Plastic surgery: fakta, psikologi dan agama

Apakah anda kenal dengan Michael Jackson, Kim Kadashian, Meg Ryan, girls band asal Korea SNSD atau bahkan Malinda Dee yang diberitakan oleh berbagai media bahwa mereka melakukan operasi plastik untuk memperbaiki wajah atau bagian tubuh lainnya? Jika Ya, pada tulisan ini penulis akan menguraikan fakta, aspek psikologis dan pandangan agama Islam seputar operasi plastik yang sampai dengan saat ini masih menjadi kontroversi.

Fakta tentang operasi plastik.

Operasi plastik secara sederhana dapat didefinisikan sebagai tindakan medis yang berkaitan dengan koreksi atau restorasi bentuk dan fungsi tubuh. Dari hasil penelusuran literatur dan berbagai bukti tertulis diperoleh data bahwa praktek penanganan medis terhadap cedera pada wajah sudah ada sejak lebih dari 4.000 tahun yang lalu. Teknik operasi yang bertujuan untuk rekonstruksi dengan menggunakan kulit bagian tubuh lain telah dilakukan di India sekitar 800 tahun SM1. Kerja brilian dan kontribusi besar dalam perkembangan ilmu bedah ini diawali oleh Sushruta (dikenal sebagai the father of Surgery) melalui teknik bedah untuk penyakit katarak pada abad ke 6 SM, catatan dan prosedur medisnya dituliskan dalam bahasa sangsakerta yang kemudian diterjemahkan kedalam bahasa arab pada masa kekhalifahan Abbasiyah sekitar tahun 750 M. Eropa dan dunia barat sendiri baru mendalami teknik bedah ini setelah catatan medis dalam bahasa arab tersebut diterjemahkan kembali, salah satunya oleh keluarga Branca dari Sisilia-Italia.

Lalu apakah yang mendasari seseorang melakukan operasi plastik? Pada mulanya operasi plastik hanya dilakukan jika ada kepentingan medis, namun seiring dengan perkembangan jaman sekarang ini tindakan operasi plastik juga dilakukan untuk kepentingan kosmetik. Secara umum terdapat 5 alasan utama mengapa seseorang melakukan operasi plastik2:

  1. Alasan kesehatan; misalnya pada orang yang mengalami obesitas dan dia harus menurunkan berat badannya agar dia bisa hidup lebih sehat atau untuk memperbaiki saluran hidung karena ada penyumbatan.
  2. Kecelakaan; tindakan operasi yang dilakukan untuk memperbaiki struktur wajah atau tubuh yang cacat atau rusak karena kecelakaan.
  3. Self-esteem; pada orang yang merasa rendah diri akan penampilannya maka ia merasa membutuhkan perbaikan fisik untuk menambah rasa percaya dirinya.
  4. Rekonstruksi; dilakukan terutama pada orang yang memiliki cacat tubuh yang bersifat bawaan, misalnya bibir sumbing, jari yang berlebih, benjolan di wajah dan lain-lain.
  5. Vanity; secara sederhana dapat diartikan sebagai kebanggaan atau pemujaan terhadap penampilan fisik.

Dewasa ini tujuan orang melakukan operasi plastik lebih bersifat kosmetik, mereka menginginkan perubahan yang mendekati proporsi ideal untuk beberapa bagian tubuhnya atau menginginkan kondisi wajah dan tubuh yang sama atau bahkan lebih baik untuk melawan proses alamiah yang disebut proses penuaan. Hal yang menarik adalah data yang diperoleh dari The American Society of Plastic Surgeons tahun 20103, mereka mencatat beberapa fakta sebagai berikut:

  • Di Amerika. sebanyak 10,1 milyar US Dollar dibelanjakan untuk prosedur kosmetik per tahun.
  • Operasi plastik yang bertujuan untuk kosmetik 91% dilakukan oleh perempuan
  • Pasien yang melakukan operasi plastik secara repetitif meningkat sebanyak 13%.
  • Adapun 5 tindakan kosmetik yang paling sering dilakukan oleh wanita adalah:
  1. Breast augmentation
  2. Nose reshaping
  3. Eyelid surgery
  4. Liposuction
  5. Tummy Tuck

