Menjadi anak yang Soleh (reportase BBAQ 6)

Bismillahirrahmanirrahim,

Assalamualaikum wr wb,

“Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.

Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”

(Luqman 31: 12-15)

Alhamdulillah pada hari rabu, 17 mei 2011 kita melangsungkan BBAQ yang ke 6. Majelis membahas surat Luqman (surat ke 31) ayat 12-19. Yang sedikit banyak bercerita mengenai nasihat Luqman (seorang yang sangat bijak, yang dikenal juga dengan nama Luqman Al Hakim) yang disampaikan kepada anaknya.

Alhamdulillah usia kandungan Lia Syavitrie (istri kang Aulia) menginjak usia 7 bulan, dan kita sama-sama mendoakan semoga akan menjadi anak yang soleh, menyayangi ayah-ibu nya dan bermanfaat bagi orang lain, amin ya rabbal alamin.

Anak yang soleh

Luqman mengingatkan anaknya untuk tidak mempersekutukan Allah dalam keadaan apapun. Karena hal itu adalah sebesar-besarnya dosa dan tidak akan diampuni oleh Allah. Kita diingatkan untuk selalu berbuat baik terhadap orang tua. Ridha orang tua adalah ridha Allah. Namun jangan sekali-kali kita tunduk kepada manusia dalam hal mempersekutukan Allah, walaupun atas suruhan orang tua sekalipun. Tapi kita wajib berbakti dan memperlakukan orang tua dengan baik walaupun orang tua kita menyekutukan Allah.

Namun kita dapat mengingkari kemungkaran kita dengan tiga tahap: dengan perbuatan, jika tidak mampu maka dengan ucapan, dan jika tidak mampu maka dengan hati. Seperti kisah Nabi Ibrahim AS, yang dengan lemah lembut mengingatkan ayahnya (seorang pembuat berhala) untuk tidak mempersekutukan Allah dengan berhala-berhala. Kemudian ayah Ibrahim memerah mukanya dan marah secara besar-besaran, hingga diusirnya Nabi Ibrahim dan seolah-olah tidak ada hubungan diantara mereka. Namun Nabi Ibrahim dapat menerima kemarahan ayahnya dan tetap berlaku sopan seraya mendoakan: “Oh ayahku! Semoga engkau selamat, aku akan tetap memohonkan ampun bagimu dari Allah dan akan tinggalkan kamu dengan persembahan selain kepada Allah. Mudah-mudahan aku tidak menjadi orang yang celaka dan malang dengan doaku untukmu.

Apapun keadaannya kita harus tetap berbakti kepada orang tua tanpa menyekutukan Allah.

 

Setiap perbuatan akan mendapat balasan

Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui”. (Luqman 31: 16)

Sekecil apapun (bahkan sekecil atom)  perbuatan baik dan buruk kita akan mendapat balasan oleh Allah. Allah Maha Adil. Setiap perbuatan ada ganjarannya. Seseorang yang berbuat buruk, maka akan mendapat balasannya di akherat kelak. Contoh seseorang yang membunuh orang lain, selain akan ditindak secara hukum, namun apakah korban nya tidak berhak meminta pertanggungjawaban dan menuntut pembunuh tersebut. Maka kelak di akhirat Allah akan mengganjarnya.

Seseorang yang berbuat baik sekecil apapun akan dibalas oleh Allah.

Memegang Amanah

Kita harus banyak belajar dari kepemimpinan Umar Bin Abdul Aziz. Berikut beberapa kisah yang diambil dari kisah-kisah teladan Rasulullah dan para sahabat[1].

UMAR biasa menyalakan lampu lilin milik Negara saat ia mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang berkaitan dengan Negara, Bila urusan selesai, ia mematikan lampu lilin itu dan menyalakan lampu miliknya sendiri.

PERAYAAN hari lebaran kian dekat. Damaskus, ibukota kekhalifahan Bani Umayyah, semarak dengan
kegembiraan. Semua orang sibuk dengan persiapan masing-masing menyambut saat-saat bahagia itu.

Khalifah Umar bin Abdul Aziz duduk-duduk di dalam istana, lalu istrinya datang menghampiri.

“Lebaran sudah hampir tiba. Anak-anak perlu dua stel pakaian baru untuk lebaran,” kata istri Umar.

“Aku juga sedang memikirkan hal itu. Namun apa yang bisa aku lakukan?” jawab Umar sedih. “

Anda tahu, putra-putri para amir dan bangsawan akan mengenakan baju-baju mahal dan hiasan permata dalam perayaan lebaran. Putra-putri khalifah juga harus tampil dengan busana yang sesuai dengan kedudukan mereka,” istrinya mencoba membuat alasan.

“Tetapi aku tidak punya hak untuk memberimu apa yang engkau harapkan. Gajiku sebagai khalifah terlalu kecil untuk membeli pakaian anak-anak.”

“Amirul Mukminin! Kalau begitu berikan gajimu padaku satu minggu ke depan dan aku akan mengatur pembelian baju anak-anak dari uang itu.”

“Tetapi siapa yang bisa mengatakan bahwa aku akan hidup satu minggu ke depan? Dan siapa yang tahu bahwa aku tidak akan diturunkan oleh rakyat sebelum satu minggu berakhir? Sudahlah! Lebih baik kita meninggalkan kemewahan daripada beresiko hutang yang belum tentu mampu kita lunasi.”

—Khuzaima and Ekrama (Idris Ahmad)

PADA suatu ketika dikisahkan bahwa Khalifah Umar Bin Abdul Aziz ketika sedang memberikan ceramah di depan rakyatnya, beliau berceramah sambil mengibas-ngibaskan bajunya. Setelah selesai ceramah, salah seorang sahabat menghampiri beliau dan bertanya, “Baginda, ada apa gerangan engkau mengikas-ngipaskan bajumu?”. Kemudian Khalifah Umar menjawab “Bajuku basah, aku cuma punya satu baju, tadi aku cuci dan sekarang aku pakai kembali”.

Mendengar jawaban tersebut tentu saja sahabat sangat kaget. Sahabat kemudian bertanya “Mengapa engkau tidak membeli baju saja dari dana Baitul Mal, engkau adalah pemimpin kami”. Mendengar pertanyaan tersebut khalifah umar kembali menjawab “Ah tidak usah, Aku tidak ingin memberatkan dana umat”.

Banyak yang bisa kita teladani dari kisah-kisah Rasulullah, para sahabat dan para khalifah. Memegang sebuah amanah adalah sebuah hal yang sangat berat, harus bisa membedakan urusan pribadi dan urusan kerakyatan, dan bertindak adil. Tidak mengatasnamakan urusan pribadi sebagai urusan Negara. Tidak memanfaatkan dan menyia-nyiakan amanah dan tanggung jawab.

Semoga kita dapat mengambil pelajaran dari sedikit reportase diatas.

Maha benar Allah akan segala firmannya. Maha salah saya akan segala postulat saya.

Wassalamu’alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakaatuh,

Ivan Nasution

Iklan

Tentang Ivan

After graduating from school of architecture Institut Teknologi Bandung, Indonesia in 2006, he worked for almost three years in an emerging Singaporean young firm, Park associates Architect. He design several residential projects to build with the office and published in some renowned architecture magazines such as D A. Since 2009 he is the founder of ruang magazines, an online architecture magazine that deal with urban and social problems in Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s