Sholat membekukan ruang dan waktu…

auzubillahi minash shaitan nirrajim,

Bismillahirrahmanirrahim,

Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al-Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al-Ankabut 29: 45)

Shalat membangun ruang

(Setidaknya) ada 54 ayat (yang saya temukan) dalam Al-Qur’an yang mengandung kata Shalat (صلاة), dan 35 diantaranya menekankan untuk mendirikannya (اقيم). Pertanyaannya, kenapa kita harus mendirikan atau membangun shalat? Apakah itu yang dimaksud dengan mendirikan?

Bagi saya, shalat adalah sebuah ruang, ruang antara makhluk dan Allah. Ruang itu dimediasi oleh sebuah sajadah yang dihamparkan kapanpun, dimanapun dalam kondisi apapun yang memungkinkan dan bersih dari najis. Sebuah ruang portable yang bisa dibawa kemana saja. Sajadah adalah sebuah elemen arsitektur yang unik, ketika tidak dipakai, sajadah hanyalah sebuah kain biasa yang biasanya berwarna hijau atau merah, bergambar ka’bah atau masjidil Haram. Hanya itu. Namun ketika sajadah dibentangkan, kita berdiri diatasnya, berniat, mengangkat tangan dan mengucapkan “Allahu Akabar”, sebuah ruang terdefinisi, tercipta.

Tanpa perlu dinding atau atap, sebuah ruang dapat tercipta. Ruang transendental yang memungkinkan bagi makhluk untuk berdialog dengan penciptanya. Sebuah ruang yang lepas dari lingkungan sekitarnya. Sebuah ruang yang terisolasi dari normalitas. Sebuah ruang pengecualian. Ruang yang hanya ditempati oleh insan dan Allah.

Di ruang ini kita mengisi hati dan batin kita, membangun hubungan kita dengan Allah, mendekatkan diri dengan Allah. Di ruang ini kita bebas bersyukur, berbahagia, berkeluh kesah, melepaskan rasa marah kita, meminta kesabaran, bersedih, berdoa, dan meminta apapun yang terbaik untuk kita. Jika diluar sana tidak ada yang benar-benar mengerti kesedihan dan kefrustrasian kita, di ruang ini kita benar-benar akan dicintai dan didengarkan oleh Allah. Jika diluar sana tidak ada yang memahami dan menenangkan hati, di ruang ini kita akan benar-benar dipahami, dikabulkan dan ditenangkan hati kita oleh Allah (insyaallah).

Ruang ini adalah sebaik-baiknya ruang. Ruang yang mulia.

Mendirikan shalat sama saja dengan mendirikan dan membuat kokoh ruang ini. Kita memulai perlahan-lahan membangun dan mendekatkan hubungan kita dengan Allah. Tentu kedekatan ini tidak akan terjadi begitu saja, namun secara perlahan tapi konsisten, seperti membangun sebuah bangunan, harus dimulai dari pondasi terlebih dahulu sebelum pada akhirnya kita meletakkan atap. Membangun ruang ini juga harus dengan menguatkan pondasi tauhid dan keimanan kita, mengerti tertib shalat, memahami bacaannya, diawali dan diakhiri dengan meminta.

 

Shalat membekukan waktu

Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).” (Al Israa 17: 78)

Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (An Nisa 4: 103)

Mengapa shalat dilakukan 5 kali dalam sehari pada waktu-waktu tertentu? Mengapa tidak ditumpuk saja di satu waktu kita shalat 17 rakaat di malam hari setelah selesai beraktivitas?

Dunia sudah serba cepat dan sangat kompetitif. Kita sama-sama mengusung sebuah progress dimana kita memuja kemajuan zaman, kemajuan teknologi, dan lain-lain. Progress ini memaksa kita untuk berusaha lebih, meraih lebih, dan memiliki posisi yang lebih. Kita dipaksa untuk bekerja lebih keras, lebih kreatif dan lebih cepat dalam membuat keputusan. Pada akhirnya, kehidupan kita jalani hanya dengan rutinitas sehari-hari, keputusan demi keputusan, kerja keras demi kerja keras dan kadang lupa akan tujuan. Progress membuat kita  lupa bahwa tidak selamanya ada hari esok. Progress membuat kita lupa kalau hidup itu akan berhenti suatu saat tanpa kita duga, entah hari ini, esok lusa atau tahun depan. Progress membuat kita lupa akan kematian.

