Waktu, Arsitektur dan Hari Akhir

auzubillah minash shaitanir rajim,

Bismillahirrahmanirrahim,

Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh,

Waktu

”Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran” (Al ‘Ashr-103)

Demi masa.

Allah bersumpah kepada salah satu makhluk ciptaannya: masa (waktu). Tak lain agar kita benar-benar memperhatikan waktu.

Seperti makhluk Allah lainnya (matahari, bulan, siang, malam,…) waktu memiliki tugasnya sendiri: berjalan dan tidak berhenti. Tidak pernah berhenti, tidak melambat dan tidak tergesa, selalu konstan.

Waktu diberi kearifan untuk selalu adil terhadap semua makhluk lainnya.  Siang malam bergilir. Setiap insan memiliki (yang bisa kita ukur) 24 jam satu hari. Waktu berjalan konstan, pikiran kita yang relatif terhadap waktu.

Walaupun waktu adil untuk setiap insan, tetapi tidak semuanya memanfaatkannya dengan baik. Ada yang menyia-nyiakannya, dan itulah insan yang merugi. Insan yang beruntung adalah, yang berdialog secara bermanfaat dengan waktu: dengan beriman kepada Allah, beramal sholih, saling menasihati untuk menaati kebenaran dan menetapi kesabaran.

Tetapi waktu adalah dingin dan tanpa ampun. Tidak sedikitpun berhenti dan menunggu kita bersiap setelah terjatuh, merengek dan mengeluh. Waktu terus berjalan. Dan sehabat apapun penemuan kita, tidak akan (atau belum) kita dapat mengembalikan waktu. Masa lampau akan tetap di masa lampau.

Arsitektur

Kemudian dia berkata, “Beritahukan aku tentang hari kiamat (kapan kejadiannya)”. Beliau bersabda,”Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya”. Dia berkata,”Beritahukan aku tentang tanda-tandanya”, beliau bersabda, “Jika seorang hamba melahirkan tuannya dan jika engkau melihat seorang bertelanjang kaki dan dada, miskin lagi penggembala domba, (kemudian) berlomba-lomba meninggikan bangunannya“  Kutipan hadits arba’in an-nawawi nomor 2

 Arsitektur, salah satu ‘ciptaan’ insan. Arsitektur cukup membenci waktu.

Kebenciannya membuat berulang kali melakukan percobaan pembunuhan terhadap waktu. Arsitektur selalu berkata: “dengarkan kami, waktu. Kami akan hidup 10, 100, bahkan 1000 tahun lagi.”

Arsitektur berulang kali mewujudkan sebuah monumen penolakan terhadap kefanaan dunia dan waktu; pyramid di mesir, acropolis di yunani. Dan masih banyak lagi. Arsitektur mampu hidup lebih dari 10.000 tahun. Berulang kali pula waktu bertempur dengan arsitektur; taman tergantung babilon salah satu korbannya.

Arsitek selalu terobsesi untuk berusaha membuat timeless architecture, dimana tak lekang oleh waktu. Akan bertahan walau waktu terus merubah sekitarnya. “hutan beton kami akan bertahan 100 tahun lagi! Dan kamu tidak akan bisa mengganggu gugat wahai waktu.”

Arsitektur kemudian hidup dan menghasut ‘penciptanya’ sendiri, insan; bahwa waktu itu tidak ada. “Teruslah bekerja, tak usah mengingat Tuhanmu dan waktu ciptaan Nya, esok masih ada. Kami akan mebuai kalian dalam dinding-dinding marmer, baja dan kaca. Lupakanlah akan siang dan malam. Habiskan tenaga dan uang kalian dalam shopping mall. Tidurlah dalam istana kalian yang mewah, dan kalian selalu merasa tak pernah cukup. Carilah lagi kemewahan itu.Wahai manusia, bunuhlah waktu. ” Ujar arsitektur.

Waktu bukanlah uang, tetapi waktu telah terkalahkan dengan Uang. Nosi temporal insan terlupa.

