Sakit: Tinjauan dari Beberapa Aspek

oleh Rizki Supratman

Nampaknya nyaris mustahil mendapati orang yang belum pernah menderita sakit, apalagi menemukan keluarga yang belum pernah berbelasungkawa. Kenyataan ini harusnya menyadarkan kita bahwa sakit dan kematian itu sesungguhnya sangat akrab dengan kita, tak ubahnya bagaikan seorang sahabat. Namun sayangnya, ternyata dekatnya sakit dan kematian itu tidak otomatis membuat orang selalu siap menghadapiya. Kita sebagai makhluk yang beriman sudah sepantasnyalah, walaupun tidak nyaman, untuk selalu siap menjemput dan menghadapinya.

Hendaklah kita sadari bahwa seluruh kehidupan manusia itu merupakan mata rantai dari dua kejadian, yaitu senang dan susah. Penyakit yang diderita seorang itu tidak terlepas dari seluruh mata rantai kehidupannya. Oleh karena itu manusia hendaknya dapat menerima sakit itu sebagai sesuatu yang wajar, karena sakit adalah salah satu kejadian yang pasti menimpa manusia. Apalagi Al-Quran telah mengatakan bahwa dari dua kejadian itulah, senang atau susah, Allah akan menguji mausia; apakah dia tetap patuh melaksanakan perintah-perintah-Nya atau tidak. Disamping itu, tolak ukur keberhasilan hidup manusia di dunia inipun sudah didefinisikan Al-quran yaitu seberapa jauh manusia dapat lulus dari ujian yang terdapat pada dua keadaan itu.

Apakah manusia itu mengira  bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, “kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi”

(Al Ankabut : 2)

“Kami coba manusia dengan (nikmat) yang baak-baik dan (bencana) yang buruk.”

(Al-Ar’af : 168)

Saat ini ilmu kedokteran jiwa atau psikiatri telah menemukan bahwa ternyata badan dan jiwa itu tidak berdiri sendiri-sendiri, tetapi satu sama lainnya saling mempengaruhi. Misalnya saja orang yang fisiknya terganggu, seperti kena stroke, sakit jantung atau liver. Akibat derita fisiknya ini maka lama kelamaan kesehatan jiwa orang itu pun dapat terganggu. Demikian juga gangguan kondisi kejiwaan seseorang. Lambat laun ini dapat mempengaruhi keadaan fisiknya.

Ambilah contoh pada orang yang mengalami stress berat. Akibat dari stress berat ini akan terjadi perubahan-perubahan di dalam sel-sel syaraf otak, di pusat-pusat emosi dan  di pusat-pusat alam pikirannya. Yang akhirnya semua ini akan memperlemah kondisi badannya.

Dengan demikian, yang membuat seseorang itu sehat secara ‘lengkap’ adalah bila ia cukup gizi makanan dan juga gizi rohaninya.

 

Para pakar agama Islam pun menyatakan bahwa seorang muslim hendaknya selalu berada pada dua kondisi, yaitu Syukur dan Sabar. Jika sedang sehat, hendaknya bersyukur dan memanfaatkan kesehatan itu untuk melaksanakan pekerhaan-pekerjaan yang bermanfaat. Sebaliknya, jika sedang tertimpa sakit, maka kita harus daoat ikhlas dan bersabar sambil terus menerus berupaya mengobatinya disertai denga sikap tawakal kepada Allah swt. Kita pun harus sadar, hanya Allah-lah yang mampu menyembuhkan penyakit yang kita derita itu.

Hal ini kiranya sejalan dengan penelitian para ahli bahwa komitmen agama ternyata dapat mencegah dan melindungi seseorang dari penyakit; meningkatkan kemampuan mengatasi penyakit, dan mempercepat pemulihan penyakit.

 

Tentu saja terapi kedokteran tidak boleh diabaikan tetapi harus tetap diberikan sebagai mana mestinya.

Sakit itu Ujian Allah

Sesungguhnya sakit itu merupakan salah satu perwujudan dari janji Allah. Hal ini dimaksudkan-Nya untuk menguji kesabaran dan kerelaan yang bersangkutan, mampu atau tidak ia dalam keadaan sakit itu tetap taat melaksanakan perintah-perintah –Nya. Jadi ujiannya disini bukan semata-mata hanya keikhlasan menerima takdir sakit itu saja, tetapi mampu atau tidak ia tetap konsisten melaksanakan perintah-perintah-Nya yang lain. Kalau dengan kondisi penyakitnya itu ia dapat tetap mendirikan shalat, berdzikir dan membayar zakat, ataupun tetap bersyukur; maka Allah akan mengganjarkannya dengan ganjaran yang besar. Tetapi bila dengan kondisi sakit ia malahan meninggalakn ibadah, maka ia akan merugi dua kali. Yaitu pertama, ia berdosa karena membangkang tidak melaksanakan perintah Tuhan; kedua, sakitnya itu tetap saja menimpanya. Harap diingat pula, bahwa kepasrahan menerima sakit itu adalah salah satu perintah-Nya juga yang harus ditaati dengan baik oleh manusia. Hal ini ditegaskan Allah dalam sebuah hadits Qudsi berikut :

“Siapa saja yang tidak rela terhadap ketetapan-Ku dan tidak berlaku sabar terhadap cobaan-Ku, dan tidak bersyukur terhadap nikmat-nikmat-Ku, maka carilah olehmu Tuhan selain Aku!’

