reportase BBAQ 5: Qada dan Qadar

Bismillahirrahmanirrahim,

Assalamualaikum wr wb,

(yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya, dan bahwasanya usaha itu kelak akan diperlihat (kepadanya). Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna, dan bahwasanya kepada Tuhamulah kesudahan (segala sesuatu), dan bahwasanya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis, dan bahwasanya Dialah yang mematikan dan menghidupkan, dan bahwasanya Dialah yang menciptakan berpasang-pasangan pria dan wanita (An Najm 53: 38-45)

Alhamdulillah pada hari rabu, 3 mei 2011 kita melangsungkan BBAQ yang ke 5. Majelis membahas surat An Najm (surat ke 53) ayat 33-63. Yang sedikit banyak bercerita mengenai Qada dan Qadar, atau yang sering kita sederhanakan dengan kata takdir. Untuk pembahasan kali ini, mari kita tetap kepada kata asalnya yaitu Qada dan Qadar.

Sebelum membahas Qada dan Qadar ini dengan lebih jauh, mari kita mengingat bahwa hal ini adalah bagian dari rukun iman yang ke 6, yaitu beriman kepada Qada dan Qadar. Dengan kata lain perlu dicatat, untuk memahami ini diperlukan keimanan, tidak semata-mata berdasarkan logika. Jika tidak maka kita akan tersesat. Semoga kita bukan termasuk orang-orang yang akan disesatkan. Amin.

Sebagai pengantar, pengertian Qada dan Qadar jika dilihat secara otonom, maka satu akan memuat yang lainnya. Pada Qada terdapat aspek Qadar dan sebaliknya. Tetapi ketika kita melihat secara bersamaan, maka kedua kata ini akan bermakna lain: “Qada bermakna sesuatu yang ditetapkan Allah pada mahluk-Nya, baik berupa penciptaan, peniadaan maupun perubahannya. Sedangkan Qadar bermakna sesuatu yang telah ditentukan Allah sejak zaman azali. Maka Qadar ada lebih dahulu kemudian disusul dengan Qada.”[1]

Jangan menjadi kaum yang berlebihan

Dalam sejarah ada dua aliran yang memahami Qada dan Qadar ini secara ekstrim[2]:

1. Aliran Qadariyah

Aliran yang tidak mempercayai adanya andil Allah dalam menentukan segala perbuatan dan tindakan manusia. Manusia memiliki free will dan kekuatan penuh dalam mengambil segala keputusan.

2. Aliran Jabariyah

Aliran ini memahami takdir dari sudut pandang yang berlawanan. Bahwa manusia tidak punya kehendak dan andil apa-apa dalam menjalani kehidupan ini, bahwa semua sudah diatur oleh Allah, hingga pada titik ekstrim, manusia adalah boneka-boneka yang sudah ditentukan tugas dan kewajibannya.

Sebagai seorang muslim yang beriman kepada Qada dan Qadar kita harus menempatkan diri kita ditengah-tengah, tidak merujuk kepada salah satu ekstrim. Pada dasarnya manusia dapat mempunyai kehendak, namun dengan izin Allah lah semua hal itu terjadi dan tidak terjadi. Kita diharuskan untuk selalu berprasangka baik kepada Allah, dengan hal ini insyaallah kita mampu menghadapi segala tantangan, rintangan, kekecewaan, kebahagiaan, dengan tidak berlebih-lebihan.

Sungguh mengagumkan perkara seorang mukmin. Sungguh seluruh perkaranya adalah kebaikan baginya. Yang demikian itu tidaklah dimiliki oleh seorangpun kecuali seorang mukmin. Jika mendapatkan kelapangan ia bersyukur, maka yang demikian itu baik baginya. Dan jika ia ditimpa musibah ia bersabar, maka yang demikian itu baik baginya.” (Shahih Muslim 5318)

Lauhul Mahfuz

Sesungguhnya Allah Maha Tahu dan Maha Teliti.