Apakah hal ini hanya terjadi di dunia barat saja? Jawabannya TIDAK. Ternyata angka tindakan operasi plastik yang bersifat kosmetik ini justru meningkat pesat di negara-negara Asia. Data dari The International Society of Aesthetic Plastic Surgery menunjukkan bahwa Korea Selatan memiliki persentase tertinggi dalam cosmetic plastic surgery4. Tindakan yang paling sering dilakukan adalah Eyelid surgery (operasi kelopak mata) dan perbaikan bentuk hidung. Mereka beranggapan bahwa dengan perbaikan wajah akan membuat mereka memiliki kesempatan kerja lebih banyak (karena wajah dan tubuh merupakan salah satu kriteria seleksi penting dalam beberapa jenis pekerjaan), memiliki karier yang lebih baik (terutama mereka yang bergerak di dunia hiburan) dan memiliki kepuasan hidup yang lebih tinggi.

Aspek psikologis dalam operasi plastik

Setelah melihat fakta dari data empiris yang diuraikan di atas, tentu akan sangat menarik jika kita membahas apa yang melandasi seseorang melakukan operasi plastik dan apa konsekuensi psikologis yang menyertainya. Kita akan membahasnya dalam beberapa pertanyaan sebagai berikut:

Sebagian besar operasi kosmetik dilakukan oleh wanita, apakah wanita lebih merasa tidak puas akan tubuhnya?

Hasil penelitian di Inggris yang dipublikasikan melalui Dailymail5 menunjukkan bahwa hanya 3% wanita yang secara total merasa senang dan puas dengan tubuhnya, sedangkan 73% wanita merasa tidak puas danselalu memikirkan mengenai ukuran dan bentuk tubuhnya setiap hari. Selain dari pada itu, wanita 10 kali lipat lebih mungkin memiliki body image yang buruk dibanding pria. Maka dari itu wanita memang lebih mungkin untuk melakukan operasi plastik dibanding dengan pria.

Apakah wanita yang melakukan operasi plastik memiliki self esteem yang lebih rendah dibanding dengan wanita yang tidak melakukan?

Self esteem dapat diartikan bagaimana seseorang memandang dan menghargai dirinya sendiri. Penelitian di Taiwan oleh Chen HC, Karri V, Yu RL dkk (2010)6 terhadap para kandidat yang akan melakukan cosmetic surgery dan kelompok kontrol (perempuan yang tidak melakukan cosmetic surgery) memperoleh hasil bahwa tidak ada perbedaan dalam angka ketidakpuasan terhadap citra tubuh perempuan yang akan melakukan cosmetic surgery dibandingkan dengan kelompok control, namun ditemukan adanya ketidakpuasan terhadap area tubuh tertentu (misal: tidak puas terhadap bentuk mata, hidung, dagu, pinggul dll) sebagai faktor yang memungkinkan perempuan melakukan cosmetic surgery. Dapat disimpulkan bahwa adanya ketidakpuasan terhadap bagian tubuh tertentu merupakan hal pendorong seseorang untuk melakukan cosmetic surgery, namun tidak selalu didasari oleh adanya self-esteem yang rendah. Penemuan ini memperkuat hasil studi dari Sarwer dkk (1998)7 yang dilakukan terhadap 100 pasien operasi kosmetik di Amerika, mereka menemukan bahwa 7% dari pasien memiliki Body Dysmorphic Disorder (BDD) sebagai kondisi psikiatris yang mempertinggi kemungkinan seseorang melakukan operasi plastik. BDD adalah ganguan psikologis dimana seseorang terpaku secara eksesif terhadap pandangan subjektif bahwa tubuhnya cacat/kekurangan/tidak sempurna. Yang menjadi penekanan pada kasus ini adalah pandangan subjektif yang bersifat pribadi, karena pada umumnya orang lain tidak melihat adanya kecacatan objektif pada wajah atau tubuh orang tersebut. Orang dengan BDD cenderung untuk melakukan operasi plastik secara berulang, karena dia akan selalu merasa ada hal yang tidak pas pada wajah atau tubuhnya.

Apakah dengan melakukan operasi plastik seseorang akan menjadi lebih puas terhadap dirinya?

