Kotak Hitam

Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.” (Ali Imran 3: 96)

.

Baitullah. Rumah Allah. Titik pusat. Kotak hitam.

Sebelum (nabi) Adam diturunkan ke bumi, Baitullah ini telah ada ‘dibangun’ oleh para malaikat. Diletakkan langsung di titik pusat di bawah ‘langit’.  Malaikat-lah para peziarah pertama ke tempat ini.

.

Rupture pertama: (nabi) Adam dan Hawa terusir dari surga.

Setelah (nabi) Adam diturunkan ke bumi, Ka’bah pun termaterialisasi di bumi. (nabi) Adam meletakkan pondasi pertama menggunakan batu yang dibawa para malaikat dari lima gunung: gunung Sinai, gunung Hira’, Tur Zeeta, gunung Lebanon dan AI-Judi.

Fondasi untuk arsitektur yang pertama yang dibuat oleh manusia.

Syits (keturunan langsung Adam) yang kemudian memperkuat pondasi tersebut.

.

Rupture kedua: banjir bandang masa (nabi) Nuh.

Lokasi baitullah pun ‘menghilang’. (nabi) Ibrahim pun ‘ditugaskan’ untuk membangun kembali Ka’bah dilokasi pondasi yang diletakkan oleh (nabi) Adam, sebuah bukit kecil berwarna merah yang tidak terjangkau oleh aliran air.

(nabi) Ismail menyempurnakannya dengan memberikan Hajar Aswad, batu yang diturunkan Allah dari surga, yang dibawa oleh Jibril.

Ka’bah melalui berbagai penghancuran, pembangunan kembali yang berulang hingga jadilah sebuah kotak hitam yang selalu dikunjungi umat muslim setiap tahunnya, bahkan setiap hari.

Fungsi

Terletak di 21o 25’ Lintang Utara, 39o 50’ Bujur Timur.

Jika tata surya berputar pada matahari sebagai pusatnya, kaum muslim berputar mengitari ka’bah sebagai pusat. Tetapi Ka’bah tidak sama dengan Tuhan begitupula sebaliknya. Walau manusia sangat erat dengan simbolisasi. Namun ka’bah bukanlah simbolisasi umat islam akan Tuhan.

Ka’bah adalah kiblat.

Ka’bah hanyalah sebuah pusat.

Sebuah pusat bagi kaum muslim. Sebuah pusat agar tidak bercerai. Sebanyak apapun tercerainya umat islam, atas sedikit banyaknya perbedaan tata cara ajarannya, (seharusnya, kita) masih memiliki satu Tuhan yang sama: Allah, satu nabi penutup yang sama: Muhammad SAW, dua kalimat syahadat, lima rukun islam, enam rukun iman dan satu pusat yang sama: Ka’bah.

Ka’bah adalah sebuah titik.

Sebuah titik yang selalu kembali ke tempat yang sama.

Setelah hilang ditelan banjir bandang masa (nabi) Nuh, kemudian dibangun kembali oleh Ibrahim di tempat yang sama. Setelah terbakar dan hancur oleh banjir, dibangun kembali oleh bangsa Quraish. Setelah kembali hancur oleh pelontar api di era Yazeed Ibn Muawiyah, dibangun kembali oleh Abdullah Ibn AI-Zubair. Setelah ‘hilang’ dikotori dan dijadikan tempat menyimpan berhala, kemudian ‘dicuci’ dan ‘ditemukan’ kembali oleh Rasulullah SAW.

Dan Ka’bah selalu ditemukan kembali di titik yang sama.

Bentuk

Bentuk asal ka’bah yang dibangun (nabi) Ibrahim adalah persegi panjang (32 hasta – 22 hasta – 31 hasta – 20 hasta), tanpa atap dengan pintu di kedua sisinya. Dibangun dari tumpukan batu tanpa adukan semen.

Entah mengapa dan dari mana ukuran itu, mungkin pada masa itu belum adanya alat ukur yang ketepatannya hingga milimeter, entah itu keterbatasan material yang tersedia atau system konstruksi, entah itu suatu hal yang pragmatis, atau  entah itu perjanjian (nabi) Ibrahim dengan Tuhan. Kita tidak tahu pasti apa yang terjadi di masa itu kecuali dalam jejak yang ditinggalkan dalam kitab.

Bentuk Ka’bah yang kita kenal saat ini adalah hasil pembangunan oleh kaum Quraish. Denahnya berbentuk geometri sederhana, yang tidak sempurna: bujur sangkar iregular (11.68 m – 9.90 m – 12.04 m – 10.18 m). Bujur sangkar iregular itu di-extrude 12.25 m yang kemudian membentuk kubus iregular.

Entah darimana inspirasi bentuknya, bagaimana kaum itu bisa merupa bentuk kubus.

Akan ada banyak teori yang menjelaskan mengapa bentuk ini artinya begini dan mengapa bentuk itu artinya begitu. Tapi itu semua hanyalah dugaan dan interpretasi manusia yang terbatas terhadap bentuk, dimana alam ide manusia sudah mati begitu kita mengetahui sebuah ‘benda’ yang diasosiasikan pada sebuah bentuk. Ketika kita mulai ‘mengetahui’ apa itu kuda, seketika imajinasi kita mengenai bentuk kuda telah disimpulkan. Dan ‘kuda’ dalam pikiran kita akan menjadi archetype untuk melihat, kesamaan atau perbedaan, kuda lainnya atau untuk membedakannya dengan hewan yang lain. Mari kembali ke cerita…

Bentuk akan mempengaruhi asosiasi manusia terhadap benda. Dan asosiasi manusia terhadap benda akan selalu bergeser sejalan perubahan waktu dan budaya. Namun sebuah kubus akan tetap menjadi sebuah kubus dan selamanya akan menjadi kubus. Dilihat dari manapun kubus itu sama, isotropik. Mungkin itu tujuannya, agar tidak mengundang asosiasi yang berbagai macam hingga akhirnya timbul perselisihan atau bahkan pemberhalaan.

Piramida terlalu jelas, dan obelisk terlalu pagan. Jadi dipilihlah bentuk senetral mungkin.

Jawaban aman, mungkin terkesan malas, tapi itu yang saya pilih untuk disimpulkan pada saat ini. Percuma bertanya terlalu jauh jika saya malah menemukan jawaban dari tempat yang tidak tepat, lalu kecewa dan melarikan diri.

.

Tapi ada suatu pesan dibalik bentuk kubus iregular itu, yang berusaha sempurna namun tidak sepenuhnya sempurna. Sebuah rumah Tuhan yang sempurna, namun berulang kali ‘hancur’ dan dibangun kembali. Sebuah titik yang ‘diletakkan’ sempurna oleh Tuhan, namun tersusun dari batu diletakkan secara tidak sempurna oleh manusia. Sebuah dialog antara manusia dan Tuhan.

Sebuah monumen pengingat, bahwa bukan ka’bah yang kita sembah, tapi Allah yang satu.

Maha Benar Allah.

ditulis ulang dari “Arsitektur dan Iman”

Iklan

Tentang Ivan

After graduating from school of architecture Institut Teknologi Bandung, Indonesia in 2006, he worked for almost three years in an emerging Singaporean young firm, Park associates Architect. He design several residential projects to build with the office and published in some renowned architecture magazines such as D A. Since 2009 he is the founder of ruang magazines, an online architecture magazine that deal with urban and social problems in Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s