-pokok, cabang-cabang, perintah-perintah, dan larangan-larangannya”. (Tafsir Taisiir Karimir Rahman).

Ulama ahli tafsir yang lain, yaitu Ibnu Katsir rahimahullah, berkata ketika menjelaskan ayat di atas,”Karena bahasa Arab adalah bahasa yang paling fasih, paling jelas, paling luas, dan paling banyak pengungkapan makna yang dapat menenangkan jiwa. Oleh karena itu, kitab yang paling mulia ini (yaitu Al Qur’an) diturunkan dengan bahasa yang paling mulia (yaitu bahasa Arab.)”. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Adzim)

Hal ini ditegaskan lagi oleh firman Allah Ta’ala yang artinya, ”Dan sesungguhnya Al Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Rabb semesta alam. Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril) ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas”. (QS. Asy-Syu’araa’ [26] : 192-195)

Demikianlah, bahasa Arab adalah bahasa yang paling mulia, bahasa yang digunakan Rasulullah ketika menyampaikan dakwah kepada umatnya. Marilah kita merenungkan bagaimana berkumpulnya keutamaan-keutamaan dalam ayat ini: Al Qur’an adalah kitab yang paling mulia,  diturunkan melalui malaikat yang paling utama (yaitu malaikat Jibril ‘alaihis salaam), diturunkan kepada manusia yang paling utama pula (yaitu Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam), dimasukkan ke dalam bagian tubuh yang paling utama (yaitu hati), untuk disampaikan kepada umat yang paling utama, dengan bahasa yang paling utama dan paling fasih, yaitu bahasa Arab. (Tafsir Taisiir Karimir Rahman)

Terkait dengan kedua ayat ini, salah seorang ulama besar umat Islam, yaitu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,”Sesungguhnya, bahasa yang Allah pilih adalah bahasa Arab. Dia turunkan Kitab-Nya dengan bahasa Arab pula. Dan menjadikan bahasa ini pula sebagai bahasa Rasul-Nya. Oleh karena itu kami katakan, seyogyanya bagi setiap orang yang mampu mempelajarinya agar mereka mau mempelajarinya”. (Iqtidha’ Ash-Shirath Al-Mustaqim)

Allah Ta’ala juga memerintahkan agar kita men-tadabburi (memperhatikan) ayat-ayat Al Qur’an. Allah Ta’ala berfirman yang artinya, ”Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya. Dan supaya orang-orang yang mempunyai pikiran dapat mengambil pelajaran”. (QS. Shaad [38] : 29)

Pertanyaannya, bagaimana kita bisa men-tadabburi  Al Qur’an dan mempelajari hadits-hadits Nabi, sedangkan kita tidak faham bahasa Arab? Bagaimana kita bisa merespon perintah Allah Ta’ala itu? Pemahaman kita terhadap Al Qur’an dan hadits tidaklah sempurna kecuali dengan memahami bahasa Arab. Karena banyak sekali faidah-faidah dalam Al Qur’an dan hadits yang tidak dapat kita fahami kecuali dengan mengenal kaidah-kaidah bahasa Arab.

Oleh karena itulah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,”Ketika Allah menurunkan kitab-Nya dengan bahasa Arab, menjadikan Rasul-Nya di dalam menyampaikan Kitab dan As-Sunnah dengan bahasa Arab serta menjadikan generasi awal umat ini berkomunikasi dengan bahasa Arab, maka tidak ada jalan memahami agama ini kecuali dengan memahami bahasa ini. Maka, memahami bahasa Arab termasuk bagian dari agama. Membiasakan berkomunikasi dengan bahasa Arab akan memudahkan dalam memahami agama ini dan lebih memudahkan untuk menyebarkan syi’ar-syi’ar Islam. Serta lebih dekat untuk mencontoh generasi awal umat ini dari kaum Muhajirin dan Anshor dalam seluruh urusan-urusan mereka”. (Iqtidha’ Ash-Shirath Al-Mustaqim)

Salah seorang sahabat yang mulia, Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu mengatakan,”Belajarlah bahasa Arab, karena ia termasuk bagian dari agama kalian” (Iqtidha’ Ash-Shirath Al-Mustaqim).

Bahkan Imam Asy-Syafi’i rahimahullah mengatakan,“Maka wajib atas setiap muslim untuk mempelajari bahasa Arab sekuat kemampuannya, sehingga dia bersaksi bahwa sesungguhnya tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, dan dengannya dia bisa membaca kitabullah … “ (Ar-Risalah).

Sayangnya, mungkin hanya sedikit di antara kita yang mau meluangkan waktunya untuk mempelajari bahasa Arab. Terfikir untuk belajar bahasa Arab pun, mungkin tidak pernah sama sekali terlintas dalam benak kita. Namun, kita lebih tertarik untuk belajar bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya, bahkan sampai mengikuti kursus-kursus dengan menghabiskan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Bisa jadi karena dengan mempelajari bahasa Inggris, ada keuntungan duniawi yang bisa kita raih, yaitu mudahnya mendapatkan pekerjaan yang diinginkan atau keuntungan lainnya. Sedangkan apalah gunanya belajar bahasa Arab kalau hanya untuk memahami Al Qur’an dan hadits? Semoga tulisan ini menjadi pengingat yang baik, terutama untuk diri penulis sendiri dan juga untuk teman-teman semuanya.

[M. Saifudin Hakim. Disadur dengan beberapa perubahan dari buku karya penulis, “Saudaraku … Mengapa Engkau Enggan Mengenal Allah?]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s