KISAH PARA PEMBERANI

Oleh A. Zulfa Juniarto

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Hari berganti dan waktupun berlalu. Putaran roda zaman selalu melahirkan para pejuang. Banyak sosok yang sangat patut untuk diteladani, banyak juga yang menjadi pengecut zaman. Saat itu mereka bercerita tentang masa sebelumnya, dan saat ini, mereka menjadi bahan cerita kita.

Begitu pula kita sekarang, bisa bercerita akan masa lalu, tetapi ingatkah kita suatu masa kita akan menjadi bahan cerita anak cucu kita. Itulah kehidupan yang selalu lekat dengan berjalannya waktu dimana suatu saat, kita harus menyerah padanya…….suatu saat nanti.

Bagaimana seseorang memandang hidup, itulah yang akan tercermin dalam perlaku kesehariannya. Sebagai orang yang beragama, tentu aspek itu haruslah menjadi bagian terbesar dari hidup kita. Bagian yang seharusnya menjadi hal yang tak pernah terlewatkan.

Dalam syariat, ada hadiah berupa pahala dan syurga, tetapi ada pula ancaman berupa dosa dan neraka. Berikut, kami mencoba kemukakan beberapa golongan pemberani dalam versi yang berbeda.

  1. Orang yang berani meninggalkan sholat

Banyak diantara kita entah karena terlena dengan kehidupan dunia atau karena memandang kurang penting masalah sholat, meninggalkan sebagian atau seluruh sholatnya. Mungkin mereka tidak tahu bahwasanya orang yang meninggalkan sholat dengan sengaja hukumnya kafir…! Karena dalam hadist disebutkan Nabi shallallaahu’alaihi wa sallam:

 “Pokok segala urusan adalah Islam, tiangnya adalah shalat dan puncaknya adalah jihad.” (Imam Ahmad; at-Tirmidzi; Ibnu Majah)

Dan hadist lain

 “Sesungguhnya (pembatas) antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim)

Begitupula ini :

 “Perjanjian (pembatas) antara kita dengan mereka adalah shalat, maka barangsiapa yang meninggalkannya berarti ia telah kafir.” (HR. Ahmad, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, Ibnu Majah)

Karena orang yang mengingkari kewajiban shalat berarti ia mendustakan Allah dan RasulNya serta ijma’ ahlul ilmi wal iman, maka kekufurannya lebih besar daripada yang meninggalkannya karena meremehkan.

Wajib baginya untuk segera bertaubat kepada Allah dengan taubat nashuhah (sebenar benarnya taubat) dari perbuatannya tersebut, serta menyesali semua perbuatannya dengan melakukan qadha terhadap seluruh shalat yang ditinggalkannya sebagaimana pendapat jumhur fuqoha dan pendapat mazhab yang empat. Akan tetapi apabila ia tidak mengetahui jumlah shalat-shalat yang ditinggalkkannya itu maka wajib baginya untuk mengqadha shalat-shalat yang ditinggalkannya itu sehingga ia meyakini bahwa sudah tidak ada lagi kewajiban itu (qadha) baginya.

  1. Berani meninggalkan puasa

Puasa adalah salah satu dari lima rukun Islam yang menjadi landasan bangunan keislaman. Meninggalkan puasa dengan sengaja sama dengan meruntuhkan salah satu dari landasan itu, dan oleh karenanya merupakan dosa besar.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam pernah bersabda yang artinya,

“Ketika aku tidur, aku didatangi dua orang lelaki. Mereka pun mengambil lenganku dan membawaku ke gunung yang terjal. Mereka mengatakan kepadaku, ‘Panjatlah!’ Aku katakan, ‘Aku tidak bisa.’ Mereka menjawab, ‘Kami akan memudahkannya untukmu.’ Aku pun memanjatnya, hingga ketika sudah di puncak gunung, tiba-tiba aku mendengar suara yang keras. Aku bertanya, ‘Suara apa ini?’ Mereka menjawab, ‘Ini raungan penduduk neraka.’ Aku pun pergi hingga aku melihat sebuah kaum yang digantungkan tumit-tumitnya dan robek pipi-pipi mereka. Mengalir darah dari pipi mereka. Aku pun bertanya, ‘Siapa mereka ini?’ Mereka mengatakan, ‘Mereka ini adalah orang-orang yang berbuka sebelum waktu selesainya puasa’.” (HR. Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullahu di dalam Shahihut Targhib wat Tarhib)

Begitu mengerikannya azab yang kelak akan diterima orang-orang yang berbuka (tidak berpuasa) di bulan Ramadhan tanpa adanya udzur. Masihkah kita bermudah-mudahan dan meremehkan perkara ini? Tidak takutkah kita dengan ancaman siksa neraka seperti yang dikabarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam di atas?

Barangsiapa berbuka shaum Ramadhan tanpa  rukhsah (keringanan), juga tanpa sakit, tidak dapat mengqadlanya  walaupun dengan shaum satu tahun sekalipun.” (H.R. Tirmidzi).

3.  Berani membuka  aurat

Dalam Islam, wilayah pribadi sangat dilindungi. Dan, setiap Muslim diwajibkan untuk menjaga, menutupi, dan menyimpan jenis-jenis privasi tertentu yang biasa diistilahkan dengan aurat.

