Reportase, dialog dengan Gus Mus

Assalamualaikum wr wb,

Alhamdulillah kemarin rombongan menghadiri kuliah umum dengan KH Mustafa Bisri di universitas leiden. Walaupun kita datang sedikit terlambat, ketika sudah dimulai sesi Tanya jawab, namun kami cukup mendapat banyak ilmu dan tercerahkan.

Berikut rangkuman, serta sedikit penjabaran, dari hasil diskusi dengan Gus Mus, salah seorang cendikia muslim di tanah air. Rangkuman ini akan berusaha seobjektif mungkin, namun saya sadar bahwa hal  mungkin terhindar dari subjektifitas dalam pemilihan kata, tata bahasa, interpretasi maupun kelalaian penulis sendiri. Dan seperti yang selalu dikatakan oleh seorang sahabat, bahwa kita boleh mengusung kebenaran, namun kita bukanlah kebenaran itu sendiri. Semua yang benar datang dari Allah dan kesalahan datang dari penulis.

Secara singkat diskusi berkisar di empat topik besar yang menjadi headline ditanah air baru-baru ini: hiperrealitas media populer vs penawarnya yaitu media sosial; teknologi dan dakwah; aksi kekerasan/ teror dan ukuwah; dualitas berpolitik dan beragama? Dan keempat hal ini juga saling terkait satu sama lain.

Hiperrealitas media populer vs penawarnya yaitu media sosial

Bahwa konflik antar agama maupun inter agama Islam itu sendiri marak di media masa akhir-akhir ini. Perlu dicatat disini dan patut dipikirkan masak-masak bahwa media masa di tanah air, bahkan tidak hanya di tanah air, sudah seperti penyair, melebih-lebihkan sehingga patut dipertanyakan objektifitasnya. Nampaknya media kurang tertarik dengan berita-berita yang tidak sensasional, dan hanya mem-blow up hal-hal yang ingin ditampilkan, dan kadang tidak seluruh cerita ditampilkan.

Komentar penulis: Bahkan tidak jarang media yang memanipulasi berita demi tujuan politis tertentu, atau hanya mengkespos sebagian cerita secara subjektif atau sepotong-sepotong hanya demi menyajikan berita terpanas dan berlomba-lomba menjadi media paling update, dan diputar berulang-ulang, dilebih-lebihkan dan membanjiri seluruh media cetak dan elektronik dan menjadikan sebuah hal yang belum tentu nyata atau masih menjadi opini seolah-olah adalah kenyataan yang terjadi, sebuah hiperrealitas. Sehingga terjadi krisis kepercayaan dibanyak aspek.

Adapun kemarin kita sempat bertukar pikiran dengan seorang kawan dari Den Haag, bahwa ada sebuah instrumen yang dapat digunakan sebagai alternatif dari media populer, yaitu media sosial (social media), yang berupa facebook, twitter, youtube dan kawan-kawannya. Asal niatnya baik, jujur dan yang dilakukan juga baik, ini bisa digunakan sebagai sarana penyebaran berita. Tentunya ini perlu lagi selektif dalam memilih dan don’t take for granted semua informasi yang ada. Walaupun zaman sekarang segalanya serba instan, tapi dalam mencari pengetahuan dan kebenaran jangan instan dong.

Teknologi dan dakwah

Bahwa pemuka agama dan pesantren tidak dapat lagi memungkiri kemajuan teknologi, dan harus terbuka dengan teknologi. Bahkan sebaiknya menggunakan sarana teknologi untuk berdakwah dan menyebarkan kebenaran. Modernisasi dalam hal metoda dan responsif terhadap perkembangan zaman, tetapi aqidah, dan konten ajaran agama tidak.

Komentar penulis: kembali ke media sosial yang dapat digunakan sebagai alternatif media populer, tentunya teknologi terkait erat dengan hal ini, dan hal ini marak dimanfaatkan oleh banyak pemuka agama. Tapi perlu kembali lagi perlu adanya filter konten dan lebih selektif dalam memilih informasi, dan sebaiknya punya mentor dalam mencari dan mendalami masalah agama. Karena anonimitas dari internet dan banyak orang yang memiliki agenda masing-masing untuk memutarbalikkan informasi. Pikir dan renungkan 2-3 kali, dan bacalah dari sumbernya langsung dan konsultasi dengan guru agama atau orang yang lebih berilmu.

Aksi kekerasan/ teror dan ukuwah

Terlepas dari ilusi, benar-tidaknya, dan teori konspirasi dari aksi teror dan kekerasan yang terjadi, perlu dicatat bahwa Islam tidak pernah mengajarkan kekerasan. Terorisme dan kekerasan itu bertentangan dengan Islam. There’s no justification for violence.

