reportase ramah tamah dengan Din Syamsudin

Assalamualaikum wr wb,

Alhamdulillah setelah berdiskusi dengan Gus Mus di Universitas Leiden, rombongan bertandang ke ramah tamah Pak Din Syamsuddin, Ketua umum PP Muhammadiyah, yang diselenggarakan oleh rekan-rekan PPI Leiden. Adapun Pak Din kebetulan mampir ke Belanda selepas menghadiri konferensi antar agama di Barcelona. Suasana dialog cukup intim, bertempat disalah satu unit apartment dengan dilengkapi oleh jamuan yang luar biasa. Terimakasih rekan-rekan yang luar biasa.

Kembali kami ingatkan bahwa rangkuman ini akan berusaha seobjektif mungkin, namun saya sadar bahwa hal  mungkin terhindar dari subjektifitas dalam pemilihan kata, tata bahasa, interpretasi maupun kelalaian penulis sendiri. Dan seperti yang selalu dikatakan oleh seorang sahabat, bahwa kita boleh mengusung kebenaran, namun kita bukanlah kebenaran itu sendiri. Semua yang benar datang dari Allah dan kesalahan datang dari penulis.

Adapun yang dapat kami rangkum dari dialog ini antara lain dapat disingkat menjadi tiga bagian besar: Lemahnya infrastruktur umat, Upaya alternatif media, Revolusi tak beragenda.

 

Lemahnya infrastruktur umat

Permasalahan utama dari umat Islam di Indonesia adalah lemahnya infrastruktur umat, dalam artian pendidikan beragama, dimana pengajaran agama dan moral bukan menjadi suatu hal yang utama pada pendidikan kita. Yang membawa dampak buruk pada kancah politik. Kemudian dimana media kian marak dengan berita-berita sensasional. Hal ini juga dapat membawa pengaruh kepada pembentukan krisis kepercayaan, sehingga berita bencana alam pun sempat dicurigai sebagai berita pengalihan dari maraknya kasus-kasus politik. Jika ini dibiarkan akan menjadi pembusukan kultur bangsa (culture decaying). Perlu diwaspadai juga hal-hal dimana agama menjadi means of justification. Hingga, lucunya, fatwa MUI pun dapat ditandingi oleh fatwa perorangan.

Komentar penulis: agama pun sudah menjadi sesuatu yang instan yang dapat “dibeli” melalui kiai atau ustad tertentu disuatu pengajian, dan karena kesibukan satu dan lain hal kita menerima pendapat, perkataan atau arahan dari kiai atau ustad tanpa dipikir terlebih dahulu. Kita harus juga kritis kepada pernyataan dan pertanyaan dari seseorang, segala informasi yang kita terima, baik dari khotbah, dari internet, bahkan dari tulisan ini sekalipun, harus kembali diresapi dipikirkan kembali dan dikritisi. Karena pada akhirnya agama adalah suatu hal yang personal seseorang dengan Allah langsung. Dan tidak mungkin ketika kita diminta pertanggung jawaban di akhirat kelak atas tindakan kita, kita tidak mungkin akan berkata: “oh, saya diajarkan ustad anu” atau “menurut ustad anu sih begini, jadi saya ikuti.” Toh sang Ustad pun di akhirat sedang sibuk dengan hitungan amal-amalan dan dosanya.

Karena pembentukan moral bangsa yang melemah, banyak pemimpin yang terbentuk pun yang tidak membawa aspirasi rakyat, dan cenderung tidak jujur dan merugikan orang banyak. Sehingga lahirlah sikap antipati dan tidak percaya kepada pemerintah saat ini.

Sebuah hal yang ironis disisi lain, kita tidak lagi kritis dan mencari sebenar-benarnya agama kita, dan disisi lain karena banyak penyelewengan tadi terbentuk krisis kepercayaan ini.

Upaya alternatif media

Perlu adanya alternatif media televisi selain media populer, yakni media televisi dakwah dan pendidikan. Sementara itu izin media televisi di Indonesia terbatas dan sudah dipegang oleh pihak tertentu. Sehingga kembali, berita-berita sensasional mewarnai media massa.

Komentar penulis: kembali perlu adanya pergerakan dari media sosial sebagai alternatif mencari kebenaran disamping media massa populer. Televisi kita sudah tak terhindarkan lagi dibanjiri oleh program-program yang kurang mendidik, mendayu-dayu, drama queen dan bersifat senang-senang, menyebarkan kabar yang belum tentu benar, mencari-cari kesalahan orang lain, mengada-adakan hal yang tidak ada. Pembodohan, atau ini malah pencerdasan?,  ini tidak bisa dibiarkan dan berbahaya membentuk kultur bangsa di masa akan datang. Perlu adanya moral teaching yang menjadi garda depan dalam menyikapi hal ini, keluarga dapat menjadi lapisan pertama untuk melindungi dan memfilter konten acara televisi kepada anggotanya. Mulailah dari diri sendiri dulu, keluarga dan sedikit-sedikit meluas.

Revolusi tak beragenda

Hal ini lalu ditutup oleh kritik akan revolusi kita yang seolah beragenda, setelah reformasi apa? Untuk apa revolusi kita? Apa Indonesia selanjutnya? Siapa yang akan memulai untuk menggerakkan perbaikan moral ini?

Hal ini dapat kita camkan masing-masing. Resapi dan renungkan. Demi anak cucu kita.

Kebenaran datangnya dari Allah dan kesalahan datangnya dari penulis. Kritik dan saran dapat melalui email penulis langsung, bala_digo@yahoo.com

Dirangkum dari hasil Tanya jawab dengan Din Syamsuddin dan diskusi dengan rekan-rekan intelektual lain.

 

Wassalam,

Ivan Nasution

 

 

Iklan

Tentang Ivan

After graduating from school of architecture Institut Teknologi Bandung, Indonesia in 2006, he worked for almost three years in an emerging Singaporean young firm, Park associates Architect. He design several residential projects to build with the office and published in some renowned architecture magazines such as D A. Since 2009 he is the founder of ruang magazines, an online architecture magazine that deal with urban and social problems in Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s