Ramadhan di Belanda: “Mangan Ora Mangan Waton Ngumpul”

Jauh dari sayup-sayup suara adzan yang menggema disetiap sudut perumahan dan perkampungan di Tanah air yang selalu setia memanggil untuk beribadah. Dimana lagu-lagu nasyid melantun di layar kaca setiap menitnya. Dimana program acara sahur senantiasa menemani dan menghibur dikala bersantap sahur. Dimana komeng, olga, adul, jeng-Kelin, dan kiwil yang terus saja tertawa tanpa juntrungan. Dimana televisi dengan gencar menyiarkan acara-acara “islami”, yang aktor dan aktrisnya tiba-tiba saja terlihat lebih “alim”. Dimana tiba-tiba semua iklan dan infotainment dipenuhi wanita berkerudung dan tertutup. Dimana semua penyanyi tiba-tiba mengeluarkan islami album edition-nya. Dimana banjiran iklan produk yang turut merayakan hype bulan suci dengan cara komersial. Dimana tiket kereta, bus malam, dan kapal laut tiba-tiba susah didapatkan dan harga yang membumbung tinggi. Dimana tirai-tirai menutup kedai makanan yang turut menghormati orang berpuasa. Tanpa baju baru, kue lebaran dan petasan saat malam takbiran. (terlepas dari klise ataupun tidak…)

Ramadhan 1431 H ini adalah Ramadhan kedua saya di Belanda, nun jauh di daerah subtropis, jauh dari orang tua, adik-adik, kakak-kakak, keluarga, kerabat serta teman-teman. Untuk yang kedua kalinya dalam hidup saya, berpuasa sebulan penuh tanpa ditemani suara adzan dari masjid, bedug maghrib yang dipukul bertalu-talu, dan suasana Ramadhan khas Indonesia. Dengan waktu berpuasa yang lebih lama 4 jam dari tanah air, saya menahan nafsu lapar-haus dan nafsu diri dari terbit matahari hingga terbenam. Adalah hal yang tidak mudah bagi orang yang pertama kali datang dari tanah air ke negeri ini untuk berpuasa. Bukan hanya karena waktu yang lebih lama 4 jam (dengan niat yang kuat, tidak akan menjadi masalah), suasana yang kurang kondusif juga cukup menjadi tantangan. Tirai-tirai di kedai makanan tidak lagi ditutup, kios-kios jarang yang buka dikala sahur, adzan-adzan tidak lagi berkumandang di setiap sudut kota untuk selalu mengingatkan kita, orang-orang disekeliling kita mayoritas tidak berpuasa, dan tidak ada yang tahu dan terlalu peduli apakah kita berpuasa atau tidak, acara televisi tidak lagi bernuansa Ramadhan, aktivitas kerja dan kuliah tidak semua memberi keringanan kepada yang berpuasa, cuaca yang sering berubah kadangkala menambah kekesalan, dan tidak sering kita harus memasak dan bersantap sahur sendiri tanpa teman-teman dan keluarga ataupun si bibi yang setia bangun lebih pagi dan memasak untuk kita.

Namun bagi saya, Ramadhan kali ini mungkin tidak terasa terlalu berbeda dengan di Indonesia. Saat ini, saya sudah mempunyai teman-teman yang dekat, yang sudah terasa seperti keluarga untuk berbagi dalam menjalani puasa ini. Kami pun punya cara tersendiri dalam memanfaatkan waktu selama bulan Ramadhan ini. Kami tetap bisa tetap tertawa menikmati Adul, kiwil dan komeng, kami bisa tetap mendapat refleksi religius dari pak Quraish Shihab melalui internet. Kerinduan akan keluarga dapat diatasi dengan teleconference skype yang menjembatani ruang maya dan ruang fisik. Toko oriental pun dapat mensuplai bumbu-bumbu khas Indonesia sehingga lidah pun dapat terjaga kelestariannya. Bahkan lebih dari itu, kami pun jadi piawai dalam memasak makanan serta ta’jil sendiri, kolak pisang, es buah, es selasih, bubur candil, ayam semur, ayam gulai, telor balado, rendang hingga nasi kuning pun menjadi hal yang tidak sulit.

