Sebuah Catatan tentang Doa

Sekedar berbagi, betapa kekuatan doa terkadang di luar dugaan kita.

Ini hanya catatan kecil saya tentang sepenggal kisah kehidupan, tentang kekuatan sebuah doa yang sedikit banyak terinspirasi dari sebuah buku karya penulis favorit saya: Asma Nadia.

***

Maret 2008

Saya sedang asyik mengepel teras rumah ketika tiba-tiba perut bagian bawah saya terasa sakit. Deg. Jangan-jangan..

Buru-buru saya meninggalkan ember beserta kain pelnya, segera bergegas ke toilet. Tubuh terasa lemas ketika saya melihat bercak merah muda di sana.

Ya Allah, please, jangan lagi..

Saya ingat betul, hari itu Sabtu pagi yang cerah ketika saya merasakan perut yang melilit di tengah aktivitas mengepel. Seperti biasa di hari Sabtu, suami mengajak Nadaa, sulung kami, untuk mengikuti acara olah raga di kantornya.

Dengan perasaan campur aduk saya keluar dari toilet. Jemari tangan terasa bergetar tatkala perlahan saya menutup pintu. Di kamar, sambil berbaring, saya mengirim sms kepada suami.

Tolong cepat pulang Yah. Sepertinya aku pendarahan.”

Lalu saya tekan tombol Send.

***

Ini adalah kehamilan kelima saya, dan hampir menginjak minggu kedua belas. Kehamilan kelima? Ya, sebelum hamil dan melahirkan Nadaa, saya sudah sempat dua kali hamil yang dua-duanya berujung pada keguguran. Alhamdulillah kehamilan ketiga saya lumayan lancar hingga Nadaa lahir dengan sehat dan selamat. Ketika Nadaa berumur dua tahunan, saya sempat hamil lagi dan mengalami pendarahan hebat yang menyebabkan saya harus kembali merelakan janin di dalam kandungan. Jadi total saya sudah hamil sebanyak lima kali dan tiga kali di antaranya janin saya tidak bisa diselamatkan. Bisa dibayangkan, betapa saya trauma akan bercak darah itu.

Ya Allah, saya tidak mau hal itu terulang lagi, ucap saya dalam hati. Sambil mengelus perut, saya terus mengucap istighfar, berdzikir dan berdoa sebisanya.

Tak lama suami dan Nadaa pun datang. Tanpa banyak menunggu, bersama-sama kami menuju Rumah Sakit Bunda, tempat kontrol kehamilan saya selama ini. Kebetulan Dr. Putra yang selama ini menangani sedang ada di tempat. Beliau segera memeriksa saya, dan inilah vonisnya: saya harus bed-rest dan opname di RS.

Apa boleh buat. Saya cuma bisa pasrah dan berdoa. Yang penting janin masih bisa diselamatkan, batin saya.

Begitulah. Saya pun bersiap menginap di rumah sakit untuk menjalani bed-rest di sana. Saat suami pulang untuk membawakan pakaian dan perlengkapan lain, saya minta tolong dia membawakan buku “Catatan Hati di Setiap Sujudku” karya mbak Asma Nadia. Saya begitu terkesan pada kisah-kisah nyata penuh “keajaiban” doa di buku Serial Catatan Hati itu, dan saat itu saya sedang butuh kekuatan. Harapan saya, dengan membaca-baca buku itu lagi, saya bisa mendapatkan kekuatan bagi mental dan batin yang dilanda cemas.

(Saat itu rasa takut benar-benar menghantui, saya pun didera perasaan khawatir bahwa janin akan tumbuh tidak sempurna. Pendarahan di usia kehamilan sekitar tiga bulan, sungguh mengkhawatirkan. Apalagi darah yang keluar cukup banyak, ditambah lagi track record kehamilan saya yang tidak bisa dibilang bagus. Walaupun dokter menenangkan, tak urung kecemasan tetap menyelimuti. Saya begitu takut, kalaupun berhasil diselamatkan, anak saya nantinya akan lahir cacat, entah fisik atau cacat bawaan lainnya. Astaghfirullahal’adzim..)

