Kesulitan Membawa Kemudahan

 

المَشَقَّةُ تَجْلِبُ التَّيْسِيْرَ

Demikian sebuah kaidah penting yang spontan terungkap dalam sebuah diskusi kecil tadi malam, selepas acara BBAQ VIII di ISR. Sebuah kaidah yang menggambarkan bahwa Islam tidak datang untuk membawa kesulitan, akan tetapi justru datang dengan membawa banyak kemudahan.

Secara bahasa, kaedah ini bermakna bahwa sebuah kesulitan (masyaqqoh) akan menjadi sebab datangnya kemudahan dan keringanan. Para ulama menjelaskan bahwa, “hukum-hukum syar’i yang dalam prakteknya menimbulkan kesulitan dan kerumitan bagi seorang mukallaf (orang yang diberi beban syar’i), maka syariat Islam meringankanya agar bisa dilakukan dengan mudah dan ringan.” (Al Wajiz fi Idlohi Qowa’id Fiqh Kulliyah oleh DR. Muhammad Shidqi al Burnu, hal : 218).

Dalil Kaidah

Jika kita merujuk kepada Al Qur’an, ada banyak keterangan yang menerangkan tentang kaidah ini, antara lain yaitu firman Allah :

يُرِيدُ اللهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

yang artinya : “Allah menginginkan bagi kalian kemudahan dan tidak menginginkan bagi kalian kesulitan.” (QS. Al Baqoroh : 185)

Pada ayat yang lain, Allah berfirman :

وَمَاجَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ

yang artinya : “dan Allah sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.” (QS. Al Hajj : 78)

Selain itu, dalil tentang kaidah ini dapat kita temukan pula dalam hadist-hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, antara lain :

عَنْ عَائِشَةَ رَضِي اللَّه عَنْهَا أَنَّهَا قَالَتْ مَا خُيِّرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ أَمْرَيْنِ إِلَّا أَخَذَ أَيْسَرَهُمَا مَا لَمْ يَكُنْ إِثْمًا فَإِنْ كَانَ إِثْمًا كَانَ أَبْعَدَ النَّاسِ مِنْهُ

Dari Aisyah berkata : “Tidaklah Rosulullah diberi pilihan untuk memilih antara dua perkara kecuali beliau akan memilih yang paling mudah, selagi hal itu bukan perbuatan dosa. Namun jika itu perbuatan dosa maka Rosululloh adalah orang yang paling jauh darinya” (HR. Bukhori 3560 Muslim 2327)

Jenis-jenis Masyaqqoh

Jika dicermati, pada dasarnya tidak ada yang berat dan membawa masyaqqoh dalam syariat Islam. Para ulama telah menjelaskan bahwa sesuatu yang berat (masyaqqoh) dalam syariat itu ada tiga macam :

1. Masyaqqoh yang diluar kemampuan manusia

Maka ini tidak mungkin terdapat dalam syariat islam. Misalkan : berpuasa sepuluh hari berturut turut siang dan malam, berjalan di atas air, terbang tanpa alat dan lainnya. Ini semua tidak mungkin disyariatkan oleh Alloh dan Rosul-Nya.

2. Masyaqqoh yang biasa

Masyaqqoh jenis ini mesti ada dalam semua beban syar’i, karena semua perintah dan larangan pasti akan membawa sedikit beban pada jiwa yang diberi beban tersebut. Maka masyaqqoh model ini terdapat dalam syariat islam dan bukan yang dimaksud dengan ayat dan hadits diatas. Sebagai contoh: puasa sehari dari terbit fajar sampai terbenam matahari, ini pasti ada masyaqohnya akan tetapi dalam kadar yang wajar; sholat shubuh, ini juga ada sedikit masyaqqoh, karena harus bangun dan berwudhu disaat mungkin masih mengantuk atau udara dingin.

3. Masyaqqoh yang sangat amat berat meskipun sebenarnya mampu dilakukan oleh manusia

Jenis masyaqqoh ini juga tidak terdapat dalam syariat Islam, karena keutamaan yang Allah berikan kepada hamba-Nya. Sebagai contoh adalah sholat lima puluh kali sehari semalam; seandainya Allah memerintahkannya kepada manusia maka hal ini bisa dilakukan oleh mereka, namun dengan sebuah masyaqqoh yang sangat berat sekali. Oleh karena itu Alloh tidak mensyariatkan hal ini pada ummat Islam.

