Hati Seorang Ayah

Dua hari sebelum transplantasi

Anak satu tahun itu berdiri tegak di tempat tidurnya. Matanya menatapku yang masuk kamar tempat ia dirawat dengan senyum khas anak-anak sembari meloncat-loncat kecil dengan kedua tangannya yang gemuk memegang tepi tempat tidur yang pembatasnya dinaikkan setinggi dadanya. Qalby, itu nama gadis kecil yang lusa akan menjalani transplantasi hati. Di sampingnya tampak laki-laki muda sekitar 27 tahun memegang boneka Teddy Bear. Jauhar, ayah anak ini.

“Maaf , ibunya belum datang?” Tanyaku kepada wanita separuh baya yang berdiri di samping tempat tidur. Wanita yang merupakan nenek Qalby itu terdiam sambil memandangiku yang tengah mengeluarkan ose[1], swab[2], media agar[3], dan bunsen[4] untuk deteksi MRSA pada anak ini. Sambil memeluk Qalby, si nenek berkata, “Ibunya sudah pergi, Dokter…sejak cucu saya ini usia 4 bulan.”

“Dia malu punya anak lahir kuning. Sekarang saya dan ayahnya yang merawat Qalby.” Ia menoleh ke ayah Qalby yang tampak menunduk sembari memainkan hand phone Nokia lama 3315.

Ose yang kusterilkan di nyala bunsen bergetar, gubahan cerita di pikiranku berusaha menyatu dengan rasa kaget atas jawaban si nenek. Sulit membayangkan seorang ibu meninggalkan anak usia 4 bulan dengan alasan  malu atas kelainan si anak. Di sisi lain, sosok laki-laki yang konon lebih keras dari wanita ternyata menerbitkan kasih sayang merelakan separuh hatinya untuk dicangkokkan ke anak.

Berusaha menahan iba, kudekati Qalby kecil yang mulai ketakutan karena senyumku kini tertutup masker dan di tanganku yang berbalut hand scoen memegang swab serta media agar.

“Saya akan mengusap bagian dalam lubang hidung Qalby, Bapak, untuk pemeriksaan kuman.” Aku menerangkan tindakan yang diamanatkan kepadaku sebagai residen Mikrobiologi Klinik. Lelaki muda tampan itu hanya mengangguk, senyumnya tak mampu menghalangiku melihat matanya yang berkaca-kaca. Setelah kulakukan swab, kugoreskan swab pada agar dan kaca obyek. Kuambil ose yang telah kubakar tadi, kugunakan untuk meratakan hasil swab di kaca obyek untuk pengecatan.

“Maafkan Om Dokter ya, Sayang. Sudah selesai, kok…” Sapaku ke Qalby yang kini menangis di gendongan sang ayah.

“Bapak, Ibu, saya pamit, Insya Alloh nanti hasilnya akan saya laporkan ke tim dokter yang lain. Semoga hasilnya negatif sehingga Qalby dapat segera operasi dan sembuh.” Aku memohon diri.

“Matur nuwun, Pak Dokter,” ucap mereka dengan bahasa Jawa yang santun.

 

Hari transplantasi

Langkahku bergegas menuju ruang profesorku, lelaki seusia ayahku yang sangat kuhormati dan menjadi tempat menanyakan berbagai hal mulai dari infeksi mikrobiologi sampai hal-hal kehidupan. Usianya sekitar 60-an tahun, namun masih tegap dan penuh semangat.

Pagi ini hari transplantasi berlangsung, hasil kultur MRSA[5] Qalby negatif dan aku menunggu perintah profesor untuk hari ini dan setelah operasi. “Silakan duduk,” kalimat pertama yang beliau sampaikan saat aku masuk ke ruangannya.

Wajahnya seperti memendam kekhawatiran atas sebuah tanggung jawab. “Jadi, yang harus kita kawal mulai hari ini adalah infeksi paska operasi dan saya menugaskan saudara mengikuti perkembangan pasien ini. Catat semua tanda dan gejala infeksi. Jangan hanya terpaku dari hasil biakan  kuman atau jamur, tapi pandanglah pasien ini sebagai satu kesatuan manusia.”

Kurasakan hawa yang sangat berat seperti angin dingin yang tak bisa kutahan, tapi harus tetap kuterjang. Pengawasan terhadap infeksi berarti waspada 24 jam bila ada konsultasi PICU[6] ke departemen kami. Ini juga berarti aku harus bolak-balik ke rumah sakit, membagi kewaspadaan atas nasib Qalby dengan kehamilan istriku yang sewaktu-waktu sectio karena kandungannya semakin besar dengan dua bayi kembar di dalamnya.

“Baik, Prof.” Akhirnya kalimat pendek kesanggupan itulah yang dipaksakan terucap untuk posisi sebagai residen di Indonesia.

