Pengalaman Hamil di Negeri Kincir Angin

September 2010

Setahun sudah aku dan suami tinggal di Rotterdam, statusku adalah sebagai Ibu Rumah Tangga yang rencananya menemani suami menyelesaikan Phd nya selama 3 tahun. Setelah keinginan melanjutkan sekolah terganjal beberapa hal maka aku dan suami memutuskan untuk menambah anggota baru dalam keluarga kecil kami. Yah, awalnya kami ragu untuk hamil di negeri orang banyak sekali pertimbangan dimulai dari financial, rasa takutku hamil jauh dari orang tua, tidak tau prosedur, bagaimana menjaganya kalau tiba-tiba kesempatan melanjutkan sekolah datang lagi wuahhh membayangkannya saja sepertinya sudah repot. Namun semua rasa kawatir terkalahkan oleh rasa ingin memiliki momongan maka kamipun mengucap “Bismilah”.

Oktober 2010

Alhamdulillah berdasarkan test pack yang suamiku beli aku dinyatakan positif hamil pada akhir Oktober. Tak lupa saat itu langsung ku memohon doa dari Bunda dan keluarga di Indonesia untuk kelancaran kehamilanku kelak. Saat itu pula suamiku langsung menelepon Huisart membuat janji dengan dokter keluarga untuk memastikan kehamilanku. Keesokan harinya bertemulah kami dengan seorang dokter wanita muda, dengan ramah Ia menyapa dan menanyakan tujuan kami datang, “saya hanya ingin memastikan apa benar saya hamil dan apa yang harus saya lakukan jika ya saya hamil, karena testpack menyatakan saya hamil?” sambil mengeluarkan testpack yang memang sengaja dibawa oleh suamiku. Tanpa mengucapkan selamat terlebih dahulu Sang dokter pun berkata “Oh baiklah, sebelumnya saya ingin mengetahui apakah kehamilan ini anda berdua inginkan?” di dalam hati saya berkata “loh loh loh maksudnya bu dokter?” dengan wajah bingung aku dan suami sempat saling memandang dan kami pun kompak menjawab “yah kehamilan ini memang kami rencanakan” kala itu sang dokter langsung sumringah dan mengucapkan selamat. Oooooo ternyata itu pertanyaan standar yang selalu ditanyakan setiap dokter ketika mendengar pasien hamil, disini tidak semua orang menginginkan kehamilannya dan aturan di Belanda mereka yang tidak menginginkan kehamilannya diperbolehkan menggugurkan kandungan sebelum usia janin 2 bulan dan yap yap yap dokterlah yang akan membantu proses tersebut.

Setelah memberi selamat dokter pun menjelaskan bahwa aku tidak perlu di ambil darah untuk memastikan kehamilanku, cukup dengan testpack yang aku bawa sudah dipastikan 99 persen hamil. “Lalu apa yang harus saya lakukan selanjutnya dok? vitamin apa yang harus saya minum?” tanyaku sang dokter menjawab “tidak ada vitamin yang harus diminum cukup dengan asam folat yang harus dimakan sehari satu kali hingga usia kandungan 10 minggu untuk jenis makanan yang tidak boleh dimakan silahkan baca dibuku panduan ini (sambil memberikan buku panduan hamil yang juga tersedia dalam bahasa Inggris)” dokter tersebut pun kemudian menjelaskan jika usia kandungan sudah 10 minggu kami harus menghubungi Vorleskundig (tempat praktek para bidan yang memang biasa menangani ibu hamil) di daerah kami tinggal untuk kontrol selanjutnya. Yup di Belanda dokter ahli kandungan hanya akan menangani ibu hamil yang mengalami kelainan atau kegawatan dalam kehamilannya, diluar itu kita hanya akan ditangani oleh bidan. Sambil menunggu usia kehamilan 10 minggu aku dan suami mencoba mencari susu khusus ibu hamil dan ternyata tidak ada satu pun toko yang menjualnya, menurut seorang dokter Belanda rekan keja suamiku memang susu untuk ibu hamil tidak secara signifikan berguna untuk ibu hamil cukup dengan makan makanan yg sehat saja oleh karena itu di Belanda susu ibu hamil tidak ditemukan. Terkadang terlintas keraguan kenapa hamil disni simpel sekali boleh makan apa ajah, tidak usah minum vitamin, boleh naek sepeda bahkan sampai 9 bulan usia kandungan sementara banyak sekali wejangan dan pantangan dari nenek dan bunda jika aku telepon mereka di Indonesia.

