Keberulangan Sejarah dan Doa Nabi Ibrahim As. untuk Negeri yang Baik

Assalamualaikum Wr. Wb.

Dengan perkembangan zaman yang semakin kompleks, cara pandang manusia pun sering terkaburkan dengan hingar bingar cahaya menyilaukan kedigdayaan fenomena kekinian. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, kehidupan materialistik, kebenaran dan kejujuran yang diperjual belikan atas nama dukungan politik berdoktrin demokratisasi, dan lautan perang indoktrinasi media yang membuat kita tenggelam dalam kebingungan akan apa yang benar-benar sejati.

Yang sejati adalah sesuatu yang tidak akan pernah berubah. Saya pribadi senang menyematkan label “fundament” atau “prinsip dasar”. Sedangkan yang datang dan pergi seiring berjalannya waktu kita sebut “trend”. “Trend” selalu menarik untuk diikuti karena ia begitu dinamik, penuh hal-hal baru, dan tidak membosankan. Sedangkan “fundament/ prinsip dasar”adalah hal yang tetap begitu sedari dulu, sehingga kurang menarik untuk diikuti, terkesan kuno dan kolot, namun ialah kesejatian itu sendiri.

Saya pribadi percaya bahwa sejarah selalu berulang. Hanya kemasan dan pelakunya berubah-ubah. Namun esensi ceritanya selalu sama. Mari kita mengingat kisah Nabi Ibrahim a.s. (Abraham dalam narasi Nasrani), seorang lelaki pemberani sejati yang dengan sikap ksatria pemberontaknya menentang kooptasi pemikiran seluruh masyarakat kampungnya disaat itu sehingga iapun harus dibakar hidup-hidup oleh masyarakatnya karena retorik-retorik kebenaran Ibrahim yang tak terbantahkan dan terlalu mengancam doktrin penyembahan berhala yang dipuja-puja massanya saat itu.

Sejarah berulang, dan akan selalu berulang, kepekaan akan esensi dari inti sejarah dan konteks zaman sejarah hanyalah kemasan yang berusaha mengecoh kita, agar kita dapat dengan mudah berkata, “Ah, itukan hanya cerita masa lalu”. Namun satu yang dapat kita akui, hingga kinipun, hingga kapanpun, manusia akan selalu berkutat dengan fenomena “penyembahan berhala”. Sebagai contoh, penyembahan harta dan kehidupan materialistik, serta kekuasaan (layaknya kisah kemakmuran Qarun dan kedigdayaan Firaun (Pharaoh)), penyembahan kepandaian (layaknya kisah pengembangan teknologi mutakhir Bani Israil (yang hingga kini terkenal akan kecerdasannya) dalam menciptakan patung sapi yang dapat berbicara), dan kisah-kisah yang dianggap “usang”, namun akan selalu valid untuk zaman apapun.

Kata penyembahan disini, tidak selalu berarti melakukan gerakan gerakan ritual tanda ketundukan. Bagi saya pribadi, interpretasi pas dari penyembahan adalah pendahuluan prioritas. Bila kita menyembah harta maka segala aktivitas pengejaran harta akan didahulukan sisanya akan mendapat prioritas selanjutnya. Bila kita menyembah ilmu pengetahuan maka segala aktivitas pembelajaran, pencarian ilmu, dan pencapaian keutamaan pengetahuan akan didahulukan sisanya akan dinomor duakan. Bila kita menyembah kekuasaan maka segala aktivitas politis, kompromi-kompromi, dan jual beli dukungan akan didahulukan sisanya akan dinomor duakan. Bila kita menyembah keyakinan maka segala aktivitas akan dikonvergensikan untuk disejalankan demi mendukung teguhnya keyakinan itu sisanya akan diabaikan.

Berpulang pada esensi awal dari tesis yang disampaikan sebelumnya,“Esensi dari pesan perputaran sejarah ada pada nyawa ceritanya bukan pada kemasan zaman yang melekat padanya, kemasan zaman selalu berubah namun esensi pesannya tidak akan pernah berubah, bila kita pikirkan dan renungi dengan jujur.” Oleh karenanya doa Nabi Ibrahim ini akan selalu valid untuk masa apapun karena dalam masa apapun manusia takkan pernah terlepas dari permasalahan “penyembahan berhala”. Doa beliau yang terkenal itu diabadikan dalam Al-Quran sbb:

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ ءَامِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala.” (QS. Ibrahim 35)

Alasannya dari Doa beliau dijelaskan dengan sangat gamblang pada ayat selanjutnya:

رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ فَمَنْ تَبِعَنِي فَإِنَّهُ مِنِّي وَمَنْ عَصَانِي فَإِنَّكَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Ya Tuhanku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan daripada manusia, maka barangsiapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku, dan barangsiapa yang mendurhakai aku, maka sesungguhnya Engkau, Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ibrahim 36)

Terlepas dari paparan yang disampaikan pada paragraf-paragraf diatas, saya rasa tidak ada salahnya bila saya ingin menambahkan terusan Doa dari Nabi Ibrahim as. berkenaan dengan permohonan akan kebaikan negeri: 

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا بَلَدًا ءَامِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ ءَامَنَ مِنْهُمْ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ قَالَ وَمَنْ كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُ قَلِيلًا ثُمَّ أَضْطَرُّهُ إِلَى عَذَابِ النَّارِ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah dan hari kemudian. Allah berfirman: “Dan kepada orang yang kafirpun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali”” (QS. Al-Baqarah 126).

Demikian paparan singkat dari sesama pencari, walaupun saya pribadi tidak memiliki latar belakang pendidikan agama yang kental, namun saya rasa apa yang spesial dari agama agung ini adalah tidak eksklusifnya akses sumber-sumber keilmuannya pada golongan tertentu saja. Sehingga baik alim ulama maupun pemula dapat melakukan eksplorasi bebas dan bertanggung jawab sehingga “Cross check” akan ajarannya selalu terjaga. Dan sebagai seorang terdidik dengan pendidikan formal, saya yakin mekanisme “cross check” ini adalah salah satu metoda yang diciptakan Yang Maha Esa untuk menjaga kemurnian ajarannya dari penyimpangan.

Bila Saudara berkenan, mohon kiranya dua Doa diatas (QS. Ibrahim 35 dan QS. Al-Baqarah 126) dapat disebarluaskan sehingga banyak yang dapat ikut berdoa untuk perbaikan negeri kita. Karena hanya “Ia” yang dapat membuat yang tidak mungkin menjadi mungkin. “La hawla wa la quwwata illa billah”, dan tiada daya dan upaya melainkan dengan perkenan-Nya. Semoga Berguna 🙂

Wassalamualaikum Wr. Wb.
Meditya Wasesa

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s