Keajaiban Sains di Dalam Al-Qur’an

Bismillahirrahmanirrahim.

Sebagai pelajar Muslim di negeri Barat, setiap dari kita pasti pernah mengalami situasi ini: ditanyai mengenai Islam oleh kawan non-muslim. Maaf, ralat, bukan hanya kawan non-muslim, tapi juga kawan non-muslim yang atheis, kritis dan serba memandang segalanya menggunakan logika semata. Seringkali saya bingung menanggapi pertanyaan-pertanyaan mereka – angle apa yang harus saya gunakan? Pengetahuan agama saya yang masih dangkal pun menjadi hambatan. Ternyata bersekolah 9 tahun di Al-Azhar belum cukup, demikian yang disadari oleh pemikiran naïf saya di umur 17 tahun. Pada akhirnya, saya seringkali hanya mengais-ngais ilmu yang masih samar-samar diingat dari 9 tahun tersebut dalam menjawab pertanyaan teman-teman saya.

Sampai suatu hari, ada yang bertanya, apa bukti bahwa Al-Qur’an itu benar?

Wah. Hati saya tergelitik – bukan karena tersinggung, tapi karena saya pernah memiliki pertanyaan yang sama. Pertanyaan itu muncul di masa saya mempertanyakan semuanya, dan tidak puas dengan jawaban “karena agama bilang begitu”. Saya seringkali mendengar bahwa Al-Qur’an menyebutkan bagaimana Allah menjamin terjaganya keaslian Al-Qur’an dari zaman ke zaman. Lha, pikir saya, tentu saja Al-Qur’an bilang begitu, tapi apakah itu cukup bukti? Apa hard facts yang membuktikan bahwa Al-Qur’an memang adalah kata-kata dari Tuhan? Namun, karena terlanjur diburu rasa malu karena sudah mempertanyakan Al-Qur’an, saya akhirnya tidak pernah menelaah pertanyaan ini lebih lanjut.

Kali ini, karena didorong oleh keinginan memberikan jawaban yang memuaskan kepada teman, saya telusuri kembali pertanyaan lama yang dulu pernah mengusik saya itu – dengan Google, tentunya. Dan ketika saya membuka artikel pertama yang saya temukan…Subhanallah. Saya termangu-mangu. Ternyata, Al-Qur’an begitu sarat dengan bukti-bukti bahwa sa memang adalah kata-kata dari Sang Pencipta, bahkan bukti-bukti yang bisa diterima oleh perspektif atheis sekali pun. Disini, saya akan berupaya merangkum beberapa bukti yang saya temukan…

Al-Qur’an mengenai tahapan perkembangan embrio

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dari tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan alaqah (lintah, benda yang menggantung, atau segumpal darah), lalu segumpal darah itu Kami jadikan mudghah (benda yang dikunyah, segumpal daging)…”

Al-Mu’minuun: 12-14

Walaupun kata alaqah langsung diterjemahkan sebagai “segumpal darah” di Al-Qur’an terjemahan Indonesia, kata Arab ini sebenarnya memiliki 3 arti: lintah, benda yang menggantung, dan segumpal darah. Ternyata, bila embrio yang berada pada tahap alaqah dibandingkan dengan lintah, keduanya memiliki bentuk yang serupa. Selain itu, embrio pada tahap ini juga mendapatkan nutrisi dari darah Ibu, sama dengan lintah yang hidup dengan menghisap darah makhluk lain.

Perbandingan bentuk embrio pada fase alaqah dan bentuk lintah

Arti kedua dari kata alaqah, benda yang menggantung atau suspended, juga sesuai dengan apa yang kita ketahui melalui ilmu kedokteran modern. Pada tahap ini, posisi embrio adalah seperti benda yang menggantung kepada dinding rahim. Arti ketiga dari kata alaqah adalah segumpal darah. Pada fase ini, embrio nampak seperti segumpal darah, karena banyaknya pembuluh darah yang ada pada embrio. Juga, darah di embrio tidak bersirkulasi sampai minggu ketiga. Oleh karena itu, embrio semakin nampak seperti segumpal darah.

Embrio pada fase alaqah memiliki banyak pembuluh darah

Jadi, ketiga arti dari kata alaqah terbukti sesuai dengan deskripsi embrio yang kita ketahui sekarang. Tanpa peralatan canggih yang kita miliki sekarang, seperti mikroskop, tidak mungkin Nabi Muhammad saw (pbuh) dapat mengetahui semua ini 14 abad yang lalu.

Fase pertumbuhan embrio yang berikutnya adalah fase mudghah, yang dalam bahasa Arab berarti “benda yang dikunyah”. Apabila kita mengulum permen karet, lalu mengunyah permen tersebut sehingga gigi kita meninggalkan bekas, maka permen karet tersebut akan nampak seperti embrio pada fase mudghah, dimana bekas gigi kita akan menyerupai somites atau semacam tulang belakang dari sang embrio.

Embrio pada fase mudghah menyerupai “benda yang dikunyah”

Deskripsi perkembangan embrio di Al-Qur’an dan hadis begitu tepat dan komprehensif sehingga, pada suatu konferensi anatomi manusia di tahun 1980-an, beberapa peneliti anatomi terkemuka dunia menyarankan ilmu kedokteran modern untuk menggunakan deskripsi tersebut untuk membuat klasifikasi baru fase-fase perkembangan embrio yang lebih baik. Peneliti-peneliti tersebut setuju bahwa, karena pertumbuhan embrio manusia baru diketahui secara mendetail di akhir abad ke-20, Al-Qur’an pastilah berasal dari Tuhan, dan bukan karangan manusia semata.

Al-Qur’an mengenai otak dan berbohong

Salah satu surah yang harus saya hafalkan di SD dulu, dalam rangka bulan puasa, adalah surah Al-Alaq. Saya ingat surah tersebut karena di dalamnya diceritakan mengenai seorang pembohong, yang akan ditarik ubun-ubunnya ke dalam neraka bila dia tidak berhenti berdusta. Saya sudah lupa bohong apa yang saya lakukan – mungkin mengenai PR atau malas tidur siang – tapi saya ingat saya takut setengah mati membaca surat tersebut. Tidak disangka, ayat yang kelihatannya hanya mengenai “kisah Nabi-Nabi jaman dulu”, ternyata mengandung pengetahuan yang begitu sarat.

“Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian), niscaya Kami tarik ubun-ubunnya (bagian depan kepala), yaitu ubun-ubun (bagian depan kepala) yang mendustakan lagi durhaka!”

Al-Alaq: 15 – 16

Kata Arab yang diterjemahkan menjadi “ubun-ubun” disini adalah naseyah, yang juga berarti “bagian depan kepala”. Mengapa Al-Qur’an mendeskripsikan bagian depan kepala sebagai sesuatu yang berdusta dan durhaka? Mengapa tidak manusianya yang disebut berdusta dan durhaka?

Apakah hubungan bagian depan kepala dengan tindakan berbohong dan berdosa?

Ilmu kedokteran modern mengajarkan kita bahwa bagian depan cerebrum digunakan dalam kegiatan membuat rencana, menginisiasi suatu tindakan dan memotivasi kita. Jadi, bagian ini berfungsi untuk memulai suatu tindakan, baik tindakan yang baik maupun yang buruk, termasuk berbohong. Juga, karena bagian ini berhubungan dengan motivasi, maka bagian ini juga dianggap sebagai titik awal tindakan agresi. Karena itu, tepatlah bila Al-Qur’an menyebut bagian depan kepala sebagai bagian dari diri kita yang mampu memulai tindakan durhaka. Lagi-lagi, ilmu mengenai cerebrum ini baru kita ketahui kurang dari seabad yang lalu, yang mengafirmasikan kebenaran Al-Qur’an sebagai kata-kata Tuhan.

Masih banyak lagi bukti serupa di dalam Al-Quran, mulai dari mengenai gunung dan laut sampai mengenai asal mula alam semesta. Semakin banyak saya mencari topik serupa di internet, semakin banyak bukti yang saya dapatkan, dan semakin banyak cerita yang saya baca mengenai peneliti yang mengakui kebenaran Al-Qur’an setelah mempelajarinya. Barulah saya benar-benar paham mengapa Islam sangat menekankan perlunya menuntut ilmu – semakin banyak ilmu kita, semakin dalam pemahaman kita mengenai dunia, semakin dalam pula pemahaman kita mengenai agama, dan semakin besar rasa kagum kita kepada Allah dan segala kebesaran-Nya.

Kalau dipikir-pikir lagi, tidak benar dong, argumen populer bahwa sains dan agama tidak bisa berjalan beriringan, dan bahwa orang-orang yang percaya kepada sains tidak bisa percaya kepada agama?

Semoga kita senantiasa menjadi orang-orang yang haus mencari ilmu…

Wassalam.

Gambar-gambar yang digunakan diambil dari buku A Brief Illustrated Guide to Understanding Islam.

2 thoughts on “Keajaiban Sains di Dalam Al-Qur’an

  1. Andre K mengatakan:

    Subhanallah, mudah2an dapat membantu memperkuat iman kita semua

  2. santri hasan mengatakan:

    subhanallah… nice info ya Gan… semoga Allah SWT mengampuni semua dosa-dosa yang telah lakukan semasa hidup…. aminnnn

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: