Reportase Pengajian Oktober: Menjadi Muslim di Eropa

BismillahhirRahmanirRahim

“Kamu (umat Islam) adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia (karena kamu) menyuruh (berbuat) makruf, dan mencegah kepada yang mungkar, dan beriman kepada Allah…” (QS.Ali Imran (3): 110)

Minggu, 17 Oktober 2010, Alhamdulillah kita telah melaksanakan Pengajian Oktober yang menjadi pengajian pertama di kepengurusan PPMR baru. Alhamdulillah acara dihadiri teman-teman pelajar muslim di Rotterdam, walaupun minggu ujian, namun teman-teman masih menunjukkan antusias dan semangat. Acara dimulai dengan silaturahmi, sholat dzuhur berjamaah dan  makan bersama dengan menu yang sangat luar biasa: sop buntut, sate ayam, serta capcay serta beberapa hidangan lainnya. Kemudian acara dilanjutkan dengan ceramah dan diskusi.

Acara yang dimoderatori oleh Kang Aulia ini, dibuka dengan tilawah oleh Kang Fatih, alhamdulillah mengaji dengan sangat indah, yang membacakan surah Ali Imran 102-110. Dan dilanjutkan dengan sari Tilawah yang dibacakan oleh bang Ivan. Acara kemudian dilanjutkan dengan sambutan serta pemberitahuan program kerja PPMR oleh ketua umum PPMR periode 2010/2011, Iqbal, yang menegaskan tujuan utama PPMR yaitu silaturahmi dan tolabul ilmi; dan dilanjutkan dengan perkenalan teman-teman yang hadir. Acara inti di isi dengan ceramah yang sangat cerdas dan menarik oleh Pak Deden Permana, dengan topik Menjadi Muslim di Eropa.

“Dan Tuhanmu mengilhamkan kepada lebah, “buatlah sarang di gunung-gunung, di pohon-pohon kayu dan di tempat-tempat yang dibikin manusia, kemudian makanlah dari segala (macam) buah-buahan lalu tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu).” Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berpikir” (QS.An Nahl (16): 68-69)

Jika bisa disimpulkan dalam sedikit kata, diskusi hari itu terfokus kepada 3 hal:

Dibalik kesulitan ada kemudahan

Semua hal tidak ada yang mudah, semua hal sulit, tapi bukan berarti tidak bisa dilakukan. Dimana kita jauh dari suara adzan yang biasa memanggil kita di tanah air, jauh dari keluarga dan orang-orang yang kita cintai yang kita tinggalkan di tanah air, dihadapkan kepada sulitnya mencari musholla di Rotterdam, berada di Eropa yang membuat kita culture shock dengan segala macam kebebasan, dapat membuat iman kita melemah, dapat membuat kita jauh dari Allah. Tapi mungkin juga sebaliknya, malah dapat membuat kita semakin dekat dengan-Nya, semakin memperkuat iman kita, kita semakin bersyukur dengan apa yang kita punya, semakin mensyukuri persaudaraan yang ada dan tetap berusaha menghadapi tantangan yang menghadang.

Sesungguhnya dibalik kesulitan ada kemudahan. Mencari tempat sholat di Rotterdam memang sulit, dan waktu sholat juga kadang tidak pas dengan jadwal kuliah atau waktu puasa yang berkepanjangan di musim panas, hingga hampir 18 jam. Namun jangan lah kita menyerah dan mundur sebelum mencoba.

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya...” (QS.Al Baqarah (2): 286)

Sesungguhnya semuanya tidak sesulit yang kita pikirkan. Semua pasti ada jalan keluar dan ada kemudahan-kemudahan yang diberikan oleh Allah.

Islam, etika pergaulan dan ruang publik

Seperti yang kita petik dari surat An Nahl diatas, lebah diperintahkan oleh Allah untuk membuat sarang ditempat-tempat yang baik di jalan Allah, sehingga dari perutnya keluar madu dan menjadi obat bagi berbagai macam penyakit. Seluruh proses lebah, dari mengambil sari makanan di bunga yang membantu proses pembuahan tanaman hingga hasil akhir berupa madu, menjadi bermanfaat. Kita pun harus mencontoh lebah, dalam hal ini ketika kita ingin menghasilkan sesuatu yang baik-baik, maka kita harus menempatkan diri dan bergaul di lingkungan yang baik pula. Sehingga kita akan bertutur kata yang baik serta berperilaku yang baik.

Hal ini terkait dengan beberapa klaim mengenai image Islam di Eropa sebagai agama yang terbelakang, tidak berpendidikan, cenderung kotor dan keras. Memang hal ini cukup terlihat dari beberapa saudara-saudara kita dari timur jauh yang, secara individu, berperilaku kurang baik sehingga membuat generalisasi akan islam. Menjadi tugas kita sebagai intelektual-intelektual dan cendikia-cendikia, yang konon, terpelajar dan terpilih (jika tidak kita tidak akan berada di Rotterdam), untuk menunjukkan identitas Islam yang sebenarnya. Apa yang kita ragukan, kita telah dijamin oleh Allah di surat Ali Imran, bahwa kita adalah sebaik-baiknya umat, karena kita mengingatkan untuk berbuat makruf dan menjauhi hal yang mungkar. Dengan kombinasi intelektual dan agama yang kuat, kita bisa menjadi cendikia-cendikia, ilmuwan-ilmuwan, intelektual-intelektual yang terdepan dalam ilmu pengetahuan dan berbudi pekerti.

Tekstual dan Kontekstual

Hal ini terkait dengan bermacam hal yang berkaitan dengan kendala-kendala yang kita hadapi, baik sebagai kaum minoritas, ataupun kendala dari iklim dan kultur setempat. Sebagai contoh permasalahan sholat, dalam permasalahan waktu sholat yang kadang terlalu singkat dan tidak memungkinkan untuk selalu sholat di tempat yang layak, seperti mushola, dikarenakan dalam perjalanan dan hujan lebat, ataupun waktu dan tempat tidak memungkinkan. Hal ini kemudian bisa kita diskusikan dan putuskan secara bersama, untuk sholat di kendaraan, di taman maupun di tempat-tempat bersih lainnya yang memungkinkan, meskipun kita tidak dalam perjalanan yang jauh. Dengan tidak mengubah apa yang tekstual yang ada di dalam Al-qur’an, tapi kita berusaha melihat kondisi setempat secara kontekstual.

Mengenai halal haram, di tanah air seringkali kita menerima begitu saja semua makanan tanpa mempertimbangkan halal-haram nya. Disini kita harus lebih hati-hati dalam memilih makanan. Islam tidak mempersulit kita dengan mengharamkan banyak jenis makanan, justru yang dihalalkan banyak kecuali beberapa jenis makanan saja. Kita pun harus kontekstual, jika suatu warung menjual makanan vegetarian, pastilah mereka cukup hati-hati dalam memlih minyak yang digunakan serta penggorengan yang digunakan. Kemudian jika di pemotongan daging telah tertulis halal, pastilah daging-dagin tersebut telah disembelih dengan cara islam, sang penjual sudah memiliki tanggung jawab kepada Allah, dengan memberi label halal kepada daging-dagin yang dia jual. Dan jika kita dijamu oleh seseorang dan kita tau beliau adalah orang muslim yang baik, insyaallah jamuan yang disajikan juga halal, tidaklah kita terlalu berlebihan dengan menanyakan apakah daging yang digunakan halal atau tidak, yang mungkin akan menyinggung orang tersebut. Namun, jika kita mengalami keragu-raguan, misalnya tempat tersebut selain menjual ayam juga menjual hidangan yang memakai babi, karena kita khawatir akan proses pengolahannya apakah akan tercampur, maka tinggalkanlah. Sesungguhnya hal ini bukanlah hal yang sulit. Jika sulit untuk memilih makanan, maka marilah kita memasak makanan sendiri dan membawa bekal…😀

Segala kesalahan datang dari penulis, dan kebenaran datangnya dari Allah. Semoga kita selalu diberi petunjuk oleh Allah dan termasuk orang-orang yang beruntung. Amin

—-

Acara kemudian ditutup dengan diskusi dan doa penutup akhir majlis. Yang kemudian diakhiri dengan foto-foto bersama. Semoga pengajian kali ini membawa manfaat bagi kita semua. Semoga pengajian berikutnya menjadi lebih baik lagi. Amin.

Terimakasih kepada tim ibu-ibu PKK: Amy, Lia, Afifa, Bunga, Hasya, Dinda, Yelvi, teh Nia yang penuh semangat berkeringat dan rambut berbau asap demi menghidangkan sop buntut, sate dan capcay yang luar biasa. Terimakasih kepada tim logistik: Fasha, Iqbal, Kang Dudi, Risky, dkk. Terimakasih kepada fotografer kita: Mas Rizal dan Iqbal. Terimakasih kepada teman-teman yang hadir. Semoga bermanfaat dan diberi imbalan oleh Allah. Amin. Sampai jumpa di pengajian berikutnya.

Wassalamu’alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakaatuh

Tentang Ivan

After graduating from school of architecture Institut Teknologi Bandung, Indonesia in 2006, he worked for almost three years in an emerging Singaporean young firm, Park associates Architect. He design several residential projects to build with the office and published in some renowned architecture magazines such as D A. Since 2009 he is the founder of ruang magazines, an online architecture magazine that deal with urban and social problems in Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s