Sholat Jumat, the Worldwide Weekly Muslim Convention

Sholat Jumat

Picture Sholat Jamaah: Row of Worshipers by DMahendra.

Aceh Darussalam of Indonesia once is one of the toughest areas for Dutch-VOC occupation to conquer. It took more than 270 years of failures before Snouck Hurgronje (1857-1936) come to Aceh with an intention to ‘clean’ Aceh from its Islamic root.

No, he didn’t promote Christianity, and he realizes that using military forces is useless.

He simply told the people of Aceh to do Jum’ah prayer in small village’s musalas, not in the Great Mosques. He told the imam to delivered the preaches of Jum’ah prayer in total Arabics (which most Acehnese didn’t understand) instead of Aceh native language mixed with Arabics. And he told Acehnese to remain praying inside the musala all the time, and let the Dutch-VOC to take care of the agricultural plantation business.

Then, Aceh Darussalam was successfully being conquered by the Dutch-VOC occupation in less than 13 years.

What is so important about Jumuah prayer that Hurgronje could ruin the very foundation of naïve Aceh people just by ruining the Jumuah prayer rituals? Apa yang menyebabkan Sholat Jumat menjadi begitu penting dalam segi ibadah dan berimplikasi muamalah (sosial kemasyarakatan)?

Mencoba kembali mengingatkan diri sendiri sekaligus menjawab pertanyaan teman-teman, saya iseng menulis kembali pandangan saya tentang sholat Jumat. Pendapat pribadi sih. Belakangan saya melihat dan mendengar beberapa teman laki-laki yang sudah wajib untuk sholat Jumat, tidak pergi untuk sholat bukan karena ada halangan (uzur) yang syar’i, tetapi karena ada banyak hal penting yang lebih prioritas bagi mereka. Saya paham bahwa meluangkan waktu untuk sholat Jumat di tengah hari bolong; apalagi diantara kesibukan kerja dan skedul yang tidak kompromi; membutuhkan perjuangan dan kerelaan yang besar. Terutama di Belanda, dimana jadwal kuliah selalu berada pas ditengah waktu sholat Jumat dan keberadaan musala atau mesjid tidak sebanyak di Indonesia.

Ayah saya dulu pernah juga bertanya, mengapakah kedudukan hari Jumat dan sholat Jumat ini sebegitu pentingnya dalam ajaran Islam. Saya akhirnya mencari tahu tentang tafsir surat Al Jumuah, dan mendengarkan banyak ceramah tentangnya. Berikut adalah ringkasannya.

Sebelum sampai ke ayat 9 dari surat Al Jumuah ini, ayat-ayat sebelumnya menyatakan bahwa Rasulullah SAW yang buta huruf diturunkan kepada manusia untuk membacakan ayat-ayatNya, mensucikan manusia, dan mengajarkan pengetahuan dan kebijaksanaan. Kemudian Allah SWT memberikan contoh tentang Bani Israil yang sudah diberikan kitab Taurat tetapi tidak mengamalkannya ibarat keledai yang membawa buku yang tebal. Jika orang-orang Yahudi merasa benar akan perbuatannya, maka sudah tentu mereka mengharapkan perjumpaan dengan Alloh tetapi sesungguhnya mereka tidak mengharapkan perjumpaan itu (kematian) karena mereka mengetahui bahwa mereka tidak berbuat yang benar.

Kemudian ayat 9 dan seterusnya barulah Allah SWT menyeru kepada orang muslim untuk menunaikan sholat Jumat. Berikut adalah terjemahan Surat Al Jumuah ayat 9: 11.
“Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (QS. 62:9). {Sahih International translation. 9. O you who believe (Muslims)! When the call is proclaimed for the Salât (prayer) on the day of Friday (Jumu’ah prayer), come to the remembrance of Allâh [Jumu’ah religious talk (Khutbah) and Salât (prayer)] and leave off business (and every other thing), that is better for you if you did but know!}

Mengapa setelah berbicara tentang Bani Israil, tiba-tiba Allah SWT berbicara kepada orang-orang beriman, untuk meninggalkan segala perdagangan dan kegiatan untuk menyambut panggilan Allah? Katanya pada ulama, ini disebabkan karena Alloh ingin memberikan contoh kepada orang-orang beriman supaya tidak mengulangi kesalahan yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi terdahulu. Untuk itu, langkah awal supaya tidak tergelincir pada jalan yang sama adalah dengan menyambut panggilan Alloh untuk sholat Jumat.
As simple as that.