Dari survey terhadap 5000 wanita di Inggris yang dilakukan oleh majalah REAL diperoleh data bahwa 65% wanita merasa bahwa hidup mereka akan lebih baik jika mereka merasa senang dengan tubuhnya5. Lebih lanjut, studi dari von Soest T, Kvalem, I.L, Roald, H.E dan Skolleborg, K.C (2009)8 memperoleh hasil bahwa perempuan yang melakukan cosmetic surgery mengalami peningkatan dalam kepuasan terhadap penampilannya. Dari perspektif psikologi, meskipun ditemukan bukti bahwa wanita yang melakukan cosmetic surgery akan mengalami peningkatan dalam hal self-esteem atau body image tidaklah bersifat mutlak. Seringkali ditemukan adanya faktor psikologis lainnya menyertai mengapa seseorang melakukan cosmetic surger,  pada orang yang memiliki BDD kepuasan dari hasil operasi hanya bersifat sementara karena ia akan terobsesi dengan bagian tubuh yang lain atau bahkan bagian tubuh yang pernah dioperasi, sehingga ia cenderung untuk melakukannya secara berulang.

Pandangan agama Islam terhadap cosmetic surgery

Untuk membahas operasi plastik dari sudut pandangan Islam, penulis akan mengacu pada keterangan dari ustad Muhammad Shiddiq Al-Jawi yang dimuat dalam blog konsultasi islam8 dengan menambahkan beberapa sumber lain yang relevan. Beliau menerangkan sebagai berikut:

Operasi plastik (plastic surgery) atau dalam bahasa Arab disebut jirahah at-tajmil adalah operasi bedah untuk memperbaiki penampilan satu anggota tubuh yang nampak, atau untuk memperbaiki fungsinya, ketika anggota tubuh itu berkurang, hilang/lepas, atau rusak. (Al-Mausu’ah at-Thibbiyah al-Haditsah, 3/454).

Hukum operasi plastik ada yang mubah dan ada yang haram. Operasi plastik yang mubah adalah yang bertujuan untuk memperbaiki cacat sejak lahir (al-’uyub al-khalqiyyah) seperti bibir sumbing, atau cacat yang datang kemudian (al-’uyub al-thari`ah) akibat kecelakaan, kebakaran, atau semisalnya, seperti wajah yang rusak akibat kebakaran/kecelakaan. (M. Al-Mukhtar asy-Syinqithi, Ahkam Jirahah Al-Thibbiyyah, hal. 183; Fahad bin Abdullah Al-Hazmi, Al-Wajiz fi Ahkam Jirahah Al-Thibbiyyah, hal. 12; Hani` al-Jubair, Al-Dhawabith al-Syar’iyyah li al-’Amaliyyat al-Tajmiiliyyah, hal. 11; Walid bin Rasyid as-Sa’idan, Al-Qawa’id al-Syar’iyah fi al-Masa`il Al-Thibbiyyah, hal. 59).

Operasi plastik untuk memperbaiki cacat yang demikian ini hukumnya adalah mubah, berdasarkan keumuman dalil yang menganjurkan untuk berobat (al-tadawiy). Nabi Muhammad SAW bersabda,“Tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit, kecuali Allah menurunkan pula obatnya.” (HR Bukhari, no.5246). Nabi Muhammad SAW bersabda pula,”Wahai hamba-hamba Allah berobatlah kalian, karena sesungguhnya Allah tidak menurunkan satu penyakit, kecuali menurunkan pula obatnya.” (HR Tirmidzi, no.1961).

Sebagai tambahan (penulis) merujuk pada pendapat Syeikh Dr. Yusuf Al-Qaradawi sbb: “Adapun kalau ternyata orang tersebut mempunyai cacat yang mungkin menjijikkan pandangan, misalnya karena ada daging tambah yang boleh menimbulkan sakit jiwa dan perasaan, maka tidak berdosa bagi orang itu untuk berobat selagi dengan tujuan menghilangkan kecacatan atau kesakitan yang boleh mengancam hidupnya. Karena Allah tidak menjadikan agama buat kita ini dengan penuh kesukaran“. (Al Halal Wal Haram Fil Islam).

Adapun operasi plastik yang diharamkan, adalah yang bertujuan semata untuk mempercantik atau memperindah wajah atau tubuh, tanpa ada hajat untuk pengobatan atau memperbaiki suatu cacat. Contohnya, operasi untuk memperindah bentuk hidung, dagu, buah dada, atau operasi untuk menghilangkan kerutan-kerutan tanda tua di wajah, dan sebagainya.

Dalil keharamannya firman Allah SWT (artinya) : “dan akan aku (syaithan) suruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka mengubahnya”. (QS An-Nisaa : 119). Ayat ini datang sebagai kecaman (dzamm) atas perbuatan syaitan yang selalu mengajak manusia untuk melakukan berbagai perbuatan maksiat, di antaranya adalah mengubah ciptaan Allah (taghyir khalqillah). Operasi plastik untuk mempercantik diri termasuk dalam pengertian mengubah ciptaan Allah, maka hukumnya haram. (M. Al-Mukhtar asy-Syinqithi, Ahkam Jirahah Al-Thibbiyyah, hal. 194).