Tiada sesuatupun yang ghaib di langit dan di bumi, melainkan (terdapat) dalam kitab yang nyata (Lauhul Mahfuzh).” (An Naml 27: 75)

Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (Al Hadiid 29: 22)

Sesungguhnya setiap perkara manusia telah dituliskan oleh Allah sebelum dunia ini tercipta. Setiap manusia sudah dituliskan semua takdirnya secara detail. Dan tertulis dalam kitab yang akurat bernama Lahulul Mahfuz. Setidaknya 4 perkara sudah ditentukan sebelum manusia itu diciptakan, yaitu: kelahiran, rejeki, jodoh dan kematian. Namun hal ini tidak bisa diartikan secara literal bahwasanya, jika semua sudah ditentukan maka untuk apa manusia itu berusaha. Ini adalah sebuah pengertian yang salah sama sekali. Manusia harus juga berusaha dan berdoa untuk selalu didekatkan rejekinya dan jodohnya.

Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia…” (Ar-Ra’d 43: 11)

Janganlah kita berangkuh diatas rejeki, kesuksesan dan pendidikan kita yang dititipkan oleh Allah, dan jangalah kita berlarut-larut merana sengsara atas cobaan yang diberikan kepada kita. Berusahalah dan berdoa!

Ujung usaha

Seperti yang sudah dijelaskan oleh ayat diatas, bahwa Allah tidak akan merubah keadaan seseorang kecuali dia berusaha. Namun pertanyaannya sampai mana batas usaha kita?

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya….” (Al Baqarah 2: 286)

Kita diberi kemampuan untuk berpikir, memilih dan berusaha. Dan seorang muslim tidaklah patut berputus asa atas usahanya. Masih ada Allah yang akan mendukung kita, asal kita berusaha dengan sungguh-sungguh dan berdoa, insyaallah jika hal tersebut baik untuk kita, maka Allah akan mendekatkannya.

Islam mengajarkan kita untuk berserah diri kepada Allah. Berserah diri secara total, kalau usaha yang kita lakukan itu semata-mata mengharap ridha Allah, dan kita harus berusaha dengan usaha terbaik kita dan selanjutnya adalah hak Allah untuk menenetukan. Saya selalu percaya ada banyak alasan dibalik sebuah kejadian, dan hal itu baik untuk kita. Namun seringkali kita belum menyadarinya atau malah tidak mau menyadarinya. Kita harus senantiasa merefleksikan hal-hal yang terjadi disekitar kita, agar kita belajar.

Epilog: memahami dengan iman

Ada alasan mengapa Qada dan Qadar menjadi bagian dari rukun iman. Karena untuk memahaminya dengan benar tidak cukup dengan logika, dibutuhkan keimanan. Selalu berprasangka baik atas kejadian-kejadian yang ditetapkan oleh Allah, selalu ada hikmah dibalik sesuatu hal. Ini akan menjadikan kita manusia yang optimis.

Berusahalah sampai batas usaha kita. Berusahalah yang terbaik, dan berdoalah serta berserah diri kepada Allah. Niscaya kita akan diberikan yang terbaik bagi kita.

Rejeki dan musibah, keduanya adalah cobaan. Jadi jangan terlampau senang dengan rejeki dan jangan terlampau berduka dengan musibah. Keduanya hadir untuk mengingatkan. Apakah kita masih bersyukur dikala senang dan apakah kita masih ber-istighfar dikala sedih.

Maha benar Allah akan segala firmannya. Maha salah saya akan segala postulat saya.

Wassalamu’alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakaatuh,

Ivan Nasution


[1] http://id.wikipedia.org/wiki/Qada, diakses 10 mei 2011

[2] Dapat dibaca secara lengkap juga d,i http://www.scribd.com/doc/22264560/Qadariyah-Jabariyah

Iklan

Tentang Ivan

After graduating from school of architecture Institut Teknologi Bandung, Indonesia in 2006, he worked for almost three years in an emerging Singaporean young firm, Park associates Architect. He design several residential projects to build with the office and published in some renowned architecture magazines such as D A. Since 2009 he is the founder of ruang magazines, an online architecture magazine that deal with urban and social problems in Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s