Terdengar sangat mudah tetapi butuh kerelaan dan keridhoan untuk menunaikannya. Dalam suatu hadits, disebutkan..“Hendaklah kaum-kaum itu berhenti dari meninggalkan shalat Jumat. Atau (jika tidak) Allah pasti akan mengunci hari mereka, kemudian mereka pasti menjadi orang-orang yang lalai.” [Muslim].

Dear friends,
menurut Al Quran, 3: 110, muslim, orang-orang Islam, adalah kuntum khairu ummatin ukhrijat linnaas ta’muruuna bil ma’ruufi wa tanhauna ‘anil munkari wa tu’minuuna billahi (”kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah”). Dalam bahasa sehari-hari, kita adalah cream of the crop, the crystals among the glass, diamond among the rocks. Ngng, iPod among MP3 Players.. Toyota Crown among bajaj..

Tetapi apakah sekarang ini kita tampak seperti umat yang terbaik? Nope.

Karena kita baru menjadi umat yang terbaik jika kita dengan ikhlas melaksanakan ajaran kebaikan seperti yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW. Termasuk didalamnya meluangkan waktu 2 jam tiap hari Jumat untuk sholat Jumat.

Pada ritual sholat Jumat, ada banyak keutamaan-keutamaan zahir yang disebutkan oleh banyak ulama.
Tidak akan saya sebutkan satu-satu melainkan saya lampirkan saja karena biasanya orang-orang sudah pada tahu. Bukan hanya insentif pahala dan penghapusan dosa yang kita dapatkan pada hari Jumat, tetapi jika kita perhatikan orang-orang yang benar-benar melaksanakan segala sunnah hari Jumat, kita dapat melihat beberapa manfaat dari ritual Sholat Jumat.

Berikut adalah rincian manfaat hari Jumat berdasarkan pengamatan akhwat-akhwat yang pada pemalu dan muthmainnah tetapi sebenarnya pengamat kritis (apa coba) kegiatan sholat Jumat di Masjid UI Depok. Saya rangkum untuk memberikan pandangan umumnya saja.

Apakah yang berbeda dari hari Jumat dan ritual sholat Jumat?

1. Banyak kajian dan taklim yang bisa didengarkan perempuan setelah sholat Jumat.
2. Banyak pedagang dapat rezeki setelah bubaran sholat Jumat.
3. Banyak deal bisnis yang terjadi dilingkungan luar masjid.
4. Banyak pria-pria bersilaturahim, bertemu teman lama, dan berakhir di makan bareng, dan ini menjadi rezeki buat pemilik restoran.
5. Mendengarkan ceramah tentang akidah dan takwa pada khutbah Jumat.
6. Yang agak mencengangkan, biasanya aksi demonstrasi dan konsentrasi massa terjadi setelah Sholat Jumat. Karena itulah kepolisian Indonesia biasanya sudah paham. Pada hari Jumat, dimana pria muslim bertemu satu dengan lainnya, mereka bisa menggalang opini.

Ada yang mau menambahkan lagi?

Poin nomor 5 ini, menurut para ulama, adalah elemen penting ritual sholat Jumat. Selain memang diwajibkan untuk mendengarkan khutbah Jumat, pada hakikatnya kegiatan yang diperintahkan kepada Rasulullah SAW di surat al Jumuah, yaitu untuk membacakan ayat-ayatnya, mensucikan manusia, dan mengajarkan pengetahuan Al Quran, terjadi pada ritual khutbah Jumat.

Bayangkan, hingga kini, muslim di seluruh penjuru dunia, melakukan kegiatan yang sama persis yang dilakukan oleh Rasulullah SAW 15 abad yang lalu. Beliau sebagai imam akan membacakan khutbah Jumat yang singkat dan berisi, sementara para shahabat duduk mendengarkan beliau, kembali me-recharge niatan dan mengingatkan diri akan ketakwaan pada Allah, mengingat kembali tentang akhirat, tentang tugas manusia sebagai khalifahNya dan tentang surga dan neraka.
Ini adalah salah satu konvensi pararel yang terbesar di dunia, diadakan tiap Jumat waktu tengah hari, dan dihadiri oleh seluruh pria muslim. Tak perlu menulis event invitation di email atau fesbuk, tak perlu ada RSVP. Lalu apa yang biasa terjadi setelah ibadah sholat Jumat selesai? Kawan lama saling bertemu, peluang bisnis baru tercipta, pria-pria muslim datang untuk membicarakan event terkini.
Menggalang opini, hmm?

