Ramadhan dan Bocah-bocah, Dulu dan Sekarang

Oleh Deary Hoesin

Assalamualaikum,

Hari ini (23 Juli) di tanah air sedang diperingati sebagai hari anak, jadi saya mengucapkan selamat hari anak buat semua anak-anak, special untuk para junior PPMR seperti Diaz, Mufid, Nadira, Rayhan dan semua yang tante Deary belum sempat kenalan langsung. Semoga kalian tumbuh menjadi anak yang saleh & saleha, cerdas dan bermanfaat bagi umat, aamiin.

Menyoal anak-anak dan Ramadhan, saya jadi ingat suka cita saya dulu sebagai anak setiap kali Ramadhan datang. Hati selalu diliputi kegembiraan saat menjelang beduk magrib, tak sabar rasanya melahap semua menu berbuka puasa hari itu. Lalu setelah shalat magrib, ceria bermain kembang api dan lilin warna warni bersama anak-anak tetangga dan sepupu-sepupu. Puas bermain beberapa saat, kami lalu berangkat ke mesjid bersama-sama. Mukena lengkap, sandal jepit yang tidak terlalu bagus (pake yang bagus takut hilang hehe), sedikit uang jajan, dan buku agenda Ramadhan. Iya, saya termasuk generasi 80an yang ketika masa-masa sekolah dulu masih diwajibkan mencatat semua kegiatan ibadah Ramadhan yang saya laksanakan beserta ringkasan ceramah udztad di mesjid. Lengkap dengan tanda tangan sang udztad dan stempel mesjid dan diketahui oleh orang tua.

Yang namanya bocah, pasti ada saja ulahnya. Niat ke mesjid hendak beribadah tetapi terselip juga kebandelan khas anak-anak. Seperti saya dan teman-teman waktu itu. Pernah buku agenda Ramadhan kami dicoreti dengan huruf besar-besar oleh pengurus mesjid yang kesal karena sepanjang ibadah tarwih malam itu kami bukannya shalat berjamaah tetapi ribut dan berlarian di halaman mesjid. Aku ingat tulisan yang ditulis dengan spidol besar itu berbunyi “TIDAK SHALAT TARWIH !”. Bukan main kecut hatiku saat menerima buku agenda itu kembali, takut kalau nanti di rumah ditegur lagi sama orang tuaku, lalu di sekolah ditegur lagi sama guru agama. Coretan pengurus mesjid itu benar-benar tepat sasaran dan membuat jera!

Lain waktu salah satu temanku satu sekolahan bermain petasan pada saat semua orang sedang khusyuk beribadah. Malang baginya, petasan itu malah mencelakai matanya sendiri. Sekarang setiap kali aku mudik lebaran dan berkesempatan bertemu dengannya dan melihat satu matanya yang buta itu, aku seperti diingatkan kejadian puluhan tahun lalu itu. Di rumahku sendiri, orangtuaku juga membelikan kami kembang api dan lilin warna warni, tetapi tidak petasan. Itu pun bermain lilin dan kembang apinya Cuma diizinkan di halaman rumah sendiri saja dan diawasi oleh orangtua atau pamanku, tidak ada yang membawa kembang api ke lingkungan mesjid.

Tidak satu itu saja temanku yang celaka karena kenakalannya sendiri. Pernah beberapa kali waktu itu kami keluar mesjid dengan alasan untuk berwudhu tetapi kemudian tidak masuk lagi ke mesjid, malah bermain kejar-kejaran, atau malah iseng masuk sesaat sebelum tahiyatul terakhir dan ikut duduk rapi di barisan shaf belakang selayaknya orang-orang yang sedang khusyuk shalat. Sekali waktu temanku yang ikut bermain lari-larian itu tersandung sandalnya sendiri pas kembali masuk mesjid dan dagunya menghantam undak-undakan tangga mesjid, akhirnya beberapa jahitan luka terpaksa menghias dagunya sampai lebaran datang. Sungguh setelah kejadian itu aku jadi kapok!

Aku menceritakan kenakalan masa kanak-kanak ini bukan hendak memberi contoh yang tidak baik buat para junior, tetapi sekedar sharing saja bahwa mengajarkan dan membiasakan anak-anak untuk melaksanakan ibadah Ramadhan (selain puasa tentunya) itu penting tetapi harus disertai pengawasan dari orangtua dan lingkungan.

Soal pengawasan terhadap anak-anak yang dalam tahap belajar beribadah Ramadhan di zaman aku kecil itu sepertinya lebih strict. Bagaimana tidak, pengurus mesjid menugaskan seseorang untuk mengawasi anak-anak yang bandel berkeliaran pada saat seharusnya mereka ikut beribadah. Petugas itu sangat dikenal dan ditakuti olehku dan teman-teman. Namanya Pak Alam, tugasnya berkeliling mesjid pada waktu-waktu yang tidak ditentukan dengan sebatang anyaman lidi yang kalian tahu untuk apa 😉 Yang bertanya-tanya apakah pak Alam tidak ikut shalat tarwih berjamaah? Jawabannya: di lingkungan rumahku itu ada beberapa mesjid, mesjid yang lama (kami menyebutnya surau, tempatku belajar mengaji dulu) shalat isya dan tarwihnya dimulai setelah jamaah di masjid besar selesai beribadah. Jadi semacam pengaturan shift mesjid untuk mengakomodasi mereka yang ingin tetap shalat berjamaah walaupun sedikit telat. Tapi di surau kebanyakan yang ikut adalah para orang tua dan orang-orang yang baru selesai berdagang selepas isya, dan jumlah rakaat shalat tarwihnya juga lebih banyak.

