aa_fuady

Saya masih ingat seorang pasien yang datang dengan nada cemas yang berlapis-lapis. “Saya sulit tidur seminggu ini,” katanya. Wawancara saya mulai dengan menyingkirkan faktor organik yang tak menjumpai sasaran. Hampir lima menit berkutat dengan beragam pertanyaan, akhirnya saya kembali mengakkan tubuh saya dan menjulurkan telinga saya. “Silakan cerita, saya mendengarkan, Pak.”

Setelah diam beberapa saat, ia mulai berkisah. Cemasnya memang tampak tak berujung. Pasalnya, ia baru saja menengok San Diego Hill sepekan sebelum bertemu saya. Rupanya, tak ada yang lebih mengkhawatirkan bagi seorang pria nyaris 60 tahun, kecuali pemakaman yang rindang dan nyaman sebagai tempat menyemai lelah selepas kepenatan dunia. Ia terobsesi, jelas. Tapi, tak pernah ia sangka bahwa tabungannya tak mencukupi untuk hidup tenang di alam kubur nanti.

                Tak tahu harus tertawa atau bersedih, saya menatap mukanya yang pilu. Lelaki itu tengah mempersiapkan kematiannya yang entah kapan ia jemput. Menjadi juru da’wah di meja konsultasi rasanya harus saya…

Lihat pos aslinya 532 kata lagi

Tentang aafuady

hanya ahmad fuady yang ingin berkisah tentang apa yang berkecamuk dalam dirinya. suka menolong orang sehingga ia disebut dokter, suka menulis sehingga ada yang menyebutnya penulis, suka mengajar dan ada yang memanggilnya dosen, suka meneliti maka dianggaplah ia peneliti, juga suka pada istri dan anaknya maka ia dipanggil Buya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s