Islam Agama Fitrah oleh Ust. Hambali Maksum – Den Haag

Kiranya tak diragukan lagi bagi manusia yang berakal bahwa alam semesta dengan segala isinya  diperuntukkan bagi kepentingan hidup manusia di dunia. “Dialalah Allah yang menjadikan  segala yang ada di bumi ini untuk kamu sekalian” (Q.S.Al-Baqarah 29)Namun tak semua manusia menyadari  untuk apa keberadaan manusia itu sendiri  di dunia ini. Pertanyaan mendasar yang ada pada setiap diri manusia inilah yang mendorong manusia  mencari jawabannya diluar dirinya yang menurut islam, keberadaan diri manusia didunia tak lain ialah untuk beribadah, dalam arti mentaati segala aturan yang diciptakan oleh Tuhan Pencipta manusia  yang pasti lebih tahu tentang apa yang baik bagi manusia.


“Dan tidaklah Kami (Allah)  ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah  kepada Tuhan”. (Q.S.Az-Zaariat 56). Itulah fitrah manusia sebagai makhluk yang selalu bertanya, bertanya artinya mencari jawaban yang berarti  mencari kebenaran. Sedangkan kebenaran hakiki datangnya  dari sesuatu diluar dirinya yang ia yakini sebagai sumber kebenaran mutlak yang tak lain ialah Tuhan. Maka dengan kata lain, pada dasarnya manusia adalah makhluk pencari kebenaran yang berarti juga makhluk pencari Tuhan. “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah), tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan  manusia menurut fitrah itu.Tidak ada perobahan pada fitrah Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia  tidak mengetahui”(Q.S.Ar-Rum 30). Ayat tersebut mengandung arti bahwa manusia diciptakan Tuhan dengan memiliki kecenderungan beragama atau sebagai makhluk pencari Tuhan, sedangkan agama yang benar tidak  mungkin ajarannya bertentangan dengan fitrah atau tabiat manusia itu sendiri. Itulah sebab dan buktinya di dunia ini telah bermunculan bemacam-macam agama.



Tapi anehnya, jika semua agama mengajarkan  bahwa Tuhan yang mereka yakini  sebagai satu-satunya sumber kebenaran mutlak, sebagai satu-satunya Yang Maha Kuasa, mengapa tidak satu saja agama di dunia ini. Menurut pandangan islam, hal tersebut membuktikan, meskipun manusia sebagai makhluk pencari Tuhan melalui akalnya, namun akal manusia itu sendiri juga memiliki keterbatasan dan kelemahan dalam pencarian kebenaran.. Maka atas sifat Rahman dan Rahim-Nya pula, selain manusia  diberi akal dengan segala keterbatasannya tadi, Tuhanpun melengkapinya pula dengan yang namanya wahyu  yang disampaikan kepada manusia melalui para Rasul-Nya. Melalui wahyu-Nya, Tuhan memperkenalkan diri-Nya kepada manusia dan dengan akalnya pula seharusnya manusia juga bisa mengenal Tuhannya lewat  pesan-pesan wahyu tadi. “Kami (Allah) tak akan pernah menyiksa suatu kaum (dalam neraka) sebelum  Kami mengutus ditengah-tengah mereka seorang Rasul”(Q.S.Al-Isra’15). Ayat tersebut menegaskan bahwa  akal bukanlah satu-satunya jaminan bagi manusia untuk dapat mengenal Tuhannya jika tanpa bimbingan kesucian hati nurani yang telah ditiupkan Tuhan kedalam setiap jiwa manusia. “Fa alhamahaa  fujuurahaa wataqwaahaa”(Maka Allaah  telah  menanamkan  kedalam jiwa manusia  petunjuk  menuju jalan  kefasikan (keburukan) dan menuju jalan ketaqwaan (kebaikan). (Q.S.As-Syams 8). Terserah manusia sendiri untuk memilihnya dengan segala resikonnya. “Sesungguhnya  amatlah beruntung bagi orang yang sanggup mensucikan  jiwanya dan amatlah rugi bagi orang yang mengotori kesucian jiwanya”(Q.S.Asy-Syams 8-9).