Mangan ora mangan waton ngumpul… Beberapa budayawan Indonesia berhipotesa kalau kebudayaan Indonesia terbentuk dari berkumpulnya manusia-manusia Indonesia dan penyampaian informasi secara vokal melalui mulut ke mulut. Adalah filosofi orang Indonesia dimanapun mereka berada, manusia Indonesia selalu berkumpul dan ehm…. bergosip. Kita menikmati dan menemukan kenikmatan dari berbicara dan berkumpul dengan sesama bangsa. Kita berkumpul untuk alasan apapun, dari belajar agama, berorganisasi, sampai hanya untuk makan-makan. Perkumpulan pelajar muslim Rotterdam (PPMR) dulunya mungkin juga didirikan oleh alasan yang sama. Kami berkumpul bersama untuk belajar tentang agama, melalui pengajian setiap bulan dan Belajar Baca Al Quran (BBAQ) setiap minggu. Kami saling mengajar agama satu sama lain dan berdiskusi secara terbuka dalam masalah agama. Selama Ramadhan ini setiap minggunya kami menyelenggarakan Ngabuburit di Rotterdam yang berisi membaca dan membahas Al-Quran bersama, nonton bareng, sharing ilmu agama, diskusi, buka bersama, sholat berjamaah serta silaturahmi. Walaupun kami bukan orang yang sangat religius tapi kami tak mau kalah dalam belajar agama, sebagai generasi film, kami membuat Ramadhan film festival yang berisi nonton bareng film-film dokumenter bernafas Islam dan ilmu pengetahuan yang bisa menambah dan menyelaraskan ilmu agama serta ilmu dunia. Salah satu film yang telah kami saksikan bersama pada minggu pertama Ramadhan adalah When Moors Ruled Europe. Film ini memaparkan tentang kemajuan umat manusia dalam berbagai bidang antara abad ke-8 sampai abad ke-14. Pada periode itu ilmu kedokteran, ilmu hukum, arsitektur, dan astronomi meningkat pesat meninggalkan jejak-jejak sejarah yang masih bisa kita nikmati sampai saat ini. Salah satu hasil karya periode saat itu adalah istana Al Hambra dan Mesjid Cordoba. Acara menonton bareng ini ditutup dengan diskusi tentang isi film. Sehingga kita bisa menjadi intelektual yang baik, bermoral dan tetap dalam jalur-jalur agama. Walaupun tidak banyak bapak ustad di Rotterdam, beberapa dari kami yang memiliki ilmu agama tak sungkan untuk berbagi ilmu. Kami juga sudah seperti saudara dengan bersama-sama berkeringat dan bau asap untuk menyiapkan hidangan berbuka puasa, bahkan nasi uduk, soto babat, sop buntut, turut menambah daftar menu keahlian memasak kami.

Jika dibandingkan dengan berpuasa di tanah air tercinta, berpuasa di Belanda bukanlah sesuatu yang “luar biasa” dan hambatan. Justru sebaliknya, di sini, kami mendapat saudara-saudari baru dan belajar keahlian dan kemampuan baru. Di sini kami juga belajar agama, bahkan tidak jarang kami menjadi lebih khusyu’. Di sini pula kami menjadi lebih menghargai dan mengerti arti beribadah,  karena di sini kami menjadi minoritas di negeri orang, dibandingkan beribadah di negeri sendiri, sebagai mayoritas.  Karena di manapun kita berada, Allah pasti akan memudahkan hambanya yang berusaha untuk mendekatkan diri kepada-Nya.

Atas naungan PPMR (Persatuan Pelajar Muslim Rotterdam)

Panitia Ngabuburit di Rotterdam: Iqbal & Ivan dan rekan-rekan

(ditulis untuk Jong Indonesia edisi #4, september 2010, http://majalah.ppibelanda.org/)

Iklan

Tentang Ivan

After graduating from school of architecture Institut Teknologi Bandung, Indonesia in 2006, he worked for almost three years in an emerging Singaporean young firm, Park associates Architect. He design several residential projects to build with the office and published in some renowned architecture magazines such as D A. Since 2009 he is the founder of ruang magazines, an online architecture magazine that deal with urban and social problems in Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s