At-Tathayyur

….is easily said and done yet extremely dangerous.

At-Tathayur-Merusak-Tauhid

**************************************************************

Seperti biasa setiap senin sore Kakak dan Adik belajar Iqro’ di masjid dekat rumah. Sore itu mereka berangkat dengan berjalan kaki, biasanya aku atau istriku yang antar jemput mereka. Jarum jam sudah menunjukkan pukul lima sore, jam segini biasanya sudah ada sms dari ustadzah kalau anak-anak sudah siap dijemput. Setelah menunggu beberapa lama, sms dari ustadzah tak kunjung kami terima, karena khawatir aku pun berangkat menjemput anak-anak. Baru saja keluar dari rumah aku melihat mereka berdua tertawa-tawa melihatku yang hendak berangkat menjemput. Mereka seolah-olah senang karena berhasil membuatku ‘kecele’.

“Yah, tadi Adik kejatuhan cicak. Katanya Melani kalau habis kejatuhan cicak itu bisa kena musibah” cerita Kakak begitu aku mendekati mereka.

“Melani dibilangi siapa Kak?” tanyaku menyelidik.

“Katanya ibunya Melani, Yah” jawab Adik.

“Kita ndak boleh percaya sama yang gituan, Nak. Hanya Allah yang menentukan apakah kita akan celaka atau tidak. Kita tidak boleh percaya dengan hal-hal seperti itu, nanti bisa membuat kita berbuat syirik kalau mempercayainya” jawabku singkat kepada mereka berdua.

Kejadian itu langsung mengingatkanku pada kepercayaan-kepercayaan sejenis yang begitu kental mewarnai kehidupan masyarakat di daerahku.

Siapa ya yang meninggal kok ada suara emprit gantil…

Siapa ya yang mau dateng kok burung prenjaknya berkicau-kicau terus…

Kepercayaan-kepercayaan tersebut begitu membekas dalam ingatanku. Proses penanaman keyakinan itulah yang mungkin sedang dialami oleh Melani. Padahal Melani notabene hidup di kota yang mana nilai-nilai budaya cenderung memudar dibandingkan dengan kehidupan masa kecilku di desa pelosok. Ditambah lagi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang ada saat ini cenderung membuat orang untuk berpikir rasional. Namun barangkali kurang pas mengkaitkan antara kepercayaan-kepercayaan tersebut dengan konteks kota dan desa ataupun dengan kemajuan iptek, karena kenyataannya kepercayaan-kepercayaan itu masih terus diwariskan.

Tak jarang kita dengar juga perkataan-perkataan seperti misalnya, “Eh jangan begitu nanti pamali (raelok = jawa)”. Mungkin ucapan-ucapan semisal terlontar secara spontan entah dengan maksud bercanda ataukah bersungguh-sungguh, akan tetapi yang jelas bahwa hal itu akan mempengaruhi alam bawah sadar kita, sehingga apabila tidak segera ditepis akan menimbulkan suatu sugesti.

Kepercayaan-kepercayaan tersebut mungkin bagian dari budaya yang diwariskan secara turun-temurun. Bisa jadi di setiap daerah ada akan tetapi mungkin berbeda-beda bentuk kejadian yang diyakininya.

Di dalam Islam kepercayaan-kepercayaan itu disebut dengan At-Tathayyur.

Mengenai at-tathayyur ini silakan baca artikel yang ditulis oleh Abu Muhammad Abdul Hadi berikut ini.

MENGENAL “AT-TATHAYYUR”

PENGERTIAN “AT-TATHAYYUR”

“At-Tathayyur” secara bahasa, adalah mashdar dari (kata) – تَطَيَّرَ – (Tathayyara)- asal mulanya diambil dari kata -الطَّيْرُ – (Ath-Thairu) (yang berarti burung) , karena bangsa Arab (sebelum datangnya Islam (1)) menentukan nasib sial dan nasib baik dengan menggunakan burung-burung, melalui cara yang telah mereka ketahui, yaitu dengan melepaskan seekor burung, kemudian dilihat apakah burung tersebut terbang ke kanan, ke kiri, ataukah terbang ke arah yang mendekati (kanan atau kiri). Jika (burung tersebut) terbang ke arah kanan dia pun berangkat (maju), (dan jika) terbang ke arah kiri, maka dia pun mundur (menahan diri untuk berangkat).
Adapun (“At-Tathayyur”) dalam istilah (syari’at) adalah merasa bernasib sial disebabkan karena sesuatu yang dilihat atau didengar, atau karena sesuatu yang diketahui (selain dari yang dilihat atau didengar).(2)

BEBERAPA CONTOHNYA
Berikut ini beberapa contoh “At-Tathayyur” berdasarkan beberapa sebabnya:

  1. Karena sesuatu yang dilihat. (3). Misal: Seseorang melihat seekor burung, kemudian dia merasa dirinya akan mendapatkan kesialan karena (menurut anggapannya) burung tersebut membawa sial.
  2. Karena sesuatu yang didengar. Misal: Seseorang telah berniat (melakukan) sebuah urusan, lalu dia mendengar seseorang mengatakan kepada orang lain (selain dirinya): “Hai si Rugi” atau “Wahai Orang Gagal”(4), kemudian dia merasa akan bernasib sial (mendapatkan kerugian atau kegagalan karena omongan orang tadi).
  3. Karena sesuatu yang diketahui. Misal: Merasa sial dengan beberapa hari tertentu, bulan-bulan tertentu, atau tahun-tahun tertentu. Contoh yang ketiga ini adalah sesuatu yang tidak bisa dilihat dan tidak bisa didengar. (2)

BAHAYA “AT-TATHAYYUR”
“At-Tathayyur” dapat meniadakan “At-Tauhid ” dari dua sisi:
1. Pelaku “At-Tathayyur” telah menghilangkan tawakkalnya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, serta bersandar kepada selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Padahal Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah satu-satunya tempat bergantung. Sebagaimana disebutkan dalam surat Al-Ikhlas ayat ke-2 yang artinya:
“Allah adalah Rabb yang bergantung kepadanya segala sesuatu.” (Al-Ikhlas: 2)
dan perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam surat Hud ayat 123:
“..maka sembahlah Dia, dan bertawakkallah (hanya) kepada-Nya” (Hud: 123)
2. Pelaku “At-Tathayyur” sesungguhnya bergantung kepada sesuatu yang tidak ada hakekatnya, bahkan hal itu hanya sebuah dugaan dan hayalannya saja (yang tidak layak untuk dijadikan tempat bergantung). Karena antara sesuatu yang dijadikan tathayyur dengan kejadian yang menimpanya tidak memiliki hubungan apa-apa (terkhusus hubungan sebab akibat). Bagaimana bisa belok kanannya burung menjadi penentu nasib baiknya seseorang, Hal ini jelas dapat merusak Tauhid seseorang, karena dapat memalingkan tawakkal kita kepada selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala , ketika umat Islam di tuntut untuk beribadah dan beristi’anah (meminta pertolongan) hanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala , Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman (yang artinya):
“Hanya kepada Engkaulah kami beribadah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.” (Al-Fatihah: 4)
dan kita pun di tuntut untuk bertawakkal hanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala saja, sebagaimana disebutkan pada surat Hud ayat ke-123 diatas. Sehingga Tawakkal adalah sebuah ibadah yang tidak boleh dipalingkan kepada selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala. (2)
Perbuatan “At-Tathayyur” atau “Ath-Thiyarah”(5) haram untuk dilakukan, karena termasuk perbuatan syirik, sehingga dapat menghilangkan Tauhid seorang Muslim. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:
الطِّيَارَةُ شِرْكٌ ـ الطِّيَارَةُ شِرْكٌ ( ثلاثا )

“Ath-Thiyarah adalah kesyirikan, ath-thiyarah adalah kesyirikan (3 kali).
(HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad dan selain mereka) (6)

CARA HILANGKAN “AT-TATHAYYUR”
Sebagaimana dijelaskan oleh Shahabat yang mulia ‘Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu dalam kelanjutan riwayat hadits di atas, bahwa “At-Tathayyur” atau “Ath-Thiyarah” dapat dihilangkan dengan “Tawakkal” kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala saja. Bergantung hanya kepada Allah i dalam rangka mendapatkan manfaat atau menolak mudharat, serta mengiringinya dengan usaha. Sehingga apapun yang menimpa kita baik berupa kesenangan, kesedihan, musibah, dan yang lainnya, kita yakini bahwa itu semua merupakan kehendak-Nya yang penuh dengan keadilan dan hikmah. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam telah mengajarkan kepada kita (umat Islam) sebuah do’a:

اللَّهُمَّ لاَ خَيْرَ إِلاَّ خَيْرُكَ وَ لاَ طَيْرَ إِلاَّ طَيْرُكَ وَ لاَ إِلهَ غَيْرُكَ

“Ya Allah, tidaklah kebaikan itu datang kecuali dari-Mu, dan tidaklah kesialan itu datang kecuali dari-Mu, dan tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Engkau.” (HR. Ahmad) (7)

Dengan mengetahui perkara tersebut, kita berharap bisa lebih berhati-hati dalam menyikapi suatu keyakinan-keyakinan yang tidak bersumber dari Al-Qur’an maupun Al-Hadits,
Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjauhkan kita dari perbuatan dan keyakinan syirik. Amiin
Wallahu A’lamu bish_shawab

CATATAN KAKI:

(1) Hal ini tidak menutup kemungkinan bahwa di jaman ini masih ada orang yang memiliki keyakinan tersebut.
(2) Diringkas dari kitab “Al-Qaulul Mufid”, Bab: “Ma Ja-a fit-Tathayyur” , hal. 348 , Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah.
(3) Sesuatu yang dilihat itu bisa berupa binatang, seperti: burung, cicak, ular, dan lain sebagainya, atau selain binatang seperti: bintang, komet pohon dan lain sebagainya.
(4) Atau istilah lain yang menunjukkan kerugian dan kegagalan, seperti: “Wahai si Bangkrut”, dan lain sebagainya.
(5) “Ath-Thiyarah” adalah isim mashdar dari “At-Tathayyur” , maknanya sama.
(6) HR. Abu Dawud no.3910 , At-Tirmidzi no.1614, Ibnu Majah no.3538, Ahmad no.3687, 4194 , Ibnu Hibban no.6122 , Al-Hakim no.43 (1/64) dan yang lainnya. Al-Maktabah Asy-Syamilah 1.
(7) HR. Ahmad no.7045 , Al-Maktabah Asy-Syamilah 1.

DAFTAR PUSTAKA:
– Al-Qaulul Mufid, Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah
– Al-Maktabah Asy Syamilah 1 dan 2

Sebagai penutup dan pengingat betapa berbahayanya at-tathayyur ini marilah kita renungi firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam surat An-Nisa’ ayat 48:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا

Artinya: Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.

Sebagian ulama menafsirkan “Allah tidak akan mengampuni dosa syirik” dengan mengatakan bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak akan mengampuni dosa syirik yang dibawa mati.

Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala senantiasa memberikan hidayah-Nya serta menjauhkan kita dari perbuatan dan keyakinan syirik. Allahumma Aamiin.

Bagi teman-teman yang ingin membaca sumber lengkapnya ada di sini: http://buletinassalaf.wordpress.com/2009/02/20/benarkah-bulan-shafar-bulan-sial/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s