Ilmu, Amal, Dakwah, dan Sabar

oleh dr. M. Saifudin Hakim

Allah Ta’ala berfirman yang artinya,”Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran” (QS. Al ‘Ashr).

Surat Al ‘Ashr merupakan surat dalam Al Qur’an yang banyak dihafal karena sangat pendek. Namun sayangnya, mungkin sedikit di antara kita yang memahaminya. Padahal, meskipun pendek, surat ini memiliki kandungan makna yang sangat banyak. Dalam edisi kali ini, kita akan sedikit membahas kandungan surat pendek ini.

Iman Tidak Akan Sempurna Tanpa Ilmu

Dalam surat ini Allah Ta’ala menjelaskan bahwa seluruh manusia benar-benar berada dalam kerugian, yaitu keadaan manusia yang merugi di dunia dan di akhirat, tidak mendapatkan kenikmatan, dan berhak untuk dimasukkan ke dalam neraka. Kemudian Allah Ta’ala mengecualikan hamba-Nya yang memenuhi empat sifat yang Allah jelaskan.

Yang pertama, yaitu beriman kepada Allah. Akan tetapi, keimanan ini tidak akan terwujud tanpa ilmu, karena keimanan merupakan cabang dari ilmu dan keimanan tersebut tidak akan sempurna jika tanpa ilmu.

Yang dimaksud dengan ilmu di sini adalah ilmu agama. Seorang muslim wajib (fardhu ‘ain) untuk mempelajari setiap ilmu yang dibutuhkan untuk melaksanakan agamanya, seperti pokok-pokok keimanan dan syari’at-syari’at Islam, ilmu tentang hal-hal yang wajib dia jauhi berupa hal-hal yang diharamkan, apa yang dia butuhkan dalam mu’amalah, dan lain sebagainya. Imam Ahmad berkata,”Wajib hukumnya untuk menuntut ilmu yang dengan ilmu itu seseorang dapat menegakkan agamanya”. Beliau ditanya,”Seperti apa misalnya?” Beliau menjawab,”Sesuatu yang wajib dia ketahui, seperti yang berkaitan dengan shalat, puasa, dan masalah-masalah lainnya”.   

 

Mengamalkan Ilmu

Setelah menuntut ilmu, seseorang dituntut untuk mengamalkan ilmu tersebut. Maksudnya,  dia dapat mengubah ilmu yang telah dipelajarinya tersebut menjadi suatu perilaku yang nyata dan tercermin dalam pemikiran dan amalnya. Ibnu Mas’ud berkata,”Belajarlah ilmu.  Apabila sudah tahu, maka amalkanlah”.

Oleh karena itu, betapa indahnya perkataan Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah (salah seorang tabi’in),”Seseorang yang berilmu akan tetap menjadi orang bodoh sampai dia dapat mengamalkan ilmunya. Apabila dia mengamalkannya, barulah dia menjadi seorang alim”. Perkaataan ini mengandung makna yang dalam, karena apabila seseorang memiliki ilmu akan tetapi tidak mau mengamalkannya, maka dia adalah orang yang bodoh. Hal ini karena tidak ada perbedaan antara dia dan orang yang bodoh.

Hendaklah seorang muslim mengetahui pentingnya mengamalkan ilmunya. Karena seseorang yang tidak mengamalkan ilmunya maka ilmu tersebut akan berbalik menghujat dirinya, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,”Seorang hamba tidak akan beranjak dari tempatnya pada hari kiamat nanti hingga dia ditanya tentang empat hal, di antaranya tentang ilmunya, apa yang telah ia amalkan darinya” (HR. Tirmizi, hasan shahih).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan kita dari tidak mengamalkan ilmu dengan sabdanya,”Perumpamaan orang yang mengajari orang lain kebaikan, tetapi melupakan dirinya (tidak mengamalkannya), bagaikan lilin yang menerangi manusia sementara dirinya sendiri terbakar” (HR. Thabrani).

Berdakwah kepada Allah

Berdakwah, mengajak manusia kepada Allah Ta’ala, adalah tugas para Rasul dan merupakan jalan orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan baik. Ketika seseorang telah mengetahui agamanya dengan baik, hendaklah dia kemudian berusaha mengajak saudara-saudaranya dan menyebarkan kebaikan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Barangsiapa mengajak kepada petunjuk, maka ia memperoleh pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa mengajak kepada kesesatan, maka ia mendapatkan dosa seperti dosa orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun” (HR. Muslim).

Namun, ilmu yang dibutuhkan untuk berdakwah bukanlah ilmu agama saja, akan tetapi juga ilmu tentang keadaan orang-orang yang didakwahi, dan ilmu tentang metode agar dakwah itu sampai. Inilah yang dimaksud dengan hikmah dalam berdakwah.

Bersabar dalam Dakwah    

Masalah keempat dari empat perkara tersebut adalah bersabar ketika mengajak orang lain menuju kebaikan. Hendaklah kita bersabar atas gangguan yang mungkin kita terima dari masyarakat. Allah Ta’ala berfirman yang artinya,”Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami terhadap mereka” (QS. Al-An’am : 34).

Kita wajib bersabar dalam berdakwah dan tidak menghentikan dakwah. Kita harus sabar atas segala penghalang dakwah kita dan sabar terhadap gangguan yang kita dapati. Allah Ta’ala menyebutkan wasiat Luqman Al-Hakim kepada anaknya yang artinya,”Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang munkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)” (QS. Luqman :17).

Maka kesimpulan dari surat ini, dengan dua hal yang pertama (ilmu dan amal), manusia dapat menyempurnakan dirinya sendiri. Sedangkan dengan dua hal yang terakhir (dakwah dan sabar), manusia dapat menyempurnakan orang lain. Dan dengan menyempurnakan keempat-empatnya, manusia dapat selamat dari kerugian dan mendapatkan keuntungan yang besar.

Semoga Allah memberikan taufik kepada kita untuk menyempurnakan keempat hal ini sehingga kita dapat memperoleh keuntungan yang besar di dunia ini, dan lebih-lebih di akhirat kelak. Amiin.

Iklan

Tentang Ivan

After graduating from school of architecture Institut Teknologi Bandung, Indonesia in 2006, he worked for almost three years in an emerging Singaporean young firm, Park associates Architect. He design several residential projects to build with the office and published in some renowned architecture magazines such as D A. Since 2009 he is the founder of ruang magazines, an online architecture magazine that deal with urban and social problems in Indonesia.

One comment

  1. Alhamdulillah…semoga menjadi pelajaran buat kita, karena tugas kita hidup hanya ibadah dengan dakwah…dakwah dan dakwah……..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s