Peran dan kontribusi Zakat dalam perekonomian suatu negara

oleh Amy Astika

Zakat, adalah satu kata yang akrab di telinga kita, terutama menjelang hari raya Idul Fitri dimana kita sebagai umat Muslim diwajibkan oleh Allah SWT untuk membayar zakat fitrah. Tetapi selepas Idul Fitri, mungkin kata ini tidak lagi menjadi topik yang populer untuk dibicarakan bagi kebanyakan dari kita. Padahal hakikatnya, ada zakat lain yang menjadi kewajiban kita, yakni zakat maal. Zakat yang mengikuti kita dalam harta yang Allah titipkan untuk kita secara terus menerus dan tidak mengenal batasan waktu (selama kita masuk dalam kategori wajib berzakat). Selain itu pula, tidak sedikit yang menganggap zakat hanya sebagai bentuk dari amal, yang sebenarnya memiliki esensi yang jauh lebih besar daripada itu.

Pengertian Zakat

Zakat berasal dari bahasa Arab yang berarti tumbuh, berkembang atau bertambah. Zakat dapat di-definisikan sebagai sejumlah harta yang wajib dikeluarkan oleh orang yang mampu kepada orang yang berhak menerimanya. Seperti firman Allah yang turun untuk pertama kalinya mewajibkan umatnya untuk menunaikan zakat:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shaleh lagi mendirikan shalat dan membayar zakat, untuk mereka itulah pahala di sisi Tuhannya dan tidak ada rasa ketakutan atas mereka dan tiada rasa berduka cita bagi mereka”. (QS Al-Baqarah: 77)

 

“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’”

(QS Al-Baqarah: 43)

Ayat di atas menyandingkan perintah untuk berzakat bersamaan dengan perintah untuk mendirikan shalat, yang mana dua hal ini dapat mencerminkan pentingnya kita sebagai Muslim untuk menunaikan zakat, sama halnya seperti kita menunaikan shalat.

 

Harta kita adalah milik Allah

Secara hakikat, tidak ada yang kepunyaan pada kita adalah milik kita. Uang, harta, keluarga, jabatan adalah milik Allah SWT semata dan kita hanya diberikan kesempatan untuk menggunakannya, seperti tercantum dalam FirmanNya:

“dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta)”

(Q.S Al-Ma’arij ayat 24-25)

Harta yang Allah berikan kepada kita untuk menggunakannya tidak lebih dimaksudkan untuk membuat kita lebih dekat dengan-Nya. Islam menegaskan bahwa dalam harta yang dititipkan-Nya pada kita, terdapat juga 2.5% harta orang lain yang dititipkan olehNya melalui kita. Jadi, apa sebenarnya esensi dari berzakat ini dan mengapa Allah mewajibkan kita sebagai seorang Muslim untuk menunaikannya?

Zakat: Sarana untuk pemerataan kesejahteraan

Perintah Allah SWT untuk berzakat adalah merupakan sebuah sistem yang bertujuan untuk pemerataan penyebaran kesejahteraan manusia. Dengan adanya gap yang semakin besar dan perbedaan yang sangat mencolok antara mereka yang kaya dan mereka yang miskin, terutama di Indonesia, disinilah peran zakat dibutuhkan. Prinsip yang diterapkan disini adalah prinsip saling mendukung melalui pendistribusian kembali harta mereka yang dikaruniai harta berlebih kepada mereka yang membutuhkannya.

Namun apakah dengan berzakat yang bertujuan untuk saling menopang untuk mewujudkan pemerataan kesejahteraan akan membuat banyak orang bermalas-malasan dan tidak mau berusaha? Tidak. Dengan jelasnya sistem perhitungan zakat untuk setiap perbedaan jenis harta yang dimiliki dan juga jelasnya kepada siapa zakat ini berhak diberikan, zakat adalah sarana mencapai perbaikan ekonomi secara umum yang baik. Sistem ini justru merangkul semua kalangan yang tidak memiliki akses untuk menjadi pelaku ekonomi dikarenakan oleh ketidakadilan sebuah sistem yang mengakibatkan mereka yang tidak memiliki cukup modal untuk berusaha akan semakin tergilas.