“Catatan Hati di Setiap Sujudku” merupakan satu di antara sekian karya mbak Asma Nadia yang menjadi favorit saya. Mengikuti beberapa kisah dalam buku itu, saya pun memperbanyak doa dan berdzikir kepada Allah. Mencoba menguatkan dan meyakinkan hati, percaya sepenuhnya akan kuasa dan kehendak-Nya yang Maha Besar. Terinspirasi dari buku itu pula, saya pun menghubungi sebanyak mungkin keluarga, saudara dan sahabat; minta mereka untuk ikut mendoakan.

Setelah enam hari dirawat di Rumah Sakit dan pendarahan sudah berkurang, dokter mengijinkan saya untuk pulang. Bed-rest saya teruskan di rumah hingga sebulan lamanya. Walaupun masih rajin berdoa dan berdzikir, tak saya pungkiri, berbagai pikiran buruk masih seringkali menghantui. Pun dengan mimpi-mimpi buruk yang mengganggu tidur. Suami sudah hafal sekali dengan sifat jelek saya ini: negative thinking, terlalu khawatir, dan suka berpikir yang tidak-tidak.

“Itu cuma akan membuatmu capek Fi.. Ya mental, ya fisik. Yang penting kita sudah berusaha. Dokter pun bilang, Insya Allah semua baik-baik saja,” nasehatnya.

Ya, suami saya benar. Walaupun sulit, tapi saya mencoba untuk berpikiran positif dan berharap kemurahan Allah. Dengan harapan penuh, saya duduk bersimpuh memohon kepada-Nya dalam doa-doa panjang yang selalu saya panjatkan setelah sholat. Saya pun masih sering membaca-baca lagi buku “Catatan Hati di Setiap Sujudku”, berharap bisa belajar dan tertulari semangat dari kisah yang ada di situ.

Salah satu episode yang paling menggugah adalah cerita tentang Adam, putra Mbak Asma Nadia yang sempat didiagnosis kelainan otak ketika berusia tak lebih dari empatpuluh hari. Terjadi pendarahan otak, dan bayi mungil itu harus mengalami transfusi plasma untuk mengatasinya. Jarum infus telah membengkakkan tangan mungilnya, dari kanan hingga harus dipindah ke kiri, dan setelah tangan kirinya ikut membengkak maka giliran kaki mungilnya yang harus diinfus.

Beliau menuturkan bahwa semua penderitaan Adam yang disaksikannya sendiri justru melipatkan energinya serta harapannya untuk berdoa memohon kesembuhan kepada Allah. Dan Allah pun menunjukkan kuasa-Nya. Seusai perawatan dan dilakukan scan terhadap Adam, dokter menyatakan, “Seharusnya ada noktah bekas pendarahan. Tapi pada kasus Adam, tidak ada bekas yang terlihat. Ini benar-benar mukjizat.” Kini Adam tumbuh sebagai pria kecil yang hebat dan berbakat, seperti bunda dan ayahnya.

Bercermin pada kisah nyata tersebut, saya semakin percaya, bahwa dengan ikhtiar serta keyakinan, maka Allah akan mengabulkan doa kita, Insya Allah. Maka saya pun melanjutkan masa kehamilan dengan lebih tenang, tidak lagi terlalu paranoid dan membayangkan yang tidak-tidak.

***

September 2008

Lengkingan suara tangis bayi memecah suasana hening siang itu. Hilmy Farand Zaydan, putra kedua kami seolah menyerukan kepada dunia – terutama saya, ibunya – akan keberadaannya di dunia. Seolah meyakinkan saya bahwa dia sehat dan baik-baik saja.

Dan memang benar, Hilmy terlahir sehat dan lengkap, tidak ada kelainan sedikitpun seperti yang sempat saya khawatirkan. Semua baik-baik saja. Dia tumbuh sebagai bocah lucu yang cerdas dan menggemaskan. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Allah memang Maha Pemurah. Tidak ada yang tidak mungkin jika Dia telah berkehendak. Dari segala yang saya alami, Allah telah menunjukkan dan meneguhkan keyakinan saya, akan kekuatan dan mukjizat doa, serta kebesaran dan kuasa-Nya.

***

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu (memenuhi segala perintah-Ku), agar mereka selalu berada dalam kebenaran” (QS. Al-Baqarah:186)

“Di setiap udara yang kau temukan, Di sana akan kau jumpai Allah yang senantiasa mendengar doamu.” (Asma Nadia – Catatan Hati di Setiap Sujudku)

Iklan

2 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s