Jika Saatnya Tiba

Oleh:

Muhammad Iqbal Gentur Bismono

 

Death arrives among all that sound like a shoe with no foot in it, like a suit with no man in it,
comes and knocks, using a ring with no stone in it, with no finger in it,
comes and shouts with no mouth, with no tongue, with no throat. Nevertheless its steps can be heard and its clothing makes a hushed sound, like a tree.” (Nothing but Death – Pablo Neruda)

Setelah beberapa minggu berada di Departemen Anestesi, kematian semakin akrab menyapaku. Satu persatu, manusia berjalan dari satu tempat ke tujuan berikutnya. Kematian tidak pernah datang seperti sebuah ledakan agung, dramatis, ataupun penuh gerakan dan teriakan putus asa. Kematian juga tidak mempunyai jejak cahaya lembut penuh kedamaian, lebih-lebih aura mencekam diiringi desau suara yang mendirikan bulu roma. Tidak. Kematian tidak seperti apapun di dunia ini. Kejadiannya mengubah siapapun yang berada di dekatnya. Mengubah cara pandang siapapun tentang hidup yang telah, sedang, dan akan dijalaninya.

 Berdasarkan Al Quran, kematian tidaklah memandang umur dan datangnya sudah ditentukan bagi setiap manusia, seperti yang tercantum sebagai berikut:“Katakanlah: Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu ke luar (juga) ke tempat mereka terbunuh”. Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati. (QS Ali Imran, 3:154)

Kematian pertama pasienku tidak pernah kulupakan. Seorang bayi kecil berumur 28 hari, yang mengalami sesak nafas sejak sehari sebelumnya. Ia harus menempuh perjalanan lebih dari 7 jam dari puskesmas di daerahnya hanya untuk meninggal di tanganku. Nyawa itu rapuh. Aku tidak berbicara tentang nyawa bayi tersebut, tapi justru hati dan nyawaku. Begitu berat dan menakjubkannya kematian, seperti sebuah alunan seruling, seperti desau angin di malam gulita. Begitu indah begitu cepat, tak teraba tak terindera. Sesaat hadir dan berlalu.

Begitu pula dengan kematian keduaku. Seorang lelaki muda yang hanya beberapa jam sebelumnya menyapaku di ranjang tempat tidurnya. Kami bahkan berbincang sejenak menggunakan bahasa isyarat karena di lehernya terpasang alat bantu nafas. Tiba-tiba seluruh tanda kehidupannya menurun, memburuk tanpa didahului gejala apapun. Selalu seperti itu. Aku tak pernah dapat mengutarakannya, seperti apa perasaan itu. Tapi seperti naluri, feeling, saat itu juga aku tahu ada yang salah: sesuatu yang buruk akan terjadi. Dan hanya sejam setelah perasaan itu muncul dan resusitasi jantung yang melelahkan, kematian kembali menghampiri menjemput apa yang membawanya kemari.

“Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS, Al-Munafiqun, 63:11)

Seiring kematian yang lain semakin sering menghampiri, aku semakin peka terhadap perasaan itu, terkadang begitu tajam, hingga menghilangkan harapan. Terasa kuat pada awalnya, kematian menyentuh indra, lalu perlahan menipis seperti kabut. Terasa kehadirannya, tapi tak pernah diketahui kapan terjadinya. Sekali waktu, terjadi begitu saja pada seorang wanita yang sedang kuberikan nafas bantuan karena semakin buruknya fungsi pernafasannya. Masker terpasang dan sekejap mata saja, seluruh tanda kehidupannya berhenti. Seluruh usaha yang diberikan tidak mampu melawan suatu ketetapan. Kami tahu usaha tersebut tidak percuma. Karena percuma atau tidaknya suatu usaha tidak dinilai dari hasilnya, tapi bagaimana kami menjalaninya. Pada saat seperti inilah terasa begitu miripnya antara kematian dan kehidupan. Seperti sebuah perjalanan melintasi pintu, dari ruangan satu ke ruangan lainnya. Seperti saat kita menekan tombol “off” pada pesawat televisi. Mungkin  kematian memang tidak lebih berarti dari matinya pesawat televisi.

Dan apabila telah tiba saatnya, tidak ada satu pun yang dapat memperlambat, apa pun usaha yang mereka lakukan. Tidak tanpa seijjin Allah SWT. Karena bagaimana pun, kematian adalah salah satu perkara ghaib, di mana hanya Allah lah pemegang kunci pengetahuan tentangnya.

 “Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS, Luqman 31:34)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s