Mi’raj-nya Nyamuk

GambarNyamuk bisa jadi makhluk yang menjengkelkan buat manusia. Hampir setiap tahun nyamuk membuat pejabat kesehatan negeri ini uring-uringan karena memaksa mereka yang memangku jabatan segera rapat dan memutuskan: kejadian luar biasa. Nyamuk mungkin tertawa saja. Apanya yang luar biasa? Toh, tiap tahun, bahkan tiap hari, sudah jadi job-nya si nyamuk menggigit manusia. Kalaupun ada yang luar biasa ya justru perilaku si manusia yang kerap kali lupa dan khilaf bahwa si nyamuk terus ada dan menusuk-nusukkan moncongnya menembus kulit manusia.

               

Boleh jadi nyamuk lebih paham bahwa Tuhan memang tak pernah malu menjadikannya permisalan. Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu.[1] Tuhan memang memberikan job description bagi nyamuk sebagai ‘musuh’ bagi manusia. Gigitannya membikin gatal dan bentol kemerahan. Isapan darahnya membuat kesal bukan kepalang. Yang sejenis Anopheles gemar membuat demam tinggi bersiklus yang orang sebut malaria. Sedangkan yang Aides membuat para ilmuwan menciptakan istilah diagnosis demam berdarah. Kinerjanya serupa teroris, terbang mengiang-ngiangkan suara di telinga sampai manusia terusik. Temannya bau apek, semak belukar, dan air menggenang.

               

Bagi nyamuk, itulah kemuliaan sejati bagi mereka. Risalah dari Tuhan buat mereka memang mengusik manusia. Maka, nyamuk akan dengan senang hati membuat orang-orang sakit karena begitulah nyatanya ibadah bagi mereka. Persembahan sejatinya kepada Tuhan. Dan dengan begitu, permisalan bagi mereka menjadi sesuatu yang mutlak kebenarannya. Tak ada pengadilan bagi nyamuk, juga tak ada pertanyaan dari malaikat zabaniyah untuk nyamuk: mengapa kamu membuat orang-orang jatuh sakit? Nyamuk hanya satu jawaban: begitulah mi’raj-nya kami menuju Tuhan.

               

Sedangkan manusia terus-terusan lupa mencari mi’raj-nya sendiri. Alpa untuk menelisik lebih berdaya tentang wahyu bahwa Tuhan tak pernah segan berumpama dengan nyamuk. Setiap tahun program dijabarkan, dilaksanakan setengah hati, lalu dievaluasi sambil kerap sedikit memaki. Kenapa terus berulang rumah sakit penuh hingga ruang rawat terasa terlampau sempit untuk menerima pasien? Mengapa juga jumlah pasien tak turun-turun meski setiap tahun iklan di segala media bercuap-cuap tentang 3M. Lotion anti nyamuk diproduksi, semboyan hidup bersih digalakkan. Cuma satu yang kurang: kesungguhan hati.

               

Seluruh Puskesmas diminta bergerak, tapi hanya setengah kalbu. Setengah lagi lari karena merasa biaya yang digelontorkan tak cukup tinggi. Para jumantik disuluh dan disuruh, entah berapa gajinya untuk anak istri. Masyarakat dikumpulkan di pos RT dan RW, lalu diceramahi sampai terkantuk-kantuk. Tapi, tetap saja pasien bejubel jika ‘musim’ demam berdarah tiba. Walaupun setiap kali evaluasi semua berebutan bilang: semua program sudah dikerjakan kok

               

Mestinya manusia malu. Mi’raj-nya kalah dengan mi’raj nyamuk. Setiap tahun lebih buruk rupa dibanding keledai, jatuh ke dalam lubang yang sama berkali-kali. Shalatnya hanya sampai ruku’ dan sujud, tak sampai-sampai ke langit. Karena seharusnya shalat itu mencegah keji dan munkar[2] sebagai indikator sahihnya ritual shalat manusia, maka yang tak pernah berujud pada hasil nahyi munkar adalah ketidaksempurnaan. Kesahihan yang tak mencapai ihsan.

               

Ibarat panggung sandiwara, setiap pelakon memiliki perannya. Si A jadi jagoan, si B jadi penjahat. Jika si B tiba-tiba mangkir dan kepingin jadi jagoan di atas panggung, sutradara pantas marah dan memecatnya sebelum pentas usai. Si B harus jadi penjahat, musuh bagi si A, dan tetap jadi musuh sampai pentas usai. Boleh jadi, jika si B mainnya apik, dia yang justru mendapat tepukan penonton dan kritisi. Bisa jadi pula dia yang kebagian award kalau ada acara anugerah-anugerahan.

 

Kalau logikanya begitu, bisa jadi manusia masuk neraka dan setan masuk surga. Toh, manusia diberi peran yang sungguh hebat dari Tuhan ketika Dia berfirman kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.”[3] Perannya hebat. Saking hebatnya, langit, bumi, dan gunung pun takut mengembannya.[4] Cuma manusia yang merasa ge-er dan sumringah diberi gelar ‘khalifah’. Kerjaannya adalah kerjaan besar: menjaga seisi bumi dan langit agar ikut tunduk dan patuh kepada Penguasanya. Setelah era nabi dan rasul usai, role-nya bertambah berat. Mengisi peran kenabian dan kerasulan meski tanpa nubuwah dan risalah. Tetap menjadi khalifah, kewajibannya membangun khilafah.