Selain itu, terdapat hadis Nabi SAW yang melaknat perempuan yang merenggangkan gigi untuk kecantikan (al-mutafallijat lil husni). (HR Bukhari dan Muslim). Dalam hadis ini terdapat illat keharamannya, yaitu karena untuk mempercantik diri (lil husni). (M. Utsman Syabir, Ahkam Jirahah At-Tajmil fi Al-Fiqh Al-Islami, hal. 37). Imam Nawawi berkata,”Dalam hadis ini ada isyarat bahwa yang haram adalah yang dilakukan untuk mencari kecantikan. Adapun kalau itu diperlukan untuk pengobatan atau karena cacat pada gigi, maka tidak apa-apa.” (Imam Nawawi, Syarah Muslim, 7/241).

Kesimpulan

Dari bahasan tentang fakta, aspek psikologis dan pandangan Islam tentang operasi plastik, penulis menyimpulkan bahwa pendapat mengenai operasi plastik yang tidak didasari alasan medis akan terus mengalami perbedaan pendapat karena setiap orang memiliki dasar hukum yang berbeda-beda. Akan tetapi bagi kita umat Islam yang berpegang pada Al-Quaran dan Al-hadits sudah jelas bahwa operasi plastik untuk mempercantik diri dan tanpa dilandasi kepentingan medis hukumnya adalah haram.

Sebetulnya setiap manusia telah dianugerahi bentuk fisik yang harmonis, kecuali bagi mereka yang memiliki cacat bawaan. Maka dari itu hal yang paling utama adalah adanya rasa sayang dan bersyukur pada kondis fisik dan keadaan yang kita punya. Mengapa? Karena wajah dan tubuh inilah yang akan melekat dan menemani kita sampai kita meninggal kelak, jika kita sayang dan bersyukur maka kita akan merawatnya dengan baik tanpa harus merubahnya. Di lain sisi, bisa dibayangkan kalau kita tidak suka atau benci pada tubuh kita sendiri, perasaan kecewa dan tidak puas itu akan melekat terus sampai kita meninggal. Renungkan selalu firman Allah SWT dalam Q.S At-Tiin ayat 4, “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”.

Semoga bermanfaat dan memberi pencerahan. Sesungguhnya kebenaran itu datangnya dari Allah SWT sedangkan segala kesalahan dan kehilafan datang dari keterbatasan penulis. Wallahu a’lam.

Aulia Iskandarsyah

Sumber:

  1. http://en.wikipedia.org/wiki/Plastic_surgery
  2. http://EzineArticles.com/1077693
  3. http://www.plasticsurgery.org/News-and-Resources/Statistics.html
  4. http://www.asianplasticsurgeryguide.com/news10-2/081003_south-korea-highest.html#data
  5. http://www.dailymail.co.uk/news/article-146021/Most-women-unhappy-bodies.html
  6. Chen HC, Karri V, Yu RL dkk. Psychological Profile of Taiwanese Female Cosmetic Surgery Candidates: Understanding Their Motivation for Cosmetic Surgery. Aesth Plast Surg (2010) 34:340-349.
  7. Sarwer DB, Waden TA, Perstchuk MJ, Whitaker AMD. Body Image Dissatisfaction and Body Dysmorphic Disorder in 100 Cosmetic Surgery Patients. Plastic & Reconstructive Surgery (1998) 101 (6), 1644-1649.
  8. von Soest T, Kvalem, I.L, Roald, H.E dan Skolleborg, K.C. The effects of cosmetic surgery on body image, self-esteem, and psychological problems. Journal of Plastic, Reconstructive & Aesthetic Surgery (2009) 62, 1238-1244.
  9. http://konsultasi.wordpress.com/2009/07/23/hukum-operasi-plastik-untuk-mempercantik-diri/

Tentang auliaiskandarsyah

I am a husband, a father and a psychologist. Within this blog you can find my point of view, experiences and critical thinking about everything happened in our daily life. Have a nice journey through my blog ;-)

2 comments

  1. kok snsd dibilang oplas D: kan mereka mukanya dari dulu emang gitu._. kecuali ada beberapa member yang make behel

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s