Konon inilah yang dilihat oleh Snouck Hurgronje pada masyarakat Aceh. Pertalian yang direkatkan setiap habis sholat Jumat. Karena itulah salah satu cara untuk melemahkan pertahanan masyarakat Aceh adalah dengan memisahkan jamaah. Tidak usah datang beramai-ramai ke Masjid Raya, cukuplah ibadah saja di musala setempat, asalkan sudah cukup syarat.
Mengapa?
Tanyakan ke kepolisian di negara-negara Muslim, apakah yang mampu dilakukan oleh konsentrasi massa sebesar itu setelah sholat Jumat? Mengapa pada sekitar kejadian 911, dan serangan ke Afghanistan, polisi di Amerika dan Eropa sangat mengkuatirkan kegiatan sholat Jumat yang diadakan di tempat terbuka? Lalu mengapa materi khutbah para imamnya di sensor dulu?
Karena mereka mengetahui, komunikasi massa macam apa yang dapat dimunculkan oleh para Imam dan dampaknya bagi jamaah Sholat Jumat.

Sedangkan bagi umat Islam, hari Jumat yang banyak diluangkan di Masjid ini menjadi sarana bertukar pikiran, mencari ilmu hingga menyamakan persepsi atas setiap kejadian yang menimpa umat Islam. Sumbangan untuk gempa, aksi protes, undangan pernikahan, hingga pengumuman taklim, semuanya banyak didapat setelah sholat Jumat.

Adapun setelah sholat Jumat, maka kita dipersilahkan kembali untuk melanjutkan kegiatan masing-masing. ”Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. (QS. 62:10)”.

Berbeda sekali dengan anjuran Snouck Hurgronje pada rakyat Aceh seperti yang saya kutip dibawah:

{Kata Christiaan Snouck Hurgronje “Cukuplah kaum Muslimin Aceh utk khusuk beribadat di mushala dan langgar biar kami kaum ‘company’ yg mengurusi segenap perkebunan karet dan teh.”

Ajakan ini sekilas sepertinya ingin memberikan kesempatan kepada kaum Muslimin agar khusuk beribadah tidak berkotor-kotor tangan dengan pertanian dan perkebunan serta bagaimana menjual atau mengekspornya. Padahal hakikatnya ajakan ini racun busuk yang bertolak belakang dgn hakikat khalifat al-Allah fi al-ard perintah isti’mar al-ard atau membangun dan memakmurkan bumi Allah dan seruan fantasyiru fi al-ard atau bertebaran di muka bumi utk menjadi pemain ekonomi yg diperhitungkan. (dari tulisan Muhammad Syafi’i Antonio pada Republika)}

Jadi sudah jelas, buka kembali buku cek dan keluarkan kalkulator dagang kita sehabis sholat Jumat, kencangkan ikat pinggang, giring kembali sapi-sapi itu kepasar dan tekuni lagi index saham Syariah. Tanda tangani kembali deal bisnis itu dan raihlah banyak-banyak keuntungan. Pikul kembali buku kuliah itu dan mari kembali berkarya dengan banyak-banyak mengingat Allah agar kita beruntung. Subhanallah betapa mudahnya mencari keridhoan Allah SWT.

Terakhir, bertebaran di muka bumi sehabis sholat Jumat boleh saja, tetapi pastikan bertebarannya terjadi benar-benar setelah rangkaian ritual sholat Jumat ini penuh.

”Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah: “Apa yang di sisi Allah adalah lebih baik daripada permainan dan perniagaan”, dan Allah sebaik-baik Pemberi rezki”(62:11).