 

Rasulullah saw bersabda :

“Tidak ada seorang Muslim pun yang ditimpa gangguan semacam tusukan duri atau lebih berat daripadanya melainkan dengan ujian itu Allah mengahpuskan perbuatan buruknya serta digugurkan dosa-dosanya sebagaimana pohon mengugurkan daun-daunya.”

 (HR Muttafaq Alaih)

Tertimpa penyakit itu tidak diragukan lagi termasuk salah satu bentuk musibah. Oleh karena itu kita perlu tahu apa sebenarnya makna dibalik musibah itu. Karena dengan mengetahui maksud Allah menurunkan musibah itu, maka kita dapat menentukan sikap dengan benar.

Musibah menurut Al-Qur’an dan Hadits mempunyai sedikitnya tiga dimensi. Pertama, sebagai hukuman Allah atas pembangkangan yang dilakukan manusia pada aturan yang ditetapkan-Nya (hukum sebab akibat). Kedua, sebagai penghapusan dosa sehingga dengan demikian di akhirat nanti ada dosa yang tidak diperhitungakan lagi karena hukumannya sudah ditunaikan Allah di dunia (sebagai penebus dosa). Ketiga, sebagai ujian untuk kenaikan derajat di mata Allah (sebagaimana yang dialami ole Rasulullah).

 

Orang yang sedang diuji Tuhan dengan penyakit, sebaiknya mencoba untuk dapat meneladani sikap nabi Ayub as. Yaitu meskipun sekujur tubuh beliau yang semua sehat berubah menjadi penyakit yang menjijikan karena penyakit kudis yang dahsyat, namun itu semua tidak menjadikannya meninggalkan zikirnya kepada Allah. Ia tetap konsisten menjalankan ibadah, termasuk bersyukur, sebagaimana ketika ia sedang berlumur nikmat.

Rasulullah saw dalam hal ini bersabda :

“ Orang yang banyak mendapat ujian adalah para nabi, kemudian orang-orang yang lebih dekat derajatnya kepada mereka secara bertingkat dan berurutan. Seseorang diuji berdasarkan ketaatannya dalam agamanya. Jika ia sangat kukuh kuat dalam agamanya, maka Allah mengujinya sesuia dengan ketaatannya kepada agamanya. Demikianlah,bala dan ujian itu senantiasa ditimpahkan kepada seorang hamba sampai ia dibiarkan berjalan di muka bumi ini tanpa dosa apapun.”

(HR Tarmidzi)

Ada ulama yang mengatakan bahwa, paling sedikitnya, ada lima tujuan Allah mendatangkan penyakit kepada manusia, yaitu :

  1. Agar manusia menyadari bahwa dirinya itu lemah
  2. Sehebat apapun kita, kita tidak dapat menolak ketentuan Allah. Kesadaran ini dapat menekankan ke – aku – an sehingga mau merendahkan diri dihadapan Allah dengan bukti patuh melaksanakan peraturan-peraturan –Nya.
  3. Agar Allah dapat menunjukan mana mukmin yang sejati dan mana mukmin yang munafik.
  4. Untuk menhapuskan dosa atau mengangkat derajat manusia itu.
  5. Sebagai latihan agar tidak ‘shock’ bila menerima ujian yang lebih berat.
  6. Untuk menumbuhkan sikap saling tolong-menolong.

Kiat-Kiat Menguatkan Iman

Ketika Sakit

 Islam mengajarkan kepada orang sakit, agar memiliki kesabaran dan ketabahan dalam menghadapinya. Hal ini jelas lebih mudah dicapai bila orang itu mampu mendudukan penyakit dalam filsafat bahwa itu adalah ujian Tuhan. Disamping itu ia juga haru berprasangka baik pada Allah bahwa apa yang menimpanya saat ini adalah sebenarnya kebaikan untuk dirinya di masa yang akan datang. Untuk menguatkan iman ketika kita sedang sakit, simaklah petuah-petuah Rasulullah saw berikut :

“Sesungguhnya Allah swt tidaklah menetapkan sesuatu keputusan

kecuali berakibat baik kepadanya”

 (HR Ibnu Hibban dari Anas)

“Setiap penyakit itu ada obatnya, maka berobatlah kamu sekalin,

Tetapi jangan berobat dengan sesuatu yang diharamkan.”

(HR Abu Dawud)

“Aku heran dengan mukmin yang gelisah menghadapi penderitaan sakitnya. Jika ia mengetahui sesuatu (pahala) yang terdapat pada sakitnya, ia pasti akan mengharapkan sakit tersebut hingga berteu Allah swt.”

 (HR Thabrani dari Ibn Mas’ud)

“Jika Allah swt mencintai seorang hamba-Nya,

maka ia mengujinya agar Ia selalu mendengar rintihannya.”

 (HR Baihaqi dari Abu Hurairah)

“Bersikaplah ridho terhadap segala yang telah Allah tetapkan kepadamu,

Maka pasti engkau akan menjadi orang yang paling kaya.”

(Hr Iman Ahmad dari Abu Hurairah)

***

 

* Tulisan disadur dari Sentuhan Kalbu , tulisan Ir. Permadi Alibasyah.

Iklan

Tentang Ivan

After graduating from school of architecture Institut Teknologi Bandung, Indonesia in 2006, he worked for almost three years in an emerging Singaporean young firm, Park associates Architect. He design several residential projects to build with the office and published in some renowned architecture magazines such as D A. Since 2009 he is the founder of ruang magazines, an online architecture magazine that deal with urban and social problems in Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s