Desember 2010

Usia kehamilanku sudah memasuki usia 10 minggu dan saatnya kontrol pertama ke Bidan. Di Vorleskundig, bidan pertama yang aku temui ada Ligia (1 vorleskundig ada beberapa bidan dan kita harus bertemu dengan setiap bidan yang ada karena salah satu dari mereka yang nantinya akan membantu proses persalinan kita), Ia menjelaskan dengan sangat ramah dan detail mengenai prosedur apa yang harus dilakukan dan menawarkan beberapa program test kehamilan seperti test down syndrome (biasanya ini dianjurkan untuk wanita yang saat hamil usianya sudah diatas 35 tahun) aku sendiri tidak melakukan test ini. Adapun beberapa prosedur yang harus dilakukan yaitu :

  1. Menentukan akan melahirkan di rumah atau di rumah sakit (kebanyakan wanita Belanda melahirkan anak mereka di rumah) huhuhu serammmm dari awal aku memilih untuk melahirkan di rumah sakit.
  2. Jika kita menentukan untuk melahirkan di rumah sakit maka kita harus menentukan setelah melahirkan akan menginap di hotel khusus ibu melahirkan atau langsung kembali kerumah (biasanya jika kita melahirkan normal dan dianggap tidak ada masalah dalam persalinan maka ibu dan bayi akan diminta keluar dari rumah sakit dalam kurun waktu kurang dari 24 jam) terdengar sadis memang hehehe tapi memang biasa seperti itu. *fyuh elus dada
  3. Membuat janji dengan Kraamzorg (kantor yang menyediakan suster untuk merawat bayi dan sang ibu di rumah setelah kembali dari rumah sakit) jauh hari sebelum melahirkan. Sang suster akan membantu si Ibu merawat lukanya, membantu mengurus bayi dan bantu beres-beres rumah seperti cuci baju, setrika, memasak hihihihi senangnya.. biasanya mereka akan membantu selama 8 hari.

Note : Semua biaya di atas dari mulai biaya kontrol bidan, biaya melahirkan di rumah sakit dan biaya suster di rumah akan dibayar oleh Asuransi (Alhamdulillah inilah nikmatnya tinggal di Belanda).

Oia dikontrol pertama Ligia mengambil sempel darah untuk dites Tokso, HIV dll. Tidak hanya itu (ini dia bagian paling menyenangkan) untuk pertama kalinya aku di USG untuk melihat si jabang bayi. Di Belanda umumnya USG hanya akan dilakukan 3 kali saja dalam setiap kehamilan (kecuali ada medical necessity). Pertama di saat usia kandungan 10 minggu (pertama kali kontrol), Kedua di usia kandungan 20 minggu (di sini semua kondisi fisik dan fungsi organ dalam bayi akan diperiksa, sebagai tambahan jenis kelamin bayi juga sudah bisa diketahui jika si orang tua menginginkannya. Jika teridentifikasi ada kelainan maka bidan akan melakukan tindakan lebih lanjut) dan USG terakhir adalah ketika usia kandungan 34 minggu dengan tujuan melihat grafik makan bayi, berat bayi dan posisi bayi apakah sudah dalam posisi yang siap melahirkan.

Januari – Mei 2011

Selama masa hamil dari bulan ke bulan tentu saja berat tapi Alhamdulillah selalu saja ada pertolongan. Ngidam di Belanda? Alhamdulillah banyak sekali teman-teman yang berbaik hati membuatkan makanan untuk bumil yang sedang ngidam baso tahu, batagor, onde-onde sampe mpek-mpek. Mual? Yahhhh Alhamdulillah suami ku yang baik hati bersedia menggantikan ku memasak sepulang kerja karena setiap menanak nasi dan menggoreng aku tidak tahan akan baunya. Oia untuk urusan mual aku punya tips unik hehehe saat usia kehamilan 3 bulan dan sedang mual- mualnya suami mengajak liburan selama 2 minggu ke Barcelona dan Malta alhasil aku lupa dengan rasa mual hehehehe mungkin bisa dicoba hehehe.

Dari usia kandungan 10 minggu hingga 30 minggu aku hanya diperintahkan untuk kontrol setiap 1 bulan sekali dan pemeriksaan pun tergolong sederhana mereka akan cek tekanan darah, berat badan ibu, detak jantung bayi dan posisi bayi. Selanjutnya di usia kandungan 30 hingga 34 minggu berubah menjadi dua minggu sekali dan diusia 35 hingga 40 minggu kontrol menjadi seminggu sekali.