Kalau kita lihat di zaman sekarang, banyak sekali muslim/muslimah yang entah untuk alasan apa tidak lagi mengindahkan auratnya.  Jawaban paling banyak dari muslimah, setidaknya menurut saya, adalah belum siap dengan konsekuensinya, nanti kalau hati sudah terketuk hatinya dan lain sebagainya. Tahukah kita bahwa perbuatan itu adalah dosa? Apalagi kita lakukan dengan sengaja dan…….terus menerus. Menganggap remeh hal ini.
Rasulullah SAW bersabda, “Seluruh umatku akan diampuni dosa-dosanya kecuali orang-orang yang terang-terangan (berbuat dosa). Di antara orang-orang yang terang-terangan berbuat dosa adalah seseorang yang pada waktu malam berbuat dosa, kemudian di waktu pagi ia menceritakan kepada manusia dosa yang dia lakukan semalam, padahal Allah telah menutupi aibnya. (HR Al-Bukhari dan Muslim). Wallahu a’lam.

Tidak takutkah kita akan ancaman ini? Atau ancaman lain seperti hadist ini

Rasulullah bersabda : Ada dua golongan penghuni neraka yg aku belum pernah melihatnya Laki-laki yg tangan mereka menggenggam cambuk yg mirip ekor sapi utk memukuli orang lain dan wanita-wanita yg berpakaian namun telanjang dan berlenggak lenggok. Kepalanya bergoyang-goyang bak punuk onta. Mereka itu tidak masuk surga dan tidak pula mencium baunya. Padahal sesungguhnya bau surga itu bisa tercium dari jarak sekian dan sekian.?

  1. Berani menjadi orang awam agama dan pengejar ilmu dunia

Fastabiqul khairat…berlomba lomba dalam kebaikan. Begitulah motto dalam Islam. Banyak dari kita berjuang dengan sekuat tenaga untuk mengejar ilmu dunia. Sampai ke ujung langitpun kita upayakan. Tidak rela kalau kita dianggap remeh dalam keilmuan atau kapabilitas kita rendah.

Tidak ada yang salah sebenarnya dalam masalah ini, apabila hal itu diikuti dengan kewajiban yang disandarkan pada setiap muslim, yaitu  menuntut ilmu agama. Banyak dari kita mempunyai ilmu dunia yang mumpuni (dan ini fardhu kifayah) tetapi membiarkan dan rela ilmu akhirat kita, ilmu agama kita, tetap awam, tidak mendalam bahkan cenderung seadanya.

Wahai kaum yang berfikir! Sadarlah bahwa perjalanan yang lebih panjang itu adalah akhirat, maka kita yang alhamdulillah diberi kemampuan otak yang baik seharusnya bisa memberikan porsi yang seimbang antara dunia dan akhirat.

  1. Pembela golongan agamanya dan berani menyalahkan yang lain

Saudaraku para pemikir yang dirahmati Allah. Banyak dari kita yang melihat, mendengar atau bahkan menjadi pelaku dari banyaknya kejadian disekitar kita dimana satu pihak menyalahkan yang lain. Hampir semuanya mengaku sebagai ahli sunnah wal jamaah. Golongan orang orang yang melaksanakan sunnahnya Nabi, tapi mereka terlalu fanatik akan kebenaran golongannya. Sudahkah kita mempunyai bekal yang cukup untuk menilai sesuatu itu salah atau benar. Bahkan banyak dari kita, yang dengan modal minim dalam ilmu agama, merasa bisa menyalahkan yang lain. Tahukah kita, begitu banyaknya dalil dan hadits yang dapat digunakan sebagai hujjah/pedoman dalam menjalankan syariat?

Sudahkah kita menguasai ilmunya?

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah satu kelompok mengolok olok kelompok yang lain karena bisa jadi mereka yang diolok-olok itu justru lebih baik dari mereka yang mengolok-olok…….(Al Hujurat: 11)

Mencari kebenaran itu wajib, tapi tidak boleh terperangkap dengan menyalahkan kebenaran yang lain yang mungkin dalam pandangan kita berbeda. Kalau kita bermadzhab tertentu, sudah tahu betulkah madzhab kita tersebut? Atau hanya ikut ikutan saja. Karena sungguh, ibadah yang dilakukan dengan ilmu atau hanya ikut ikutan, perbedaannya seperti langit dan bumi.

Belajarlah! Tuntulah ilmu agama ini dengan semangat, seperti semangatnya kita akan menuntut ilmu dunia atau bahkan lebih!

Perhatikanlah hadits ini…..

“Manusia akan tetap berada di dalam kebaikan selama dia tidak mempunyai rasa benci.” (HR. Thabrani)

Semoga, tulisan ini bisa menjadi semangat dan pemicu gerakan hati menuju perubahan yang lebih baik.

Salam sejahtera di bulan Ramadhan, bulan yang penuh barakah ini.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Rotterdam, 8 Agustus 2012

Iklan

Tentang dufre

A husband and father, a chemical engineer graduated from Bandung Institute of Technology, the one who believes that learning will keeping you stay young.. :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s