Shalat adalah momen refleksi dan kontemplasi ditengah-tengah kondisi ini. Shalat adalah waktu-waktu beku disela-sela permasalahan yang lalu lalang dengan tidak henti-hentinya. Shalat membuat kita bersujud, terdiam dan berpikir ditengah-tengah kesibukan yang tidak akan pernah habis, ditengah pekerjaan yang menumpuk. Berpikir kembali akan tujuan hidup, pencapaian kita, usaha kita dan untuk bersyukur akan apa yang kita sudah miliki.

Di waktu yang beku itu kita dapat merenung kembali, akan apa yang kita cari dan kejar dari usaha kita. Kita mengingat kembali apa hakekat hidup manusia, kita mengingat kembali masalah adanya akherat. Kita tersadar kembali akan adanya kematian yang sudah dekat menunggu kita. Kita tersadar kembali akan dosa-dosa kita,mohon ampun dan mencari pahala sebanyak-banyaknya. Kita akan tersadar kembali bahwa pekerjaan juga ibadah, yang juga mengharap ridha Allah yang harus dikerjakan sebaik-baiknya namun tidak merugikan orang lain.

Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain.

Waktu-waktu beku ini sengaja dimasukkan di sela-sela hari-hari kita, agar kita selalu tersadar dan bersabar. Kita mengawali hari dengan shalat subuh, merenung dan bersyukur kita masih diberikan nafas dan ruh kita dikembalikan ke tubuh kita oleh Allah. Disela-sela pekerjaan kita akan di sadarkan oleh shalat dzuhur dan kadang ashar, agar kita sejenak melepas penat dari stress yang kita alami dari pekerjaan kita dan bersyukur bahwa kita masih diberi kekuatan dan kesehatan untuk berusaha. Di akhir hari kerja kita disadarkan kembali oleh shalat maghrib yang me-resume-kan pekerjaan kita hari itu dan kembali kita bersyukur masih diberi amanah untuk memegang tanggung jawab tertentu. Sebelum tertidur kita kembali disadarkan agar bersyukur bahwa kita masih diberi kesempatan untuk berkumpul dengan istri dan anak-anak, serta keluarga kita, dan berdoa memohon kepada Allah agar masih diberikan hari esok.

Epilog: Shalat membekukan ruang dan waktu

Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu.” (Al-Baqarah 2: 45)

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (Al-Baqarah 2: 277)

Shalat adalah sebuah ruang untuk berdialog, berdoa, refleksi dan kontemplasi. Sebuah ruang transendental yang menghubungkan insan dengan Allah. Sebuah ruang yang membekukan ruang dan waktu. Sejenak retreat dari normalitas untuk mengingat kembali tujuan kita, dan bersyukur atas apa yang kita punya. Ruang yang senantiasa kita bangun dan kita perkuat untuk mendekatkan diri kita kepada Allah.

Dengan kedekatan kita kepada Allah, insyaallah tidak ada hal yang kita khawatirkan, hati akan terasa tenang, segala urusan akan terasa lebih ringan, segala usaha tidak akan sia-sia, kita senantiasa optimis dan tidak berputus asa dan selalu diberi kesabaran dan kesadaran oleh Allah. Amin.

Maha benar Allah akan segala firman-Nya. Maha salah saya akan segala postulat saya.

Wassalamu’alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakaatuh,

Ivan Nasution

catatan: gambar-gambar diambil oleh berbagai situs dan blog, dengan menggunakan search engine google dengan kata kunci shalat

 

Iklan

Tentang Ivan

After graduating from school of architecture Institut Teknologi Bandung, Indonesia in 2006, he worked for almost three years in an emerging Singaporean young firm, Park associates Architect. He design several residential projects to build with the office and published in some renowned architecture magazines such as D A. Since 2009 he is the founder of ruang magazines, an online architecture magazine that deal with urban and social problems in Indonesia.

One comment

  1. menarik, memaknai shalat dalam kacamata arsitektur ya 🙂
    sekedar mengingatkan, meskipun sudah menemukan aneka hikmah dibaliknya,
    tujuan utama tetaplah untuk beribadah kepadaNya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s