Arsitektur tidak akan pernah berhenti mencoba membunuh waktu.

Hari Akhir

Dan (ingatlah) akan hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka, (mereka merasa di hari itu) seakan-akan mereka tidak pernah berdiam (di dunia) hanya sesaat di siang hari, (di waktu itu) mereka saling berkenalan. Sesungguhnya rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Allah dan mereka tidak mendapat petunjuk” (Yunus-10:45)

Katakanlah: “Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikanmu, kemudian hanya kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan.” Dan, jika sekiranya kamu melihat mereka ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata): “Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal saleh, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin. (As-Sajdah-32:11-12)

Dengan izin Allah, yang akan menengahi keduanya adalah hari Akhir.

Pada hari ini waktu telah menyelesaikan tugasnya untuk berjalan. Maka waktu akan dimatikan dan diminta pertanggung jawabannya pula.

Pada hari ini arsitektur tidak bisa berkata apa-apa, penciptanya pun tidak dapat meminta tolong terhadap ciptaannya. Seluruhnya diluluh lantahkan. Arsitektur bungkam dan tidak mampu membela tuannya. Pyramid yang telah berdiri lebih dari 10.000 tahun pun hancur dalam sekejap. Bumi yang kita anggap mampu menahan tiang-tiang beton pun terbelah dua.

Sang arsitek pun panik karena waktu yang semula dianggap akan patuh padanya akhirnya  mati. Esok tidak datang kembali. Kematian yang semula kita takuti, dan kita anggap sebagai akhir dari segalanya, pun disembelih bagaikan domba.

Semua dihentikan sementara. Fana, temporality, beserta keangkuhan manusia selesai. Dan dimulailah sebuah prosesi baru, manusia dibangkitkan untuk diminta pertanggungjawabannya, atas perbuatannya, atas ciptaannya, atas perkataannya, atas ibadahnya, atas hidup yang telah dirancangnya dan atas keangkuhannya.

Ketika itu, kita, para arsitek kecil, juga akan ditanya akan hasil rancangannya oleh sang Arsitek Maha Besar, Allah swt. Hasil karya kita masing-masing: hidup kita, anak yang kita didik, ilmu yang kita amalkan, keluarga yang kita bina, harta yang kita miliki, ibadah yang kita lakukuan. Semua hal, dari yang terkrcil hingga yang terbesar, sedetil-detilnya. Tanpa  ada yang terlewatkan.

Dan pada hari itu apakah yang akan kita katakan? Bisakah kita membela diri? Apakah yang akan kita bela? Masih kah kita sanggup membela keangkuhan kita?

Dan maaf sekali, kita tidak bisa berbalik dan minta ampun.

Waktu pun telah bersabar menjalankan tugasnya.

Dan kita, para arsitek, pun telah diberi kesempatan seumur hidup kita.

Dan apakah kita termasuk orang yang beruntung atau merugi?

Kita, yang masih bisa membaca, masih diberikan kesempatan untuk menjadi orang yang beruntung. Walaupun hanya tinggal satu menit, satu jam, satu hari, satu tahun, sepuluh tahun lagi tidak masalah. Kita masih bisa menjadi orang-orang yang beruntung.

Dengan beriman kepada Allah, beramal sholih, saling menasihati untuk menaati kebenaran dan menetapi kesabaran.

Demi masa.

..untuk sebuah ruang kosong..

Maha benar Allah akan segala firmannya. Maha salah saya akan segala postulat saya.

Wassalamu’alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakaatuh,

Ivan Nasution

Tentang Ivan

After graduating from school of architecture Institut Teknologi Bandung, Indonesia in 2006, he worked for almost three years in an emerging Singaporean young firm, Park associates Architect. He design several residential projects to build with the office and published in some renowned architecture magazines such as D A. Since 2009 he is the founder of ruang magazines, an online architecture magazine that deal with urban and social problems in Indonesia.

3 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s