Uang zakat yang terkumpul dapat diberikan kepada 8 golongan yang berhak menerima zakat, dimana untuk golongan fakir dan miskin, uang yang diberikan dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan mendapatkan modal untuk bekerja dan berusaha. Dengan begitu, pemerataan kesejahteraan dapat tercapai. Dan inilah makna literal dari arti zakat itu sendiri, yaitu tumbuh dan bertambah, yakni meningkatnya kesejahteraan masyarakat luas.

Zakat di Indonesia

Menurut Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), pada tahun 2011 Indonesia memiliki potensi zakat hingga 217 Trilyun per tahun. Namun sayangnya kesadaran masyarakat Indonesia untuk menunaikan kewajibannya masih rendah, dengan jumlah penerimaan yang terealisasi hanya Rp 1,2 Triliun atau hanya sebesar 0.55% dari potensi zakat yang dapat diterima.

Oleh karena itu, tunaikan zakat, sampaikan titipan Allah kepada yang berhak. Selain mendapat pahala atas penunaian kewajiban kita, dengan berzakat secara tidak langsung kita turut membantu perbaikan kondisi saudara kita yang membutuhkan yang pada akhirnya membantu membuat Indonesia menjadi lebih baik. Sesungguhnya sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi sesamanya.

Penulis memohon maaf apabila terjadi kesalahan penafsiran dalam penulisan artikel ini. Sesungguhnya kebenaran hanya milik Allah SWT.

Berikut adalah link yang bisa di download untuk penghitungan zakat profesi dan zakat maal

http://muslim.or.id/dari-redaksi/software-perhitungan-zakat-zakka-10.html

http://www.rumahzakat.org/kalkulator.html

http://www.lazyaumil.org/files/Panduan%20Zakat.pdf

Lampiran 1

Jenis-jenis zakat

Terdapat dua jenis zakat:

  1. Zakat fitrah

Zakat ini adalah zakat yang wajib dikeluarkan seorang Muslim  pada bulan Ramadan. Besar zakat ini adalah setara dengan 3.5 liter makanan pokok

  1. Zakat Maal

Zakat yang wajib dikeluarkan oleh seorang Muslim dengan harta yang dihasilkannya dalam tahun tersebut. Besar zakat yang dikenakan berbeda-beda tergantung dari harta yang dimiliki. Sebagai contoh pajak yang dikenakan untuk pemilik hewan ternak berbeda dengan pajak yang dikenakan untuk zakat profesi (dokter, psikolog, dsb) yang menggunakan rumusan nisab.

Namun untuk gambaran secara umum, zakat yang dikenakan besarnya 2.5% dari harta yang diperoleh pada tahun tersebut.

Syarat-syarat Wajib Zakat

a. Muslim

b. Aqil

c. Baligh

d. Memiliki harta yang mencapai nishab

Ada 8 golongan yang berhak menerima zakat:

  1. Fakir: Orang yang tidak memiliki apa-apa untuk memenuhi kebutuhan hidupnya
  2. Miskin:Mereka yang memiliki sedikit harta, namun tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Untuk fakir miskin besarnya zakat yang diberikan sebesar kebutuhan mereka dan orang yang mereka tanggung dalam setahun
  3. Amil: Petugas yang mengumpulkan dan menyalurkan zakat. Amil berhak atas sebagian zakat apabila dia tidak menerima gaji dari tugasnya dalam mengumpulkan tersebut.
  4. Mualaf: Orang yang baru hijrah ke Islam
  5. Hamba Sahaya: Budak
  6. Gharimin: Orang yang terlilit hutang untuk suatu kebutuhan yang halal
  7. Fisabilillah: Orang yang berjuang di jalan Allah
  8. Musafir yang kehabisan biaya perjalanan.

Selengkapnya penghitungan zakat menurut jenis harta yang dimiliki: http://www.lazyaumil.org/files/Panduan%20Zakat.pdf

Tentang Ivan

After graduating from school of architecture Institut Teknologi Bandung, Indonesia in 2006, he worked for almost three years in an emerging Singaporean young firm, Park associates Architect. He design several residential projects to build with the office and published in some renowned architecture magazines such as D A. Since 2009 he is the founder of ruang magazines, an online architecture magazine that deal with urban and social problems in Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s