Juni 2011

Ketika sekarang perkiraan tanggal lahiran sudah dekat (4 Agustus 2011) aku dan suami mendapatkan kunjungan dari suster yang akan membantu di rumah setelah melahirkan (tepatnya di usia kandungan 35 minggu). Suster datang untuk mengecek apakah peralatan ibu untuk melahirkan sudah lengkap seperti perban dll serta ia juga mengecek apakah peralatan bayi sudah lengkap dari tempat tidur hingga pakaian, bahkan kondisi rumah pun di cek jika masih ada yang kurang-kurang ia akan membuat daftar dan meminta kita untuk membelinya segera.

Oia selama hamil aku mendapatkan banyak sekali paket bayi secara cuma-cuma dari beberapa toko bayi yang ada di Rotterdam (Prenatal dan Etos) hihihi senangnya dengan gratisan… isi paketnya dimulai dari dot bayi, pampers, sabun dan shampoo bayi, baju bayi hingga bir kaleng dengan zero alkohol (disini masih banyak ibu hamil yang minum minuman beralkohol oleh karena itu mereka dianjurkan minum bir jenis tersebut) aneh memang.

Menjelang lahiran di minggu ke 36 bidan akan menanyakan dan menginformasikan mengenai segala urusan yang bersangkutan dengan proses melahirkan seperti :

  1. Apakah akan menggunakan pain killer? jika ya jenis apa?(sebelumnya ia memberikan buku panduan mengenai penanganan rasa sakit saat melahirkan)
  2. Posisi melahirkan yang diinginkan?
  3. Siapa yang akan menemani di dalam ruangan ketika melahirkan?
  4. Adakah ritual yang kita inginkan (berkaitan dengan budaya) ketika bayi lahir? seperti ayah akan mengadzankan
  5. Apakah akan mengikuti program inisiasi
  6. Bidan menjelaskan kapan kita bisa ke rumah sakit. Ternyata kita tidak bisa langsung ke rumah sakit, menurutnya setelah ketuban pecah kita harus segera telepon mereka dan menunggu hingga kontraksi mulai 4 menit sekali dan bidan akan datang ke rumah lalu menentukan kapan kita bisa ke rumah sakit. Hihihihi berbeda sekali dengan di Indonesia yah.

Sejujurnya ketika waktu semakin mendekat rasa takut dan khawatir terus membayangi apalagi mendengar cerita ibu-ibu yang sebelumnya melahirkan di Belanda dimana mereka berkata: “semua persalinan akan diusahakan spontan tidak ada pilihan untuk caecar kecuali secara medis diperlukan tindakan tersebut”. Namun ketika mendengarkan penjelasan dari bidan dan janji mereka yang tidak akan membiarkan aku merasakan kesakitan terlalu lama aku mulai tenang dan Bundaku di Indonesia berpesan untuk selalu meminta perlindungan dan berpasrah hanya pada ALLAH SWT.

Walaupun perjuangan menjadi seorang Ibu sangatlah berat, sakit pinggang, kaki bengkak, pusing, mual dll tak terasa takala bayi kecilku menendang, menggeliat di dalam perutku untuk merespon nyayian yang ku nyanyikan untuknya, pertanyaan yang ayahnya ajukan serta doa yang ayah-ibunya panjatkan Subhanallah..Bahagia sekali.

Sekarang usia kandunganku 36 minggu kontraksi kecil dan kaki bengkak sedang kurasakan namun aku ikhlas dan semoga ketika saatnya tiba semoga jagoan kecilku akan lahir dengan sehat dan proses melahirkanpun mudah dan lancar amin. Mohon doanya juga yah teman-teman.

Allah SWT berfirman:

“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu dan bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: Ya Tuhan tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Enkau ridhai; berikanlah kebaikan kepadaku dengan (memberikan kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya Aku betaubat kepada Engkau dan sesungguhnya Aku termasuk orang-orang yang berserah diri”. (Al-Ahqaf 15)

Itulah sebagian cerita pengalaman hamilku dinegeri kincir angin ini, semoga bermanfaat dan bisa menambah informasi. Wassalam.

Lia Savitrie Iskandarsyah

3 comments

  1. Saya lagi mencari artikel tentang kehamilan dan melahirkan di Belanda. Artikel yg mba tulis informatif banget. Terima kasih udah berbagi cerita disini ya dan aku doakan persalinannya nanti lancar🙂.

    Semangat!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s