Reportase Pengajian Januari

BismillahhirRahmanirRahim

“wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”

(At Tahrim, 66: 6)

Assalamu’alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakaatuh

Minggu, 30 Januari 2010, Alhamdulillah kita melangsungkan pengajian bulan Januari. Senang sekali melihat acara ini disambut baik oleh banyak teman-teman yang datang menghadiri. Semoga berguna bagi kita semua.

Acara dibuka dengan pembacaan surat At-Tahrim (66) ayat 6 – 12, yang dibacakan dengan indah oleh adik Farzikha Soerono. Dan dilanjutkan dengan sari tilawah yang bermakna sekali oleh bang Bobby Hardian. Diantaranya teguran untuk kita agar selalu menjaga diri dari siksa api neraka, bila berbuat salah segeralah bertaubat dengan sesungguh-sungguhnya taubat, dan Allah menjanjikan sebuah kebahagian bagi orang-orang yang bersabar untuk beriman.

“… pada hari ketika Allah tidak akan mengecewakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengannya…” (At Tahrim, 66: 8 )

Acara dilanjutkan dengan tausiah oleh pak Hamdi, salah satu tenaga dai di Belanda, beliau lulusan dari universitas Cairo, Mesir. Beliau berpesan mengenai banyak hal yang berkaitan dengan hidup kita sebagai muslim, juga bagaimana membina hidup sebagai muslim. Beberapa hal yang dapat saya simpulkan diantaranya:

#1 banggakah kita sebagai muslim?

Hal ini patut kita tanyakan kepada diri kita sendiri. Sebagai contoh, kita hidup dalam konteks Belanda dimana nama agama Islam sangat buruk. Banyak umat islam pendatang, dari timur eropa atau dari afrika dan asia tengah, yang malah membawa nama buruk bagi islam. Memanfaatkan keluangan dari social security, tidak mau berbaur dengan masyarakat sekitar, dan permasalahan lainnya.

Kita kadang lupa kalau setiap kita sebagai individu mempunyai tanggung jawab masing-masing dalam membawa atribut yang kita punya, cara hidup kita merepresentasikan agama kita sendiri. Apakah kita muslim? Mengaku kah kita muslim? Apakah kita muslim pada saat tertentu saja? sudahkah kita konsisten dengan apa yang kita percaya?

(cukup klise sih..) Di era globalisasi ini dimana semua orang berpotensi berpikir untuk memakai baju dan sepatu yang sama, memiliki pola pikir yang sama, mendengarkan musik yang sama, berbicara bahasa yang sama dan menganggap semua hal adalah sama, semua budaya adalah sama, semua agama adalah sama dan lain-lain (Kalau gitu apa tujuan perbedaan kalau bukan untuk menghargai satu sama lain). Kita harus punya identitas, kita harus punya prinsip yang kuat, agar kita mampu berpikir kritis dengan dasar-dasar yang kita percaya untuk mem filter segala informasi yang masuk, dan menentukan posisi kita sendiri terhadap suatu permasalahan.

#2 Hidup adalah cobaan.

Kadang kita lupa. Kita selalu mengeluh akan semua hal. Kita selalu mengeluh akan yang kita punya. Kita selalu menginginkan sesuatu, walaupun itu tidak kita butuhkan. Tapi kita tidak bersyukur, itu yang kita lupa. Banyak harta dan tidak punya harta dua duanya adalah cobaan, apakah kita akan berfoya-foya menggunakan harta, atau apakah kita akan menyerah dan menyalahkan keadaan yang tidak adil tanpa ada usaha.

#3 tujuan rumah tangga

Tujuan dari berumah tangga adalah mawadda dan warrahmah: membangun cinta dan kasih secara ikhlas sesuai agama. Suami dan istri memiliki peranan masing-masing dan harus saling menghormati peranan tersebut. Namun semua hal mengenai peranan tersebut dapat didiskusikan selama tujuannya adalah mawadda dan warrahamah, misalkan istri mengusulkan untuk membantu suami dalam mencari nafkah, selama ada komunikasi dan suami juga mengizinkan dan mendapat restu suami, insyaallah berkah. Yang penting keduanya sama-sama senang.

Ibu adalah sekolah kita. Kita banyak belajar dari Ibu. Ibu adalah sosok yang paling mulia bagi kita. Beliau sudah mengandung selama 9 bulan, meresikokan hidupnya sendiri saat melahirkan, dan kemudian menyusui kita, dan mengurus kita hingga kita mampu berdiri sendiri. Rasulullah SAW pun pernah menjawab pertanyaan “siapa yang harus kita hormati” yaitu “ibumu” selama tiga kali, baru kemudian “ayahmu”.

—-

Acara diakhiri dengan sholat dzuhur bersama, silaturahmi dan makan siang bersama. Menu andalan gado-gado, ayam serundeng, telur balado, dll (terimakasih Teh Nia, Teh Dewi, Lia, Nadia, Yelvi, Afifa, Hasya, Nanda, dan teman-teman yang lain) Alhamdulillah kenyang.

Semoga pengajian Januari membawa manfaat dan berkah bagi kita semua. Amin. Kita tunggu Pengajian Februari yang  insyaallah akan di jamu oleh keluarga kang Aul dan Kang Yopi akhir bulan ini. Semoga semuanya lancar-lancar, dan Allah akan memberi umur panjang agar kita dapat bertemu lagi di pengajian mendatang.

NB: Foto-foto diambil oleh kang wisnu. 😀

Wassalamu’alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakaatuh

PPMR

Iklan

Tentang Ivan

After graduating from school of architecture Institut Teknologi Bandung, Indonesia in 2006, he worked for almost three years in an emerging Singaporean young firm, Park associates Architect. He design several residential projects to build with the office and published in some renowned architecture magazines such as D A. Since 2009 he is the founder of ruang magazines, an online architecture magazine that deal with urban and social problems in Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s