Ditekankan juga kalau kita perlu memperkuat ukuwah (persaudaraan), yaitu persaudaraan sesama Islam, persaudaraan sebangsa Indonesia dan persaudaraan atas dasar kemanusiaan. Dengan memperkuat itu seharusnya konflik inter agama dan antar agama dapat terelakkan.

Komentar penulis: mungkin sedikit profokatif. Tapi kita perlu lihat lebih jernih lagi, dengan 85% umat Islam di Indonesia tidak menutup kemungkinan adanya pengendaraan politis dalam aksi-aksi demo di tanah air, baik yang berbau agama ataupun tidak. Dan kita perlu lebih objektif lagi dalam menilai, apakah Islam itu sebatas (maaf) pria berjenggot, berkopiah, berteriak Allahuakbar dan melempar bom molotov. Kita harus lebih tegas, kalaupun harus ditindak adalah aksinya dan orangnya, dan jangan kita men-generalize bahwa islam mengajarkan kekerasan. Dan yang harus dibela adalah agamanya, bukan orangnya. Jadi sebagaimanapun kiai haji atau ustad kondang, kalau dia berbuat salah, ya salah. Dan kita harus mengingatkan. Manusia tak luput dari kesalahan dan dosa.

Mari kita perkuat persaudaraan kita sesama muslim, sesama bangsa Indonesia dan sesame manusia.

Dualitas berpolitik dan beragama?

Ada kritik bahwa adanya individu-individu yang terkenal sangat kuat beragama dan mulai berkecimpung dalam bidang politik. Dan bagaimana tanggapan mengenai kiai berpolitik? Perlu diketahui bahwa berpolitik itu tidak salah dan malah bukan merupakan suatu yang terpisah dari agama. Perlu dicatat bahwa ada tiga tipe berpolitik: 1) politik berkebangsaan, yaitu sebagai contoh fatwa jihad yang dilakukan KH Hasyim Asyari dalam mengusir penjajah pada masa pendudukan Belanda; 2) Politik kerakyatan, yaitu ketika penguasa mulai menekan rakyat dengan ketidakadilaan, seharusnya kiai atau pemuka agama berdiri disamping rakyat bukan malah disamping penguasa; mengenai kedua politik diatas dianjurkan bahwa pemuka agama ikut berpolitik; terakhir 3) Politik kekuasaan atau politik praktis, mengenai hal ini tidak disayangkan jika tidak banyak pemuka agama yang tidak banyak berkecimpung disini.

Komentar penulis: Sempat berdiskusi dengan rekan-rekan didalam forum diskusi, bahwa tidak ada salahnya untuk berpolitik, hanya saja arti politik sendiri perlu digaris bawahi, bukanlah politik yang selalu jadi cerminan kita pada perpolitikan di tanah air yang terkesan kotor dan banyak permainan uang. Kalau kita boleh kembali ke arti kata politik itu sendiri, techne politiké, dari filsafat Yunani,  bahwa politik itu diluar urusan rumah tangga dan ekonomi, techne oikonomiké, adalah sebuah seni dalam menghadapi perbedaan (pendapat, persepsi dan lainnya) dan dengan berpendapat dan bersikap di publik pun kita pada dasarnya sudah berpolitik.

Perlu diingat bahwa Rasulullah selain pemuka agama yang baik juga adalah pemimpin yang baik, politisi yang luar biasa. Jadi tidak salah untuk berpolitik, yang harus dilihat kontennya juga, dan caranya berpolitik, kembali lagi, asal jujur tidak ada salahnya dan membawa hal yang benar, kenapa tidak para pemuka agama berpartisipasi dalam politik. Sepertinya agama dan politik bukanlah sebuah hal yang harus menjadi dualisme dan bertolak belakang.

Terakhir beliau berpesan untuk selalu belajar dan tidak pernah berhenti belajar. Karena jika kita berhenti belajar kita akan menjadi orang yang bodoh. Dan ketika kita menguasai dan memahami banyak bahasa, dalam artian bahasa itelektual, bahasa politik, bahasa religius, bahasa kebudayaan dan lainnya kita mampu memahami satu sama lain dengan lebih baik.

Kebenaran datangnya dari Allah dan kesalahan datangnya dari penulis. Kritik dan saran dapat melalui email penulis langsung, bala_digo@yahoo.com

Dirangkum dari hasil Tanya jawab dengan Gus Mus dan diskusi dengan rekan-rekan intelektual lain.

Wassalam,

Ivan Nasution

Iklan

Tentang Ivan

After graduating from school of architecture Institut Teknologi Bandung, Indonesia in 2006, he worked for almost three years in an emerging Singaporean young firm, Park associates Architect. He design several residential projects to build with the office and published in some renowned architecture magazines such as D A. Since 2009 he is the founder of ruang magazines, an online architecture magazine that deal with urban and social problems in Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s