Hal ini terjadi ketika Rasulullah SAW sedang memberikan khutbah Jumah, dan diluar masjid datanglah rombongan pemain tandur sehingga para jamaah berhamburan untuk melihatnya.
Apa yang disisi Allah (tenang menunaikan rangkaian ibadah sholat Jumat) adalah lebih baik dari melihat permainan tandur atau perdagangan, dan karena rezeki kita datang melainkan dari Allah, maka tidak ada salahnya mencari keridhaan Allah SWT dengan ’hanya sekedar’ mematuhi anjuran Nabi untuk shalat Jumat.

Berikut lampiran keutamaan ibadah Sholat Jumat.
1. http://www.youtube.com/watch?v=atkcP6vRH-w

2. (Pertanyaan dari syariah online)

Sholat Jumat hukumnya fardhu ‘ain bagi setiap muslim. (Uwaidhah, Al-Jami’ li Ahkam Al-Shalat, II/170; Ali Raghib, Ahkam Al-Shalah, hlm. 44). Dalilnya firman Allah (QS Al-Jumu’ah : 9).
Namun ada orang-orang yang tidak diwajibkan shalat Jumat, karena ada nash-nash hadis yang mengecualikan ayat di atas. Mereka adalah : anak-anak, budak, perempuan, orang sakit, orang dalam perjalanan (musafir), dan orang-orang yang ada udzur (halangan) misal orang dalam ketakutan (al-kha`if) karena perang dll. (Uwaidhah, Al-Jami’ li Ahkam Al-Shalat, II/170). Nabi SAW bersabda,”Shalat Jum’at adalah hak yang wajib atas setiap muslim dalam suatu jamaah, kecuali empat orang : budak, perempuan, anak-anak, dan orang sakit.” (HR Abu Dawud no 901).
Nabi SAW bersabda,”Tak ada atas musafir kewajiban shalat Jumat.” (HR Daruquthni no 1601). Nabi SAW bersabda,”Barangsiapa mendengar adzan Jumat, lalu tidak ada udzur yang menghalanginya untuk mengikutinya, maka tak ada shalat baginya.” Para sahabat bertanya,”Apakah udzurnya?” Nabi SAW menjawab,”Takut atau sakit.” (HR Al-Hakim no 857; Abu Dawud no 464). Jika mereka meninggalkan shalat Jumat, mereka berdosa karena telah meninggalkan kewajiban yang ditetapkan Allah SWT.
Laksanakan shalat Jumat walaupun hanya oleh dua orang saja. Inilah jumlah minimal peserta shalat Jumat (termasuk imam/khatib) yang rajih (kuat) menurut kami. (Uwaidhah, Al-Jami’ li Ahkam Al-Shalat, II/172). Ini adalah pendapat Imam Ibrahim an-Nakha`i, Imam Ibnu Hazm, dan Imam Asy-Syaukani. (Ibnu Hazm, Al-Muhalla, Juz V/45, Al-Syaukani, Nailul Authar, Juz 5/289). Dalilnya adalah kemutlakan hadis shalat jamaah yang sah dengan minimal dua orang. (HR Bukhari, no 618). Memang ada khilafiyah tentang jumlah minimal peserta shalat Jumat. Imam Ibnu Hajar menjelaskan ada 15 pendapat dalam masalah ini (Fathul Bari, Juz III/349). Namun yang rajih ialah minimal dua orang seperti telah kami kemukakan. Sebab tidak ada dalil yang sahih yang mensyaratkan jumlah orang tertentu dalam shalat Jumat (misalkan 40 orang). Imam Suyuthi berkata,”Tidak ada satupun hadis sahih yang menetapkan jumlah tertentu dalam shalat Jumat.” (Al-Syaukani, Nailul Authar, Juz 5/289).

3. Diriwayatkan dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasululloh shalAllohu ‘alaihi wa sallam mengatakan, yang artinya: “Sebaik-baik hari yang terbit padanya matahari adalah hari Jum’at. Pada hari itu diciptakan Adam ‘alaihissalam, dimasukkan dan dikeluarkan dari surga pada hari itu dan kiamat akan terjadi pada hari Jum’at pula.” (HR: Muslim, Abu Dawud, Annasa’i, Tirmidzi dan dishahihkannya. Lihat Fiqhussunnah oleh Sayyid Sabiq bab Jum’ah).

4. ”Sungguh aku berkeinginan untuk memerintahakan seorang laki-laki shalat bersama dengan manusia kemudian aku membakar rumah-rumah mereka yang tidak melakukan shalat Jum’at.” (HR: Muslim, Ad Darimi dan Al Baihaqi).

5. Dalam suatu riwayat yang bersumber dari Muhammad bin Abdurrahman bin Zahrah, aku mendengar pamanku berkata, Rasululloh shalAllohu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya:
“Barangsiapa mendengan panggilan adzan pada hari Jum’at dan tidak mendatanginya, kemudian mendengar dan tidak mendatanginya, kemudian mendengar dan tidak mendatanginya, kemudian mendengar dan tidak mendatanginya, maka Alloh akan menutup hatinya dan menjadikan hatinya seperti hati orang munafik.” (HR: Al Baihaqi, Abu Ya’la, dishahihkan oleh Ibnu Hajar dan Ibnu Mundzir, hadits ini dihasankan oleh Masyhur Hasan Salman dalam Al Qulul Mubin fii Akhtha’il Mushollin)

6. Disunnnahkan berdo’a karena berdo’a pada hari itu akan dikabulkan terutama pada waktu / saat mustajab (mudahj terkabul do’a). Hal ini terdapat hadits bersumber dari Jabir bin Abdillah. Dari Jabir bin Abdillah dari Rasululloh shalAllohu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau berkata, yang artinya: “Pada hari Jum’at ada dua belas waktu. Tidak ditemukan seorang muslim yang sedang memohon sesuatu kepada Alloh ‘Azza wa jalla kecuali pasti Dia memberinya. Maka carilah waktu itu, yaitu akhir waktu setelah ‘Ashr.” (HR: Abu Dawud, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud, hadits 926 hal. 196)

7. Disunnahkan pula membaca surat Alif Laam Miim tanziil – assajdah dan Hal ata ‘alal insan pada shalat fajar (shubuh). Abu Hurairah radhiAllohu ‘anhu mengatakan, yang artinya: Rasululloh shallAllohu alaihi wasallam membaca surat Alif Laam Miim tanziil assajdah dan Hal ata ‘alal insan pada shalat subuh hari Jum’at. (Muttafaq ‘alaih) Menurut Thabrani dari Ibnu Mas’ud bahwa Nabi terus-menerus membaca kedua surat tersebut. Menurut riwayat dari Ibnu Abbas dan Abi Hurairah radliyAllohu’anhum berkata bahwa Rasululloh shalAllohu ‘alaihi wa sallam membaca Surat Al Jum’ah dan Munafiqun pada hari Jum’at. (HR: Muslim). Demikian pula Nabi membaca surat Sabbihisma dan Al Ghasyiah pada shalat Jum’at. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir surat Al-A’la dan Al Ghasyiah). Allohu Ta’ala A’lam.

8. Abu Hurairah meriwayatkan, Rasulullah bersabda: “Allah telah memalingkan orang-orang sebelum kita untuk menjadikan hari Jumat sebagai hari raya mereka, oleh karena itu hari raya orang Yahudi adalah hari Sabtu, dan hari raya orang Nasrani adalah hari Ahad, kemudian Allah memberikan bimbingan kepada kita untuk menjadikan hari Jumat sebagai hari raya, sehingga Allah menjadikan hari raya secara berurutan, yaitu hari Jumat, Sabtu, dan Ahad. Dan di hari kiamat mereka pun akan mengikuti kita seperti urutan tersebut, walaupun di dunia kita adalah penghuni yang terakhir, namun di hari kiamat nanti kita adalah urutan terdepan yang akan diputuskan perkaranya sebelum..

9. Masih banyak keistimewan hari Jumat. Di antaranya adalah; Dalam “al-Musnad” dari hadits Abu Lubabah bin Abdul Munzir, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, beliau bersabda: “Penghulunya hari adalah hari Jumat, ia adalah hari yang paling utama di sisi Allah Subhanahu Wata’ala, lebih agung di sisi Allah Subhanahu Wata’ala dari pada hari Idul Fitri dan Idul Adha. Pada hari Jumat tersebut terdapat lima keistimewaan: Hari itu, bapak semua umat manusia, Nabi Adam ‘Alaihissalam diciptakan, diturunkan ke dunia, dan wafat. Hari kiamat tak akan terjadi kecuali hari Jum’at.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s