Pun pengaturan shaf shalat dibuat sedemikian rupa agar orang tua dapat mengawasi anak-anaknya. Shaf depan diisi oleh lelaki dewasa lalu di belakangnya baru shaf anak laki-laki, lalu untuk shaf perempuan dimulai dengan shaf anak-anak dan di belakangnya baru shaf perempuan dewasa. Dengan pengawasan seperti itu pun, masih saja kecolongan oleh kejadian-kejadian di atas.

Mungkin lain dulu lain sekarang, termasuk anak-anak, lingkungan dan orang tua. Ambil contoh pada saat tarwih pertama beberapa hari yang lalu. Di saat sedang khusyuk-khusyuknya mengikuti bacaan ayat pendek dari Imam, tiba-tiba terdengar bunyi petasan yang benar-benar merusak konsentrasi beribadah. Aduhh!! Tetapi kok seperti tidak ada tindakan yaa? Maksudku, kalau itu terjadi pada masa-masa aku kecil dulu, pasti pengurus mesjid akan segera mengumumkan lewat pengeras suara agar orangtua melarang anaknya bermain petasan di saat orang lain sedang khusyuk beribadah, apalagi di lingkungan mesjid karena hal itu sangat sangat mengganggu. Atau mungkin sekalian menghimbau orangtua untuk tidak membelikan anak-anak mereka petasan? Karena petasan itu benar berbahaya,  seperti yang menimpa teman masa kecilku itu, cacat seumur hidup gara-gara petasan.

Kalau dulu kita yang generasi 80-an ke mesjidnya membawa buku agenda Ramadhan yang mendapat tiga lapis pengawasan, sebut saja : pengurus mesjid, orang tua dan guru agama; anak-anak sekarang ke mesjidnya sambil menenteng handphone. Di sela-sela shalat mereka lalu kembali mengecek hadnphone-handphone itu, layaknya seorang pebisnis super sibuk yang harus tetap keep in contact dengan klien-kliennya 🙂 Sempat sepupuku yang masih abege kutanya “adek ngapain ke mesjid bawa-bawa handphone? Mau nelpon Allah ya? “, kusindir dengan becandaan begitu si bocah Cuma tersenyum jahil, tetapi syukurnya dia tidak sibuk sms-an di sela-sela shalat dan pada saat kultum dari udztad 🙂

Lalu mengenai susunan shaf, dari dua mesjid tempat aku sering shalat tarwih, sepertinya tidak ada aturan susunan shaf seperti mesjid-mesjid di kampong halamanku itu. Bisa dibilang shaf anak-anak menclok di sana sini. Akibatnya pada saat mereka “ngadat” dan tidak mau melanjutkan shalatnya, shaf jadi terputus dan terlihat ‘aclok-aclokan” seperti barisan gigi yang ompong. Pun jadi lebih sulit mengawasi mereka. Padahal bukannya barisan shaf harus lurus dan rapi?

Oh iya, mumpung lagi berbicara tentang shaf. Ada baiknya kita memperhatikan sajadah yang kita bawa untuk shalat berjamaah di mesjid: jangan berlebih-lebihan. Maksudku jangan berlebih-lebihan ukurannya hehe 😀 Aku sering melihat beberapa orang membawa sajadah yang luar biasa bagusnya, tebal dan lebar sekali. Lalu sajadah yang kelewat lebar itu pun pada akhirnya membuat barisan shaf kembali terlihat seperti barisan gigi yang ompong di sana sini karena tetangga kanan dan kiri si empunya sajadah segan untuk ikut menggeser sajadahnya menutupi sedikit sajadah mahal tadi 🙂

Kembali lagi soal anak-anak dan Ramadhan, semalam mataku terpaku pada 2 gadis kecil, kembar, mungkin berusia sekitar 3 tahunan. Menyenangkan rasanya melihat gadis-gadis kecil itu ikut ibunya melaksanakan shalat tarwih di mesjid. Tetapi tidak pada saat si gadis kecil mulai rewel lalu menular ke kembarannya yang mendadak ikut ngadat dan memukul-mukulkan mukenanya ke segala arah tak lupa diiringi kentut yang nyaring yang mau tak mau mengganggu jamaah lainnya 🙂 O mine! Sweetness has turned into chaos haha 😀 Mungkin si kecil tadinya bersemangat belajar beribadah berjamaah tetapi lalu bosan harus menunggu ibunya menyelesaikan 20 rakaat tarwih plus 3 rakaat witir 🙂 Uhmm.. seperti harus menjadi catatanku sendiri jika kelak menjadi ibu agar tak terlewat point-point penting tentang ibu dan ibadah berjamaah 🙂

Nah, lain dulu lain sekarang memang, jaman berganti, anak-anak pun hidup pada masanya, mereka tak akan mengalami suasana Ramadhan seperti di masa kecil kita dulu. Walaupun begitu. excitement anak-anak untuk ikut melaksanakan ibadah di bulan suci Ramadhan itu akan selalu ada, dan hal itu perlu dibina, dibimbing dan diarahkan (beuhh, sudah seperti orangtua saja kalimatnya), tidak hanya oleh orangtua dan guru, tetapi juga lingkungan. Ingat kata pepatah “It takes a whole village to raise a child” 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s