Memaafkan dan melupakan

postsecret.blogspot.com - forgive by Foxtongue (Common Creative @ Flickr.Com)

postsecret.blogspot.com – forgive by Foxtongue (Common Creative @ Flickr.Com)

Tulisan Perdana Aa ©auliaiskandarsyah

“Entah mengapa, sampai saat ini saya masih dihantui oleh rasa bersalah. Jika teringat saya sering langsung sakit perut, gelisah dan terkadang bermimpi dikejar oleh mahluk mengerikan yang saya sendiri tidak tahu persis apa. Saya pernah melakukan kesalahan 1 tahun yang lalu, saya pernah berselingkuh dengan mantan pacar saya waktu kuliah dulu. Awalnya saya berhubungan kembali dengan dia karena jejaring facebook kemudian berlanjut ke email pribadi dan sms serta telepon yang biasa saya lakukan pada saat saya dikantor dan tidak bersama suami, namun demiAllah belum pernah sekali saya bertemu dia secara langsung. Jujur, dia tidak lebih ganteng dari suami saya sekarang, tapi dia lebih perhatian dan lebih sabar mendengarkan saya. Sampai pada suatu ketika, entah karena curiga atau ada yang memberitahu suami saya, dia kemudian mengecek account facebook, email dan hp saya secara mendadak. Saya ketahuan… Dia sangat marah dan terjadilah pertengkaran hebat. Saya minta maaf dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi, suami saya memaafkan apa yang telah saya perbuat. Hubungan kita masih berjalan sampai sekarang, tetapi pada saat bertengkar suami saya masih sering mengungkit masalah itu. Setelah satu tahun berlalu, perasaan bersalah ini tetap ada dan masih menghantui saya. Apakah hubungan kami akan baik-baik saja?” demikian penuturan seorang teman.


Melakukan kesalahan adalah sesuatu yang lazim dilakukan oleh seorang manusia, dimana perilaku manusia selalu berada dalam suatu kontinum antara kutub baik dan buruk. Namun yang harus diperhitungkan adalah akibat yang ditimbulkan dari kesalahan yang kita lakukan, bisa berdampak pada diri pribadi ataupun kepada orang lain. Pada kasus teman kita di atas, akibat terburuk dari kesalahan yang dia lakukan adalah hancurnya ikatan pernikahan mereka. Lalu apakah yang membuat dia masih merasa bersalah walaupun dia sudah meminta maaf dan suaminya pun telah memaafkan?

Kesalahan yang memiliki dampak pada orang lain paling tidak akan melibatkan 2 pihak, pertama pihak yang melakukan kesalahan dan kedua adalah pihak yang dirugikan. Bagaimanakah caranya agar hubungan keduanya bisa menjadi baik kembali? Dalam hal ini diperlukan adanya kedewasaan dari kedua belah pihak untuk bisa mentolelir kesalahan yang pernah terjadi serta itikad baik untuk memperbaiki hubungan tersebut. Apabila keduanya beritikad untuk menjaga kelangsungan hubungan maka kata kunci untuk mengembalikan hubungan ini, dari pihak yang melakukan kesalahan adalah minta maaf dan berjanji tidak akan mengulanginyasedangkan dari pihak yang dirugikan adalah memaafkan dan melupakan.

Memang hanya kata yang sederhana, namun pada pelaksanaannya tidak mudah untuk dilakukan. Membahas kasus teman kita di atas, dia telah melakukan langkah yang benar yaitu dengan cara meminta maaf dan berjanji untuk tidak mengulangi kesalahannya. Langkah ini sangat penting karena menunjukkan adanya itikad baik untuk memperbaiki kesalahan dan menjaga kelangsungan hubungannya serta memberikan jaminan pada suaminya bahwa dia tidak akan menghianati suaminya lagi. Seringkali orang hanya meminta maaf saja dan kembali mengulang kesalahan yang sama, sehingga kata maaf tersebut menjadi tidak bermakna.

Dari pihak suaminya, ia memang sudah memaafkan namun nampaknya ia masih belum bisa melupakan karena ia masih sering mengungkit kesalahan istrinya pada saat bertengkar atau marah. Memberikan maaf itu memang lebih gampang diucapkan namun agar proses perbaikan hubungan berjalan dengan baik itu belum cukup, harus ada langkah berikutnya yaitu melupakan apa yang telah terjadi. Inilah yang paling berat. Diibaratkan ada seorang yang menancapkan paku pada sebuah papan kayu, meskipun pakunya telah dicabut kembali tapi lubang bekas paku tersebut masih tetap ada disitu. Jadi kemampuan orang untuk melupakan hal yang telah menyakitkan hatinya sangat tergantung pada seberapa besar dampak emosional yang dirasakan dan seberapa penting masalah tersebut bagi dirinya. Semakin besar dampak yang ditimbulkan dan semakin penting masalah tersebut maka akan semakin sulit untuk melupakannya.

Pada contoh kasus teman kita ini, dapat dikatakan bahwa perselingkuhan istrinya tersebut merupakan hal yang penting bagi suaminya yang bisa jadi mengguncangbasic trust yang telah terbangun sebelumnya. Kedewasaan berpikir dan bertindak kembali dituntut disini, dimana dengan kesungguhan istrinya yang tidak pernah melakukan hal itu kembali sepatutnya menjadi pertimbangannya untuk tidak mengungkit kesalahanya secara terus menerus. Dengan membicarakan kesalahan terus menerus maka kedua pihak akan rugi, pihak suaminya akan terus memelihara emosi negatif dalam dirinya yang makin lama akan semakin menggerogoti kesejateraan hidupnya sehingga bisa melunturkan kepercayaan bahkan kasih sayang yang telah terbina. Dari pihak istrinya pun demikian dengan diungkit kesalahannya secara terus menerus maka ia akan selalu dihantui oleh rasa bersalah yang semakin lama akan semakin besar dan pada suatu saat akan sampai pada titik dimana ia merasa permintaan maafnya tidak akan pernah diterima, maka ia akan memilih untuk menyudahi hubungannya. Jika demikian, maka tinggal menunggu saja kapan ambang toleransi dari keduanya akan terlewati dan ledakan yang dasyat akan terjadi.

Hikmah dari apa yang teman kita alami di atas adalah bagi kita yang pernah berbuat salah baik terhadap pasangan, keluarga ataupun teman segeralah meminta maaf, dan yakinkan mereka dengan kesungguhan kita untuk tidak akan pernah mengulangi perbuatan tersebut. Bagi yang merasa dirugikan oleh orang lain, ketika mereka meminta maaf segeralah berikan maaf dan belajarlah untuk melupakan kesalahan mereka karena itu akan lebih baik untuk kehidupan emosional dan kesejahteraan kita. Tidak mudah, tapi itulah yang harus kita pelajari di sekolah kehidupan ini. ***

Iklan

One comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s