Masyaqqoh yang terdapat dalam syariat Islam adalah masyaqqoh yang wajar. Namun ketika suatu saat menjadi sulit dan berat karena adanya sebab tertentu, maka Allah memberikan keringanan dan keluasan kepada hamba-Nya. Misalnya, puasa pada siang hari pada bulan Romadhon yang asalnya adalah sebuah masyaqqoh yang ringan, namun ketika sakit atau safar akan menjadi berat; maka Allah memberikan keringanan kepada mereka untuk tidak berpuasa pada saat itu dan wajib menggantinya di waktu yang lain.

Sebab-sebab Datangnya Kemudahan/Keringanan

Ada beberapa sebab-sebab yang menjadikan seseorang mendapatkan keringanan syar’i, yaitu :

1. Safar

Safar adalah sepotong adzab, karena banyak kesulitan dan kerepotan saat dalam sebuah perjalanan jauh. Oleh karena itu Allah memberikan beberapa keringanan dalam menjalankan sebuah syariat saat safar. Diantaranya adalah meng-qoshor dan menjama’ sholat, boleh tidak berpuasa pada bulan Romadhon namun harus mengganti pada bulan lainnya, bolehnya mengusap sepatu tiga hari tiga malam sedangkan kalau tidak safar hanya boleh sehari semalam, dan lainnya.

2. Sakit

Keringanan yang didapatkan karena sakit misalnya bolehnya bertayamum sebagai ganti dari berwudlu, boleh tidak berpuasa pada bulan Romadhon namun menggantinya pada bulan lain, bolehnya sholat dengan duduk atau berbaring dan lainnya.

3. Terpaksa

Contoh keringanan karena sebab terpaksa adalah bolehnya mengucapkan kalimat kufur dengan syarat hatinya masih teguh diatas keimanan, sebagaiman kisah Ammar bin Yasir yang dipaksa kufur dengan siksaaan yang sangat berat, maka beliau mengucapkan kalimat kufur namun hatinya tetap teguh di atas keimanannya.

مَن كَفَرَ بِاللهِ مِن بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلاَّ مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِاْلإِيمَانِ وَلَكِن مَّن شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِّنَ اللهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمُُ

Barangsiapa yang kafir kepada Alloh sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Alloh), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Alloh menimpanya dan baginya azab yang besar.” (QS. An Nahl : 106)

4. Lupa

Orang yang lupa makan dan minum siang hari bulan Romadhon tidak batal puasanya, juga tidak berdosa orang yang lupa tidak sholat sampai keluar waktunya, hanya saja kalau dia ingat maka wajib melaksanakannya saat itu juga. Sebagaimana sabda Rasululloh :

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ نَسِيَ صَلَاةً أَوْ نَامَ عَنْهَا فَكَفَّارَتُهَا أَنْ يُصَلِّيَهَا إِذَا ذَكَرَهَا

“Dari Anas bin Malik ia berkata : Rasululloh bersabda : “Barang siapa yang lupa sholat atau ketiduran belum mengerjakannya, maka kaffarohnya adalah mengerjakannya saat dia ingat.” (HR. Bukhori 597, Muslim 684)

5. Bodoh

Terkadang bodoh adalah sebuah sebab seseorang mendapatkan keringanan, misalnya orang yang baru masuk islam dan belum mengetahui bahwa khomer itu hukumnya haram, lalu dia meminumnya maka tidak ada dosa atasnya.

6. Sulit menghindari

Dalam keadaan-keadaan tertentu, manusia sulit sekali menghindari sesuatu yang pada dasarnya adalah tidak boleh, maka hal itu bisa diberi keringanan karena kesulitan tersebut. Misalnya, tidak dinajiskanya kucing karena binatang ini sangat sering bergaul dengan manusia, keluar masuk rumah dan lainnya. Seandainya dinajiskan maka akan sangat memberatkan bagi manusia. Oleh Karena itu, tatkala Rasululloh ditanya tentang najisnya kucing beliau menjawab :

إِنَّهَا لَيْسَتْ بِنَجَسٍ إِنَّهَا مِنَ الطَّوَّافِينَ عَلَيْكُمْ وَالطَّوَّافَاتِ

Sesungguhnya dia tidak najis, karena dia binatang yang selalu di sekeliling kalian.” (Shohih HR. Abu Dawud : 75, Nasa’i 1/55, Tirmidzi : 92, Ibnu Majah 367)

7. Kekurangan

Ada beberapa kekurangan yang terdapat pada seseorang, baik kekurangan dalam fisik, akal ataupun lainnya. Maka semua kekurangan tersebut bisa menjadi sebab mendapatkan keringanan. Sebagai contoh, orang yang kurang fisiknya maka tidak wajib baginya jihad, contohnya orang yang buta atau pincang yang parah.

