Lingkungan hidup dalam perspektif islam

Bismillahirrahmanirrahim.., Assalamualaikum wr.wb.

Tulisan saya ini, mungkin berkaitan dengan tulisan yang pernah ditulis oleh Annisa Melissa Manurung mengenai keajaiban sains di dalam Al-Qur’an. Dari tulisannya kita bisa menangkap bahwa Al-Qur’an begitu jelas menyiratkan bukti-bukti yang berkaitan dengan sains dan apapun yang terjadi di dalam kehidupan kita ini. Sebelumnya telah dibahas mengenai bukti mengenai tahap perkembangan embrio, mengenai otak dan tindakan manusia. Dari hal tersebut, saya ingin mencoba menggali ayat-ayat yang berkaitan dengan aspek lingkungan hidup, dimana selama beberapa tahun saya banyak menggali bidang tersebut.

Mungkin kita sering berpikir dan membandingkan mengapa kualitas lingkungan hidup di negara-negara asing (dan salah satunya Belanda, dimana kita tinggal saat ini) seringkali terasa lebih baik dibandingkan dengan tingkat kebersihan di negara yang mayoritas penduduknya adalah muslim, misalnya Indonesia. Krisis lingkungan seperti polusi udara, degradasi lahan, defisitnya sumber daya air dan kualitasnya yang buruk, serta berbagai masalah lingkungan lainnya seakan-akan menjadi hal yang sudah biasa terjadi. Kesadaran akan lingkungan hidup yang berkualitas seolah-olah belum menjadi “topik utama” dalam pembicaraan umat islam. Selain itu masih sedikit orang yang begitu peduli akan pentingnya lingkungan hidup yang baik sehingga menciptakan kesadaran untuk memelihara sumber daya alam dengan semestinya.

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebaian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) (QS. Ar-Ruum (30): 41).”

Sikap antroposentris (sikap yang mementingkan diri manusia sendiri) adalah salah satu faktor yang menyebabkan berbagai krisis lingkungan yang terjadi saat ini. Pandangan ini menempatkan manusia menjadi pusatnya sehingga dapat mengeskploitasi alam seenaknya tanpa memikirkan apa dampaknya di masa yang akan datang. Teknologi yang ada juga ternyata tidak dapat mengatasi masalah bila tidak didasari oleh perbaikan-perbaikan mendasar pada manusia itu sendiri. Hidup hedonis dan konsumtif begitu jelas terlihat pada masa sekarang ini, dan inilah asal mula eksploitasi sumber daya alam berlebihan akan terjadi. Padahal islam dan Nabi Muhammad sendiri mencontohkan untuk hidup sederhana dan hemat dalam menggunakan segala sesuatu, salah satunya sumber daya alam. Di lain sisi, keterpisahan antara sains dan islam menyebabkan menurunnya nilai-nilai norma moral dan etika khususnya terhadap lingkungan.

Dari hal ini, tersirat sebuah pertanyaan apakah dalam islam sebenarnya ada dasar-dasar yang membahas dan mengatur mengenai masalah-masalah lingkungan hidup, atau apakah islam memiliki komitmen terhadap tatanan lingkungan hidup?

Segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah SWT pastilah mempunyai alasan dan tujuan, dan semua itu bukanlah hal yang sia-sia. Manusia sendiri merupakan makhlukNya yang paling sempurna, berakal, dan bertanggung jawab. Disinilah terlihat bahwa manusia mempunyai peran dan posisi yang penting dalam proses pemeliharaan dan penyelamatan alam dan lingkungan. Dan islam sebagai pedoman dalam membangun sikap yang baik dan realistis demi terciptanya suatu harmoni.

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam” (Q.S. Al-Anbiya (19): 40).

Dalam Al-Qur’an banyak perintah-perintah dan larangan yang tertulis dengan jelas, tetapi juga banyak yang sifatnya tersirat atau membutuhkan pemikiran dan perenungan untuk mentranslasikan maknanya, begitu pula dengan tema alam dan lingkungan, beberapa ayat di dalam Al-Qur’an “berbicara” mengenai bagaimana islam mengajarkan kita untuk selalu menjaga lingkungan, diantaranya pada ayat-ayat di bawah ini:

Air

Air selalu kita gunakan untuk minum (sumber kehidupan), memasak dan mensucikan diri dari berbagai kotoran dan najis pada saat berwudlu, karena itu, memelihara sama seperti menjaga kehidupan itu sendiri.