 

Hari kelima paska transplantasi

Ruang pertemuan PICU penuh sesak. Para guru besar, spesialis, residen, perawat PICU dan perwakilan direksi hadir di pertemuan harian transplantasi hati. Wajah-wajah yang selalu kukagumi sebagai kumpulan cendekiawan ini tampak tegang, saling berdiskusi mengenai nasib Qalby yang mulai tak stabil karena infeksi. Lambaian tangan Profesor memaksaku beranjak dari deretan bangku paling belakang, yang telah dikhususkan oleh para residen sebagai tempat duduk mereka, melewati tiga deret bangku yang diduduki perawat dan spesialis.

Sambil mendekatkan diri profesor berbisik, “Benar Anda sudah memberikan saran Voricoazole atas dasar ditemukannya jamur di selang ET[7]?”

“Benar Prof, karena tidak mungkin diberikan Nystatin untuk jamur yang sudah melanjut ke jaringan paru.” Aku mengulang kembali kalimat yang sebenarnya berasal dari Profesor sendiri saat aku melaporkan adanya pseudohifa[8] pada hasil pengecatan sekret ET. Saat itu beliau memberikan perintah yang sama dengan yang kuucapkan saat ini yaitu pemberian Voriconazole.

Beliau mengangguk dan mempersilahkan aku kembali ke bangku belakang. Suasana kemudian hening saat guruku ini berbicara untuk menerangkan semua aspek infeksi yang sedang dijalani Qalby kecil. Penjelasan yang kupahami, namun sulit kurangkum. Yang kuingat beliau menjelaskan sampai tingkat interaksi obat kedua anti jamur yang sedang diperdebatkan. Selain itu, juga mengenai kondisi infeksi Qalby yang tak hanya karena jamur saja, namun juga karena sistem kekebalan yang menurun.

Firasat tidak enak pun mulai menghinggap. Apakah anak ini masih bertahan?  Dari jawaban air muka para peserta rapat seolah jawabannya adalah tidak.

“Ikut doakan ya, Dik. Alloh Yang memegang setiap jalan hidup.” Sebuah kalimat disertai tepukan di pundak menyapaku. Tepukan spesialis KIC yang cukup akrab mengenalku.

Kalimat itu hanya kuiyakan saja. Lintasan bayanganku hanya Qalby kecil di tempat tidurnya meloncat-loncat kecil dengan kedua tangannya yang gemuk memegang tepi tempat tidur.

 

Hari keenam paska transplantasi

Jam 20.00 saat aku dan istriku pulang dari kontrol kehamilan. Kubuka handphone-ku, ada satu panggilan tidak terjawab dari salah satu kolega residen jaga PICU. Perasaanku mulai tak enak. Aku meneleponnya berkali-kali, tapi tak dijawab. Ada apa?

Sekitar jam 21.00 baru ada SMS dari kolega lain. Bunyinya sangat jelas, namun tetap santun. “Pak, terima kasih atas kerja samanya ya. Kita sudah berusaha semua, Bapak juga. Tapi, Qalby sudah tak mampu kita bantu lagi. Lima belas menit yang lalu meninggal setelah kami dalam suasana berjuang. Panjenengan yang sampaikan ke Prof ya, Pak.”

Inna Lillahi wa inna ilaihi raji’un…. Qalby kecil sudah pergi, membawa ketulusan cinta dari hati ayahnya.

Pagi hari saat aku dan beberapa rekan mengunjungi sang ayah, ia hanyatersenyum dengan pipi yang berhias alur kering bekas jalan air mata. Tangannya mendekap di perut seperti orang sholat. Tapi, jika aku bisa menerjemahkan, seolah ia berkata, “Dokter, terima kasih sudah meletakkan hati saya sebagai lambang cinta saya ke tubuh Qalby. Insya Alloh saya akan bertemu dengan Qalby di surga di mana saat itu ia akan berkata, “Di hatiku ada sebuah cinta berbentuk hati merah, dan hati itu adalah hati seorang ayah….”

 

(Berdasarkan kisah nyata, semua nama tak disebutkan dengan asli, kecuali nama Qalby).

 


[1] Ose: alat laboratorium berbentuk lurus dari nikrom (sebuah alloy nikel kromium).

[2] Swab: lidi kapas untuk mengusap material tubuh yang akan diperiksa.

[3] Media agar : bahan penanaman dari agar-agar untuk menumbuhkan kuman/jamur.

[4] Bunsen : lampu dengan bahan bakar spirtus.

[5] MRSA : Methicillin Resistant Staphylococcus aureus, kuman yang tahan terhadap antibiotik-antibiotik. Hanya antibiotik khusus yang dapat melawannya.

[6] PICU : Pediatric Intensive Care Unit, tempat perawatan anak intensif.

[7] ET : Endotracheal Tube, alat berupa selang dipasang melewati mulut sampai ke saluran nafas arah paru untuk membantu pernafasan.

[8] Pseudohifa : bagian jamur seperti akar, penanda infeksi meluas.

Iklan

Tentang aafuady

hanya ahmad fuady yang ingin berkisah tentang apa yang berkecamuk dalam dirinya. suka menolong orang sehingga ia disebut dokter, suka menulis sehingga ada yang menyebutnya penulis, suka mengajar dan ada yang memanggilnya dosen, suka meneliti maka dianggaplah ia peneliti, juga suka pada istri dan anaknya maka ia dipanggil Buya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s