Jamban

Apabila kalian mendatangi tempat buang air maka janganlah kalian menghadap ke arah kiblat ketika buang air besar ataupun kencing, serta jangan pula membelakangi kiblat. Akan tetapi menghadaplah ke arah timur atau ke arah barat…” (Shahih Bukhari 380)

Makruh buang air kecil di kamar mandi, karena dikhawatirkan sisa air kencing akan mengenai badan orang yang mandi.” (HR Tirmidzi)

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah…” (Al-Maidah 5: 6)

Saya masih ingat cerita kedua orang tua saya yang sempat tinggal di tepian sungai Cisadane, Tangerang. Beberapa aktivitas mereka yang menggunakan air: mencuci, mandi dan buang air bergantung kepada aliran sungai. Masyarakat tradisional (mungkin) terbiasa melakukan aktivitas mandi dan buang air di dua tempat berbeda, walaupun di muara yang sama, misalnya sungai, namun ada tempat khusus untuk buang air dan tempat untuk mandi dan mencuci. Hal ini tentu tidak nyaman dan pantas untuk dilakukan di kota-kota besar dengan masyarakat modernnya. Modernisme yang membawa kita kepada bentuk kamar mandi yang seperti saat ini: shower/ bathtub, washtafel  dan kloset semua tercampur dalam satu ruang.

.

Ada kecenderungan untuk memisahkan jamban dan tempat mandi di beberapa Negara di Asia dan Eropa. Seperti di Jepang yang mengutamakan kebersihan, cenderung untuk memisahkan antara tempat kotor: jamban/ toilet, dari kata toire (トイレ) merujuk pada kloset dan tempat bersih, kirei (きれい): kamar mandi. Hal ini didukung anggapan untuk memisahkan air bilasan sabun dengan air buangan dari jamban karena alasan higienis.

Penempatan secara terpisah antara shower dan toilet ditemukan juga di beberapa bangunan HDB (Housing Developmenr Board, namun juga istilah yang digunakan untuk menyebut rumah bersubsidi) lama Singapura dan di beberapa bangunan apartemen dan rumah di Belanda pemisahan jamban dan tempat mandi seolah menjadi sebuah protokol. Hal ini mungkin dikarenakan alasan efisiensi, agar penggunaan toilet dan kamar mandi dapat digunakan secara terpisah pada saat yang sama.

Mari kita sejenak merefleksikan jamban (jika pantas) dalam konteks iman. Mandi atau mensucikan diri adalah ibadah, hukumnya wajib jika kita dalam keadaan junub, hal ini sejalan dengan prinsip kirei Jepang, untuk bersuci pun harus diawali dan diakhiri dengan doa. Sebaliknya, jamban adalah tempat yang kotor, tempat berkumpulnya syaitan untuk masuk dan keluar tempat ini pun harus diiringi doa. Seperti yang disebutkan dalam hadits, dimakruhkan untuk kencing di kamar mandi karena khawatir sisa air kencingnya dapat terpercik ke badan ketika kita mandi atau mencuci.

Jadi, saya, sebagai seorang muslim yang berprofesi arsitek, menyarankan untuk memisahkan jamban dan kamar mandi. Dari segi syariah, kebersihan, kesehatan,kenyamanan dan efisiensi lebih baik dipisahkan dua aktivitas yang berbeda ini mandi, identik dengan bersih dan area basah serta buang air besar/ kecil yang identik dengan kotor dan area kering.

Iklan

Tentang Ivan

After graduating from school of architecture Institut Teknologi Bandung, Indonesia in 2006, he worked for almost three years in an emerging Singaporean young firm, Park associates Architect. He design several residential projects to build with the office and published in some renowned architecture magazines such as D A. Since 2009 he is the founder of ruang magazines, an online architecture magazine that deal with urban and social problems in Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s