“Dan daripada air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup.” (QS. Al-Anbiya (21): 30);

Ayat-ayat senada terdapat pula dalam Al-Furqan (25): 49-50.

“Dan Allah telah menciptkan hewan dari air, maka dari (sebagian jenis hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dengan dua kaki, sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya, sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. An-Nuur (24): 45).

“Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum? Kamukah yang menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkan? Kalau kami kehendaki niscaya Kami jadikan dia asin, maka mengapakah kamu tidak bersyukur?” (QS. Al-Waqiah (56): 68-70).

“Dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu..”(QS. Al-Anfal (8):11).

Tanah

“Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang Maha Besar) bagi mereka adalah bumi yang mati (tandus). Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan darinya biji-bijian, maka dari (biji-bijian) itu mereka makan. Dan kami jadikan padanya di bumi itu kebun-kebun kurma dan anggur dan kami pancarkan padanya beberapa mata air agar mereka dapat makan dari buahnya, dan dari hasil usaha tangan mereka. Maka mengapa mereka tidak bersyukur? (QS. Yasin (36): 33-35).

“Dan Kami jadikan padanya gunung-gunung yang tinggi, dan Kami beri minum kamu dengan air yang tawar.” (QS. Ar-Mursalaat (77): 27).

 “Dan tanah yang baik, tanam-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah. Dan tanah yang buruk, tanamannya tidak tumbuh melainkan dalam keadaan merana. Demikianlah Kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang bersyukur.” (QS. Al-A’raf (7): 58).

Perlindungan hewan dan tumbuhan

“Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat-umat (juga) seperti kamu.” (QS. Al-An’am: 38)

Selain itu, beberapa surat dalam Al-Qur’an yang membahas tentang tumbuhan dan binatang secara khusus diantaranya dalah surat At-Tiin (Buah Tin), Al-An’am (binatang ternak), An-Nahl (lebah), An-Naml (semut), Al-Ankabut (laba-laba), Al-fiil (gajah).

“Dan apakah mereka tidak memperhatikan bumi, betapa banyak Kami tumbuhkan di bumi itu berbagai macam (tumbuh-tumbuhan) yang baik? Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda (kebesaran Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman.”(QS. Asy-Syu’ara (26): 7-8).

Energi dan sumber daya tak terbarukan

Energi yang menjadi masalah saat ini karena keterbatasannya, serta sumber daya yang sudah mulai menipis padahal membutuhkan waktu berjuta tahun dalam pembentukannya, karena itu pemanfaatan sebaik-baiknya dan tidak menghamburkannya adalah contoh perilaku yang islami.  Dalam beberapa ayat berikut dinyatakan:

“Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan.” (QS. Ar-Rum (30):8).

“Dan kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia.” (QS. Al-Hadid (57):25).

“Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-Araf (7):31).

Berbagai pengetahuan mengenai kaitan antara lingkungan hidup dan islam dalam tulisan ini, sebagian besar saya dapatkan dari sebuah buku berjudul “Perlindungan Lingkungan: Sebuah Perspektif dan Spiritualitas Islam” karangan Sunardi, Ph.D. Buku ini terasa sangat bermanfaat terutama untuk membentuk cara pandang kita, umat islam, mengenai lingkungan hidup. Dikutip dari buku ini juga, bahwa manusia sebagai masyarakat dan negara memiliki posisi penting untuk membangun kepedulian lingkungan hidup. Berawal dari kesadaran manusia melakukan kebaikan dan mencegah kemungkaran dan kerusakan akan berdampak besar untuk membangun masyarakat dan negara yang ramah lingkungan, dan menciptakan sebuah dunia yang sadar lingkungan, seperti diilustrasikan di bawah ini:

Semoga kita dapat menjadi umatNya yang selalu bersyukur atas apa yang telah diberikan dan dititipkan ini, sehingga dapat kita manfaatkan dan jaga sebaik-baiknya..amin…

“Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi, setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah padaNya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Al-A’raf (7): 56).

 Wallahualam bisahwab, Wassalamualaikum wr.wb.

15072011

Annisa Joviani Astari

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: