Kehidupan, kematian dan arsitektur

Kehidupan

Tidaklah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main , sesungguhnya akhirat itulah yang sebenar-benarnya kehidupan. (Al- Ankabut 29: 6)

Adalah sesuatu hal yang tidak pasti.

Kehidupan tidak pernah pasti.

Dan tidak akan pernah pasti..

Kita tahu setelah melaluinya.

Kita membuat rencana untuk melalui kehidupan.

walaupun seringkali berjalan tidak selalu sesuai dengan rencana yang kita mau.

Kematian

Tiap-tiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan kedalam syurga,maka sungguh ia telah beruntung, Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. (Ali Imran  3:185)

Hanya ada satu hal yang pasti dari kehidupan.

Yaitu datangnya kematian.

Kematian sangatlah dekat. Lebih dekat dari hari esok.

Kita tidak pernah bisa kembali setelah melaluinya

Kita didatangi oleh kematian tanpa rencana.

kematian sangat tepat sesuai rencana yang sudah dituliskan.

Arsitektur

Kemudian dia berkata, “Beritahukan aku tentang hari kiamat (kapan kejadiannya)”. Beliau bersabda,”Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya”. Dia berkata,”Beritahukan aku tentang tanda-tandanya”, beliau bersabda, “Jika seorang hamba melahirkan tuannya dan jika engkau melihat seorang bertelanjang kaki dan dada, miskin lagi penggembala domba, (kemudian) berlomba-lomba meninggikan bangunannya“ (Kutipan hadits arba’in an-nawawi nomor 2)

(sepertinya) arsitek berperan besar dalam membunuh kematian

Kami mengingkari kematian

Kami merencanakan kehidupan orang lain dari unit terkecil

Menggambarkan bagaimana seharusnya kita akan hidup dan berinteraksi. Apa yang  kita lihat dan apa yang tersembunyi. Cahaya yang kita nikmati dari kamar tidur, tekstur yang kita rasakan saat mandi, dan suara bebatuan yang kita injak.

Tapi, kami tidak pernah memperkenalkan proses kematian dalam arsitektur

Tidak seperti arsitektur tradisional Bali atau arakawa and gin yang berani mengkonfrontasi kematian dalam organisasi ruang.

(dengan perintah) Kami membunuh waktu dengan shopping mall yang kami buat, yang menghipnotis kalian dengan kemewahan, glamor dan keindahan material sehingga lupa siang dan malam.

(dengan perintah) Kami memberi harapan palsu dengan monumen yang kami buat (pyramid, acropolis) yang seolah berkata kita akan hidup 5000 tahun lagi.

(dengan perintah) Kami memberi janji dengan beton dan baja bahwa dunia dan isinya akan berdiri selamanya. Kami melupakan temporality dan persinggahan kita di dunia.

(dengan perintah) Kami berusaha menaklukan pencipta kita, mengejar-Nya dengan meninggikan menara-menara. Kami membuat menara Babel baru.

Tapi kita semua lupa, pada suatu saat menara itu akan hancur juga.

Epilog: Ikhtiar

Jadi sudahkah kita mulai menggambar dan merencakan kematian kita?

Seperti perkataan seorang teman “setiap tarikan garis itu ikhtiar”

Dan memang hal itu parallel. Arsitektur adalah salah satu bentuk ibadah. Tidak terpisah. Dengan satu syarat: mengharap ridha Allah.

Kita semua adalah arsitek, yang sedang menarik garis kehidupan.

Berhati-hati menarik garis dalam hidup, berhati-hati merancang hidupmu, karena hidup adalah persiapan untuk mati.

What you reap is what you sow.

Tentang Ivan

After graduating from school of architecture Institut Teknologi Bandung, Indonesia in 2006, he worked for almost three years in an emerging Singaporean young firm, Park associates Architect. He design several residential projects to build with the office and published in some renowned architecture magazines such as D A. Since 2009 he is the founder of ruang magazines, an online architecture magazine that deal with urban and social problems in Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s