Macam-macam Kemudahan/Keringanan

Dari beberapa contoh yang telah disampaikan sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa keringanan yang diberikan oleh Allah dan Rasul-Nya meliputi beberapa macam (Al Wajiz fi Idlohi Qowa’id Fiqh Kulliyah) :

  • digugurkan kewajiban; misalnya orang yang haidh dan nifas tidak diperbolehkan sholat, dan tidak wajib mengqodho’ nya.
  • dikurangi dari aslinya; misalnya sholat dhuhur yang asalnya empat rokaat, namun bagi musafir hanya dikerjakan dengan dua rokaat.
  • diganti dengan yang lain; semacam mengganti wudhu dan mandi junub dengan bertayammum saja kalau terdapat sebab yang membolehkan tayammum.
  • Memajukan dari waktu yang sebenarnya; misalnya orang boleh untuk mengerjakan waktu ashar diwaktu dzuhur, karena sedang bepergian atau sedang ada keperluan yang mendesak. Juga bolehnya membayar zakat fithri maupun zakat mal sebelum waktu wajibnya.
  • Mengakhirkan dari waktu yang sebenarnya; misalnya bolehnya mengerjakan shoat dzuhur di waktu ashar serta waktu maghrib di waktu isya’ saat sedang safar atau ada sebuah keperluan yang mendesak.
  • Saat terpaksa, yang haram jadi boleh; misalnya Orang yang sangat kelaparan, maka dia boleh memakan bangkai, bahkan terkadang menjadi wajib memakan bangkai tersebut karena khawatir jika seandainya tidak memakannya akan mengakibatkannya meninggal dunia.
  • Merubah; seperti perubahan tata cara sholat saat berada di medan pertempuran, yang disebut dengan sholat khouf.

Penerapan Kaidah

Beberapa contoh penerapan kaidah ini antara lain :

  • Pada dasarnya bangkai adalah haram, namun jika seseorang dalam keadaan terpaksa maka diperbolehkan baginya memakan bangkai tersebut bahkan dalam kondisi tertentu mungkin menjadi wajib.
  • Asuransi konvensional itu hukumnya haram, karena banyak mengandung unsur kedzoliman, riba dan lainnya. Namun pada zaman sekarang ini sistem asuransi ini hampir ada di semua sektor kehidupan, misalnya jika masuk terminal harus membayar peron yang mesti ada sebagian uangnya untuk PT Asuransi dan lainnya, maka diperbolehkan membayar uang peron tersebut meskipun mengandung unsur asuransi karena akan sangat sulit sekali menghindarinya.
  • Kalau sulit mendapatkan sesuatu dengan cara yang meyakinkan, maka diperbolehkan menggunakan dzon (persangkaan) yang kuat meskipun tidak sampai yakin. Dan ini banyak kita dapatkan dalam fiqh Islami. Misalnya, orang yang tidak mengetahui arah kibat lalu sudah berusaha mencarinya namun tidak mendapatkanya, maka dia bisa menggunakan berbagai macam qorinah untuk menguatkan arah kiblat lalu sholat mengarah kesana meskipun dia sendiri belum yakin bahwa itulah arah kiblat.
  • Pada dasanya tidak boleh menjual barang yang tidak diketahui bendanya secara langsung, namun karena banyak keperluan akan hal ini, maka diperbolehkan jual beli pesanan, dengan cara pembeli barang membayar kontan dulu, namun barangnya akan di terima belakangan dengan menyebutkan kriteria tertentu. Begitu juga diperbolehkannya jual beli biji-bijian yang masih dalam tanah serta menjual buah yang masih dalam pohonnya karena keperluan yang mendesak akan hal itu.
Sebagai kesimpulan, terdapat sebuah nukilkan perkataan Syaikh Abdur Rahman As Sa’di : “seluruh syariat Islam ini lurus dan mudah; lurus dalam masalah tauhid yang dibangun atas dasar beribadah hanya kepada Allah saja yang tiada sekutu bagi-Nya, serta mudah dalam hal hukum dan amal perbuatan.” (Al Qowa’id wal Ushul Jami’ah)

Allahu a’lam. Semoga bermanfaat.

Sumber : Tulisan Al Ustadz Ahmad Sabiq Abu Yusuf (http://ahmadsabiq.com)

Iklan

One comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s