 

Kalau terpeleset gara-gara setan yang tiba-tiba menelusup dan menguasai nafsu, manusia pelan-pelan akan hancur. Perannya di atas panggung jadi kacau. Harusnya melakonkan adegan A jadi A minus. Mestinya bertutur B malah jadi C. Karena setelah di atas panggung, si jagoan kalah mental dari penjahat. Penjahat bilang, “Sudahlah, tak usah jadi pelakon A. Jadi saja pelakon B, nanti sampean boleh ambil gaji saya.” Si jagoan kalap mendengar janji manis, tergoda, dan jadi lupa bahwa dirinya diutus sutradara untuk jadi jagoan, bukan yang lain.

 

Sedangkan si penjahat makin gemilang. Tugasnya tuntas. Perannya yang diambil sendiri, “Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebahagian kecil,”[5] jadi semakin terasa hebat. Sayang, setan sudah terkutuk sejak semula dan dijanjikan Tuhan menempati neraka. Maka, tugas pengabdiannya kepada Tuhan, mencapai mi’raj-nya para setan, adalah dengan membujuk umat manusia untuk ikut jalan-jalan ke neraka.

Saking hebatnya setan dan hulubalangnya, manusia jadi sering merasa susah mencapai mi’raj-nya. Setiap tahun mereka lewati tanggal 27 Rajab, memperingati –entah suka hati karena libur nasioanl atau memang senang hati bermuhasabah tentang perjalanan Rasul ke Sidratil Muntaha, mi’raj masih terasa jauh dan berliku. Jangankan mi’raj, isra pun terasa berat. Mulut mulai enggan bertakbir, badan mulai goyah berdiri. Ruku’ tak sempurna, sujud hanya sekenanya. Iqamah-nya lepas, shalat pun hanya ritual sunyi. Ogah-ogahan. Maka, tanha ‘anil fahsyai wal munkar bisa jadi hanya angan-angan.

 

Konsekuensinya jelas. Disiplin pergi teratur, kejujuran mangkir berjamaah. Produktivitas mandul, kinerja mundur. Program, mulai dari rencana, tatalaksana, hingga evaluasi berulangkali hanya menyisakan syair yang diulang-ulang lagi. Mirip Pembukaan UUD 1945 yang dilantunkan tiap Senin pagi oleh anak-anak SD. Jelas, tapi hilang makna. Hanya rutinitas membabi buta.

 

Jika bertanya lagi pada nyamuk, “Apa yang membuat engkau dicintai Tuhan?” Si nyamuk akan berkata dengan suka hati, “Mengganggu manusia dengan suka cita adalah persembahan kami kepada Tuhan.” Maka, sudah sepantasnya manusia pergi mencari tangga dan mencari mi’raj-nya hingga ke ‘sidratil muntaha’ dengan melawan si nyamuk dengan gegap gempita. Seperti prajurit melawan penjajah, seolah bertarung di final kejuaraan dunia. Mati-matian. Tak ada lagi istilah setengah hati. Mencipta lotion, memproduksi semprot anti nyamuk, menyulam ribuan kelambu, membersihkan selokan dan bak mandi, mencari obat-obatan yang menyembuhkan, sampai membangun kesadaran lahir batin seluruh umat manusia bahwa mi’raj-nya mereka bukan sekadar nunggang-nungging shalat, tapi melakukan yang terbaik untuk kebaikan masyarakat.

 

Si nyamuk boleh saja tertawa sampai terbahak-bahak karena melihat manusia yang tak sadar-sadar. Bertanya-tanya, “Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?” Padahal, yang beriman yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka.

 

Jangan kalah sama nyamuk! Nyamuk yang banyak di rumah, kata Enno Lerian, “Gara-gara kamu, malas bersih-bersih.” Gara-gara kita, tak mencontoh sedikit sifat Tuhan yang Mahabersih dan Mahaapik. Kalau sudah begitu, tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik. (yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi.[6]

 

Jakarta, Juli 2009

22.31

               


[1] QS. Al Baqarah: 26

[2] QS. Al Ankabut: 45

[3] QS. Al Baqarah: 30

[4] QS. Al Ahzab: 75

[5] QS. Al Israa’: 62

[6] QS. Al Baqarah: 26-27

Iklan

Tentang aafuady

hanya ahmad fuady yang ingin berkisah tentang apa yang berkecamuk dalam dirinya. suka menolong orang sehingga ia disebut dokter, suka menulis sehingga ada yang menyebutnya penulis, suka mengajar dan ada yang memanggilnya dosen, suka meneliti maka dianggaplah ia peneliti, juga suka pada istri dan anaknya maka ia dipanggil Buya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s