Maka supaya manusia  tidak disesatkan  oleh keterbatasan akalnya dalam mencari Tuhan, Islam menawarkan sebuah metode pencarian  Tuhan  dengan membaca ayat-ayat Allah, baik ayat-ayat Qurániyah ( wahyu Allah ) maupun ayat-ayat Kauniyah  (memperhatikan fenomena alam  yang akan mengantarkan  manusia mengenal Tuhan Pencipta alam). Sekedar contoh,  dalam Al-Qurán Surat Al-Anám 75-79 Tuhan melukiskan proses  pencarian   Tuhan oleh  Nabi Ibrahim as. melalaui ayat-ayat kauniyah yang berujung pada keimanan. “Dan demikianlah Kami perlihatkan  kepada Ibrahim  tanda-tanda kekuasaan Kami yang terdapat di langit dan di bumi, agar ia termasuk orang-orang yang yakin. Ketika malam telah gelap, ia menatap sebuah bintang seraya berkata, inilah Tuhanku. Namun ketika bintang tenggelam iapun berkata, aku tak suka kepada  sesuatu yang lenyap (untuk dipertuhankan).Kemudian ketika ia memperhatikan bulan terbit ia berkata, inilah Tuhanku. Tetapi setelah bulan itu terbenam iapun berkata, sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk padaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat. Kemudian ketika ia menatap mata hari terbit iapun  berkata, inilah Tuhanku.Bukankah ia lebih besar? Tatkala matahari terbenam akhirnya ia berkata: Hai kaumku, sesungguhnya aku telah melepaskan diri  dari apa yang telah kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada Tuhan Pencipta langit dan bumi sebagai agama yang benar dan aku bukanlah  termasuk orang-orang yang  mempersekutukan Tuhan”(Q.S.Al-Anáam 75-79).


Demikianlah proses turunnya hidayah  Tuhan kepada seorang hambanya Nabi Ibrahim as.yang merupakan titik temu antara pencarian  manusia terhadap Tuhan melalui akalnya  dengan petunjuk Tuhan melalui wahyunya. Itulah sebabnya setelah Nabi Ibrahim menemukan Tuhannya melalui pencarian akalnya, iapun menyadari bahwa “Jika sekiranya Tuhan  tidak menunjuki diriku dalam aku mencari Dia, niscaya aku tergolong orang-orang yang sesat”(Q.S.Al-Anáam 77) . Pertanyaannya ialah, jika semua manusia memiliki potensi yang sama untuk dapat mengenal Tuhan, mengapa ada manusia tak beragama? Jawabannya ialah,  boleh jadi manusianya yang telah keluar dari fitrahnya,  bukan agamanya yang tidak sesuai dengan fitrah manusia. Karena selain memiliki akal, manusia juga dilengkapi dengan nafsu, baik nafsu mutmainnah yang mengarah kepada kebaikan (wataqwaahaa) maupun nafsu amaaratun bissu’ yang mengarah kepada keburukan (fujuurahaa). Maka jika semua potensi tersebut difungsikan secara optimal dan proporsional, dipastikan  manusia akan tetap berada dalam keaslian fitrahnya yaitu sebagai makhluk pencari Tuhan. Justru perlu dipertanyakan bagi orang tak beragama, apakah ia tak menemukan Tuhan  setelah berusaha mencarinya atau sengaja menghindar dari tuntutan hati nuraninya yang merindukan kehadiran Tuhan yang tentunya akan membawa konsekwensi bagi dirinya. Sebagai perbandingan, jangankan agama yang berada diluar dirinya yang menuntut akal manusia untuk mencarinya, sedangkan akal sendiri yang berada dalam diri manusia  dan merupakan sesuatu yang paling berharga bagi dirinya,  tidak jarang orang ingin menghindar atau membuangnya dalam arti ingin merasakan kehidupan diluar kendali akal dengan cara memabukkan diri  melalui minuman atau obat-obatan yang merusak fungsi akal yang oleh karenanya agama (islam)  melarangnya.

Bersukurlah kita sebagai hamba Allah yang telah dapat mengfungsikan rahmat Allah berupa akal dan hati nurani  sehingga kita mendapat hidayah berupa iman dan islam dan mudah-mudahan kita dijauhkan dari ancaman Allah dalam firmannya: ”Telah Kami penuhi isi neraka jahannam  kebanyakan dari jin dan manusia, yaitu mereka yang mempunyai hati tapi tak pernah digunakan untuk memikirkan ayat-ayat Allah dan mereka mempunyai mata tak digunakan untuk memperhatikan  tanda-tanda kekuasaan Allah dan mereka mempunyai telinga tak digunakan untuk mendengarkan firman-firman Allah. Mereka laksana binatang bahkan lebih rendah dari itu”(Q.S.Al-A’raf 179). Naúuzubillaahi min zaalik. Sebagai konsekwensi keimanan seseorang terhadap Tuhan, tentunya harus dibuktikan dengan  pengamalan ajaran yang bersumber dari Tuhan yang akan membimbing manusia menuju kesempurnaannya yang dalam ajaran islam dikenal dengan  6 rukun iman dan 5 rukun islam.

Wallaahu a’lam bishshawaab,

Wassalamuálaikum Wr.Wb.

A.Hambali Maksum

nb. penulis aktif beraktifitas sebagai salah satu imam Masjid Al-Hikmah di Den Haag

Iklan

One comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s